KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Setiap akhir Juli, saat sebagian orang mulai menghias rumah menyambut Hari Kemerdekaan, Ikin Sodikin (60) kembali membentangkan puluhan bendera Merah Putih di pinggir Jalan Merdeka, Kota Pekalongan. Pemandangan itu nyaris tak pernah berubah selama puluhan tahun. Yang berubah justru pembelinya.
Pria asal Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, itu mengaku sudah berjualan bendera sejak 1975. Saat itu usianya masih belia. Ia memulai usahanya di Tegal dengan menjadi pedagang musiman yang mengambil barang dari juragan.
“Sudah dari tahun 1975 mulai jualan. Waktu itu masih kecil,” ungkap Ikin kepada kanalplus.id saat ditemui di lapaknya, Sabtu (25/7/2026).
Dari Tegal, ia kemudian berpindah ke Kota Pekalongan. Setelah sempat berjualan di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan daerah Krapyak, sejak 1994 ia menetap membuka lapak di emperan Jalan Merdeka hingga sekarang.
Selama lebih dari lima dekade, hidup Ikin nyaris tak pernah jauh dari bendera Merah Putih. Jika dulu ia hanya menjual bendera, kini lapaknya dipenuhi umbul-umbul, rumbai-rumbai, hiasan merah putih hingga berbagai aksesori kemerdekaan. Namun, bertambahnya jenis dagangan ternyata tidak membuat penghasilannya ikut meningkat.
Pada awal merintis usaha, Ikin hanya mengambil bendera dari bosnya di Jawa Barat. Setelah pindah ke Kota Pekalongan, ia mulai membuat sendiri seluruh bendera dan aksesoris dagangannya. Ia membeli kain, memotong, menjahit lalu menjualnya sendiri dengan modal pinjaman saudara
Menurutnya, membuat sendiri jauh lebih menguntungkan karena setiap potongan kain, sekecil apa pun, masih bisa dimanfaatkan menjadi produk lain untuk menambah penghasilan.
“Kalau beli bahan sendiri, sisa kain kecil juga masih bisa dimanfaatkan. Jadi tidak ada yang terbuang,” ujarnya.
Meski demikian, modal yang digunakan bukan berasal dari tabungannya. Setiap menjelang Agustus, ia harus meminjam uang kepada saudara untuk membeli bahan baku. Utang itu baru bisa dilunasi setelah musim penjualan selesai.
“Modalnya pinjam saudara. Nanti habis Agustusan baru dibayar,” katanya.
Ikin masih mengingat jelas masa ketika berjualan bendera menjadi usaha yang sangat menjanjikan. Ia mengaku peringatan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia pada 1995 sebagai masa paling membahagiakan sepanjang hidupnya berdagang.
“Tahun emas itu tanggal 10 Agustus sudah pulang. Barang sudah habis semua,” kenangnya sambil tersenyum.
Kala itu masyarakat baru mulai memasang bendera sekitar pertengahan Agustus. Permintaan melonjak tajam hingga dagangannya ludes jauh sebelum Hari Kemerdekaan.
Bahkan saat masih berjualan di Tegal, ia mampu menjual sekitar 10 kodi bendera ukuran 60 x 90 sentimeter hanya dalam satu musim. Waktu itu harga satu bendera hanya sekitar Rp5.000.
“Dulu uang segitu sudah besar,” ucapnya.
Cerita itu kini tinggal kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, menurut Ikin, penjualan terus merosot. Ia menyebut perubahan perilaku masyarakat yang beralih berbelanja secara online menjadi penyebab terbesar.
“Yang paling parah tiga tahun ke belakang. Semua macet,” katanya.
Ia mengaku tidak memahami cara berjualan melalui internet. Karena itu, ia tetap mengandalkan lapak sederhana di pinggir jalan seperti yang dilakukannya puluhan tahun lalu.
Saat ditanya mengapa tidak mencoba ikut berjualan secara online, jawabannya singkat.
“Enggak bisa,” ucapnya.
Musim ini pun belum memberi harapan. Ia mulai membuka lapak sejak 23 Juli 2026 lalu. Namun hingga hari ketiga, hasil penjualannya hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari.
“Belum ada untung. Buat makan saja,” katanya pelan.
Tidak ada lagi kepastian seperti dulu. Jika dahulu ia bisa memperkirakan kapan pembeli akan berdatangan, sekarang semuanya sulit ditebak.
“Sekarang enggak bisa diprediksi,” tukasnya.
Lesunya penjualan membuat bendera yang tidak terjual harus disimpan kembali di kamar kosnya. Tahun lalu, masih ada beberapa karung dagangan yang tersisa dan kini kembali dipajang di lapak tahun ini.
“Kalau dulu tanggal 14 sudah habis. Sekarang belum pernah habis lagi sejak ada online,” terangnya.
Meski harga bahan baku terus naik, ia juga kesulitan menaikkan harga jual. Bendera ukuran 60 x 90 sentimeter masih dijual sekitar Rp25 ribu. Ukuran 120 sentimeter dijual Rp30 ribu hingga Rp35 ribu, sedangkan ukuran terbesar untuk sekolah dijual Rp60 ribu.
“Harga susah dinaikkan, padahal bahan naik,” tuturnya getir.
Di luar musim Agustus, Ikin kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Usianya yang menginjak 60 tahun membuat kesehatannya menurun. Penyakit di bagian kaki membuatnya tak lagi sanggup bekerja seperti dulu.
Sebelum hanya mengandalkan jualan bendera, ia pernah berjualan helm hingga menjadi kuli bangunan. Kini, usaha musiman menjelang Hari Kemerdekaan menjadi satu-satunya pekerjaan yang masih mampu ia jalani.
Anaknya sesekali datang membantu menjaga lapak ketika pembeli mulai berdatangan karena ia sudah tidak sanggup berdiri terlalu lama. Meski hasilnya tak lagi seperti dulu, Ikin memilih tetap bertahan.
Baginya, berjualan bendera bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi pekerjaan yang telah menemani hidupnya sejak remaja. Setelah 51 tahun menggelar lapak Merah Putih di pinggir jalan, ia hanya berharap musim kemerdekaan tahun ini membawa sedikit lebih banyak pembeli.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













