BATANG, KANALPLUS.ID – Sebanyak 160 siswa dari delapan SMA dan SMK di Kabupaten Batang resmi menyelesaikan Program Resiliensi Industri Masa Depan atau PRIMA di KEK Industropolis Batang, Jumat (3/7/2026).
Mereka menjadi kelompok awal pelajar yang digembleng melalui pelatihan fisik, kedisiplinan, pembentukan karakter serta pengenalan etos kerja industri selama lima hari, sejak 29 Juni hingga 3 Juli 2026.
Di tengah jumlah siswa SMK di Kabupaten Batang yang diperkirakan mencapai sekitar 15 ribu orang, peserta PRIMA disebut sebagai pelajar terpilih yang diharapkan dapat menjadi contoh di sekolah masing-masing.
Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang dibacakan pada acara pelepasan peserta, program tersebut dinilai menjadi bentuk keterlibatan langsung dunia usaha dan industri dalam menyiapkan generasi muda Batang.
“Yang dididik kali ini hanya 160 dari delapan SMK. Siswa SMK di Kabupaten Batang kurang lebih ada 15 ribu. Artinya masih ada sekitar 14 ribu siswa lainnya yang perlu mendapatkan penguatan seperti ini,” bunyi sambutan tersebut, Jumat (3/7/2026).
Program PRIMA tidak hanya membekali siswa dengan pemahaman tentang dunia kerja, tetapi juga diarahkan untuk menjawab keluhan dunia usaha dan industri terhadap kesiapan tenaga kerja muda.
Selama ini, dunia industri kerap menyoroti persoalan kedisiplinan, mental yang belum kuat, cepat bosan, sulit beradaptasi, hingga rendahnya motivasi untuk berkembang pada sebagian pekerja baru.
“Sekolah mungkin sudah cukup membekali kompetensi dan keahlian. Namun yang ingin dikuatkan melalui program ini adalah karakter kepekerjaan, etika, perilaku, dan kemampuan beradaptasi dengan tuntutan dunia usaha dan industri,” lanjut sambutan tersebut.
Manfaat pelatihan lima hari itu disebut mulai terlihat dari perubahan fisik dan kedisiplinan peserta. Saat pembukaan program, sejumlah siswa dilaporkan sempat kelelahan ketika mengikuti upacara pagi di bawah cuaca panas.
Namun pada kegiatan penutupan, para peserta mampu berdiri mengikuti rangkaian acara dalam waktu cukup lama tanpa terlihat mengalami kesulitan berarti.
“Pada pembukaan ada yang sempat tumbang dan kelelahan. Setelah lima hari mengikuti PRIMA, tadi berdiri cukup lama di bawah panas, tetapi tidak ada yang goyah. Ini contoh nyata manfaatnya,” tutup bunyi sambutan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Batang menilai program tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan generasi muda daerah tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya pembangunan kawasan industri.
Dalam sambutan Bupati Batang yang dibacakan Sri Purwaningsih, peserta diminta menjadikan selesainya pelatihan sebagai awal pembuktian diri, bukan akhir dari proses belajar.
“Closing ceremony ini bukan akhir dari segalanya, melainkan garis start atau awal dari pembuktian diri kalian yang sesungguhnya,” kata Sri saat membacakan sambutan Bupati Batang.
Ia menegaskan, siswa SMK Batang harus mampu mengambil peran dalam peluang kerja yang tumbuh seiring perkembangan kawasan industri. Keahlian teknis yang diperoleh di sekolah, menurutnya, harus disertai dengan sikap kerja yang kuat.
“Hard skill akan menjadi jauh lebih hebat jika dibarengi soft skill seperti kejujuran, integritas, keramahan, dan kemampuan berkomunikasi. Dunia industri tidak hanya mencari orang pintar, tetapi pribadi tangguh yang memiliki karakter kuat dan mau terus belajar,” ujarnya.
Kabupaten Batang saat ini terus bertransformasi sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri di Jawa Tengah. Kehadiran KEK Industropolis Batang dan berbagai perusahaan di dalamnya dinilai membuka peluang kerja yang besar bagi masyarakat lokal.
Namun, pemerintah daerah mengingatkan agar peluang tersebut tidak hanya dinikmati oleh tenaga kerja dari luar daerah.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Pemuda-pemudi SMK dari Batang harus menjadi aktor utama dan mengisi posisi-posisi strategis di industri masa depan,” tegasnya.
Program PRIMA diproyeksikan menjadi jembatan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan nyata industri. Pemerintah Kabupaten Batang berharap pelatihan tersebut dapat membantu lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja, mempercepat proses adaptasi, sekaligus menekan angka pengangguran.
Pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah juga mendorong agar program tersebut tidak berhenti pada satu angkatan. Kurikulum pelatihan dinilai berpotensi dikembangkan dan diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah, khususnya SMK.
Para peserta pun diminta membawa kebiasaan positif yang dibangun selama pelatihan ke lingkungan sekolah dan keluarga.
“Jangan setelah pulang dari pelatihan kembali ke perilaku semula. Jadilah contoh terbaik di sekolah masing-masing,” pesan perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah kepada para peserta.
Dengan selesainya program tersebut, 160 pelajar dari SMA Negeri 1 Batang, SMK Negeri 1 Warungasem, SMK Negeri 1 Kandeman, SMK Negeri 1 Blado, SMK Ma’arif NU 01 Limpung, SMK PGRI Batang, SMK Diponegoro Batang, dan SMK Diponegoro Bawang diharapkan menjadi kelompok awal calon sumber daya manusia Batang yang lebih siap menghadapi dunia industri.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













