BATANG, KANALPLUS.ID – Di balik kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang, terselip pesan yang mungkin baru akan dirasakan manfaatnya belasan tahun mendatang. Para siswa dikenalkan pada talasemia, kelainan darah genetik yang hingga kini belum dapat disembuhkan dan masih menjadi ancaman bagi generasi berikutnya.
Edukasi tersebut diberikan setelah data Persatuan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Batang menunjukkan terdapat lebih dari 40 penyintas talasemia yang tersebar di sekitar 15 kecamatan di Kabupaten Batang.
Dokter Spesialis Anak RSUD Kalisari Batang, dr. Tan Evi Susanti, Sp.A, mengatakan remaja menjadi kelompok yang tepat untuk diberikan pemahaman mengenai talasemia karena pencegahan penyakit ini justru dilakukan jauh sebelum seseorang membangun keluarga.
“Hari ini kami mengenalkan talasemia kepada para pelajar. Semakin dini mereka memahami penyakit ini, semakin besar peluang untuk mencegah lahirnya anak dengan talasemia mayor di masa depan,” katanya, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, talasemia merupakan kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anak. Penderita mengalami gangguan pembentukan hemoglobin sehingga sel darah merah mudah rusak dan menyebabkan anemia kronis.
Ia menjelaskan, talasemia terbagi menjadi tiga jenis, yakni talasemia mayor, intermedia, dan minor atau pembawa sifat (carrier). Justru kelompok pembawa sifat sering kali tidak menyadari dirinya membawa gen talasemia karena tetap hidup normal tanpa gejala.
Padahal, ketika dua orang sama-sama berstatus pembawa sifat menikah, setiap kehamilan memiliki peluang 25 persen melahirkan anak dengan talasemia mayor, yaitu kondisi yang mengharuskan penderita menjalani transfusi darah rutin seumur hidup.
“Satu-satunya cara memutus rantai talasemia mayor adalah melalui skrining sejak dini, terutama sebelum menikah,” ujar dr. Evi.
Karena itu, ia mendorong remaja untuk memahami pentingnya pemeriksaan darah sederhana, seperti pemeriksaan hemoglobin dan indeks eritrosit (MCV/MCH), sebelum memutuskan menikah.
Materi tersebut ternyata menarik perhatian para siswa. Banyak peserta aktif bertanya mengenai penyebab, cara penularan, hingga langkah pencegahan penyakit yang sebelumnya belum pernah mereka dengar.
Salah seorang siswa, Haidar, mengaku baru pertama kali mengenal istilah talasemia. Namun setelah mengikuti sosialisasi, ia memahami bahwa pemeriksaan kesehatan pasangan sebelum menikah menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit tersebut diturunkan kepada anak.
“Sebelumnya saya tidak tahu. Ternyata untuk mencegahnya perlu mengecek apakah pasangan membawa sifat talasemia atau tidak,” katanya.
Ketua POPTI Kabupaten Batang, Nety Widjayanti, mengatakan sosialisasi di sekolah merupakan bagian dari kampanye Zero Talasemia yang tengah digencarkan organisasinya.
Menurutnya, edukasi kepada remaja jauh lebih efektif dibandingkan menunggu seseorang mengetahui dirinya menjadi pembawa sifat setelah menikah atau ketika sudah memiliki anak penderita talasemia.
“Kami ingin semakin banyak anak muda memahami pentingnya skrining HB sejak dini. Dengan begitu, risiko lahirnya anak dengan talasemia mayor bisa ditekan,” ujarnya.
Selain membutuhkan transfusi darah seumur hidup, penderita talasemia mayor juga harus menjalani terapi kelasi besi secara berkala untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi berulang. Karena itu, pencegahan melalui skrining dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi munculnya kasus baru di masa mendatang.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












