KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) identik dengan kegiatan di lingkungan sekolah. Namun, pemandangan berbeda terlihat di kawasan Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Klidungan, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Jumat (17/7/2026).
Sebanyak 321 siswa baru SMAN 1 Pekalongan memilih mengawali perjalanan mereka sebagai pelajar dengan turun langsung ke pesisir untuk menanam 1.000 bibit mangrove. Bukan sekadar memenuhi agenda MPLS, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta sekaligus upaya mengenalkan persoalan lingkungan yang dihadapi Kota Pekalongan.
Mengenakan seragam olahraga, para siswa menyusuri kawasan pesisir yang berlumpur sambil membawa bibit mangrove. Satu per satu bibit ditanam di sepanjang kawasan yang selama ini menjadi benteng alami untuk menahan abrasi pantai.
Bagi Muhammad Rangga Dwi Putra, salah seorang peserta MPLS, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Ini pertama kali saya menanam mangrove. Rasanya senang, seru, dan asyik,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Setiap siswa menanam dua bibit mangrove. Meski terlihat sederhana, Rangga memahami pohon yang ia tanam memiliki manfaat besar bagi wilayah pesisir.
“Harapannya nanti mangrovenya bisa tumbuh besar supaya bisa mencegah banjir dan abrasi. Kegiatan ini sangat bermanfaat,” katanya.
Wakil Kepala SMAN 1 Pekalongan Bidang Kesiswaan, Eko Budi Santoso, mengatakan sekolah sengaja mengubah konsep MPLS agar tidak hanya berisi pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga memperkenalkan lingkungan Kota Pekalongan kepada peserta didik baru.
Sebagai sekolah berpredikat Adiwiyata Mandiri, menurutnya, pendidikan karakter peduli lingkungan harus dimulai sejak hari pertama siswa menginjakkan kaki di sekolah.
“Hari ini kami membawa 321 siswa baru untuk mengenal Pekalongan melalui aksi nyata menanam 1.000 mangrove. Tujuannya agar mereka mencintai lingkungan dan memahami kondisi Kota Pekalongan sejak awal,” ujar Eko.
Ia menjelaskan, penanaman mangrove juga menjadi bagian dari pendidikan lingkungan yang selama ini diterapkan di SMAN 1 Pekalongan. Bahkan, sekolah tersebut telah menerapkan konsep sekolah bebas sampah tanpa menyediakan tempat sampah di lingkungan sekolah sebagai bagian dari perubahan perilaku warga sekolah.
Kegiatan penanaman mangrove tersebut merupakan hasil kolaborasi antara SMAN 1 Pekalongan dengan Mercy Corps Indonesia, yang memberikan dukungan penuh mulai dari penyediaan bibit hingga pembiayaan kegiatan.
Namun, menurut Eko, kegiatan itu tidak berhenti setelah bibit ditanam. Sekolah telah menyiapkan kelompok pecinta lingkungan Wanalana untuk melakukan pemantauan rutin terhadap seluruh bibit yang telah ditanam.
“Nanti selama satu tahun bibit ini akan kami pantau. Anak-anak Wanalana akan melakukan pengecekan setiap dua minggu sekali. Harapan kami tingkat hidupnya bisa mencapai sekitar 90 persen sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi Kota Pekalongan,” jelasnya.
Camat Pekalongan Utara, M. Ainur Rofiq, memuji langkah SMAN 1 Pekalongan yang menjadikan aksi pelestarian lingkungan sebagai bagian dari MPLS.
Menurutnya, pendekatan seperti itu jauh lebih bermakna karena tidak hanya mengenalkan sekolah kepada siswa baru, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
“Ini kegiatan yang sangat baik. Para siswa baru dikenalkan pentingnya menjaga lingkungan melalui penanaman mangrove. Mangrove memiliki banyak manfaat, mulai dari mencegah abrasi, menyerap karbon, hingga menjadi habitat berbagai biota pesisir,” katanya.
Ia berharap konsep serupa dapat diikuti sekolah-sekolah lain di Kota Pekalongan sehingga gerakan penanaman mangrove tidak hanya dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari budaya di kalangan pelajar.
“Nanti kami berharap sekolah-sekolah lain juga bisa melakukan kegiatan seperti ini. Jadi pelajar ikut memiliki peran dalam menjaga kawasan pesisir Kota Pekalongan,” ujarnya.
Menurut Ainur Rofiq, hasil penanaman mangrove di kawasan tersebut selama ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Bibit-bibit yang telah ditanam pada kegiatan sebelumnya sebagian besar berhasil tumbuh karena kondisi perairan relatif mendukung.
“Alhamdulillah yang sudah ditanam sebelumnya tumbuh dengan baik. Gelombangnya tidak terlalu besar sehingga tingkat keberhasilannya cukup tinggi,” ungkapnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













