Mengapa Kota 300 Ribu Penduduk di Eropa Terlihat Besar, tapi di Indonesia Terasa Kecil?

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:51 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Perbandingan Kota Pekalongan (bawah) dengan Kota Ghent di Belgia yang memiliki jumlah penduduk yang sama namun memiliki banyak perbedaan di antara keduanya. Foto: Ilustrasi AI

Perbandingan Kota Pekalongan (bawah) dengan Kota Ghent di Belgia yang memiliki jumlah penduduk yang sama namun memiliki banyak perbedaan di antara keduanya. Foto: Ilustrasi AI

KANALPLUS.ID – Pernahkah Anda melihat sebuah kota di Eropa dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa, tetapi kota tersebut sudah memiliki pusat kota yang ramai, jaringan transportasi umum yang bagus, universitas besar, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, hingga gedung-gedung tinggi?

Bandingkan dengan Indonesia. Kota dengan jumlah penduduk yang sama sering kali masih dianggap sebagai kota kecil atau paling jauh kota menengah.

Lantas, mengapa bisa begitu?

Jawabannya ternyata bukan sekadar soal jumlah penduduk.

Pekalongan dan Kota Eropa Berpenduduk 300 Ribuan

Kita bisa menggunakan Kota Pekalongan sebagai contoh. Kota Pekalongan memiliki penduduk sekitar 300 ribuan jiwa. Kota ini merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan industri batik di kawasan pantai utara Jawa.

Namun, jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia, Pekalongan tentu terlihat relatif kecil.

Di Pulau Jawa, masyarakat sudah terbiasa dengan kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya atau Semarang yang memiliki populasi jauh lebih besar.

Bahkan ketika sebuah kota memiliki penduduk 500 ribu jiwa, kota tersebut masih bisa dianggap sebagai kota kecil jika berada di dekat kawasan metropolitan. Di Eropa situasinya berbeda.

Kota dengan penduduk 300 ribu jiwa bisa menjadi pusat utama bagi wilayah yang jauh lebih luas. Aktivitas ekonomi, pendidikan dan pemerintahan di sekitarnya dapat terkonsentrasi di kota tersebut.

Artinya, 300 ribu penduduk di Eropa bisa mempunyai pengaruh regional yang jauh lebih besar daripada angka populasinya.

Yang Penting Bukan Hanya Jumlah Penduduk

Kesalahan yang sering terjadi ketika membandingkan kota adalah hanya melihat jumlah penduduk. Padahal ada setidaknya tiga ukuran yang perlu dibedakan yaitu, city proper, urban area dan metropolitan area.

City proper adalah penduduk di dalam batas administratif kota. Urban area merupakan kawasan yang secara fisik sudah menyatu sebagai kawasan perkotaan.

Sementara metropolitan area mencakup kota utama beserta wilayah sekitarnya yang memiliki hubungan ekonomi dan aktivitas harian yang kuat.

Sebuah kota Eropa dengan penduduk 300 ribu bisa saja memiliki kawasan metropolitan berpenduduk 700 ribu hingga lebih dari satu juta jiwa.

Karena itu, angka 300 ribu tidak selalu menggambarkan ukuran sebenarnya dari kota tersebut.

Kepadatan Membuat Kota Terasa Lebih Besar

Faktor lain adalah kepadatan. Bayangkan dua kota sama-sama memiliki 300 ribu penduduk.

Kota A menempatkan sebagian besar penduduknya dalam kawasan terbangun yang padat. Apartemen, rumah, toko, kantor, restoran dan fasilitas publik berada berdekatan.

Baca Juga :  Mahasiswa IPB Tinggalkan Dua Solusi Sekaligus di Desa Tanjungsari: Bantu Petani Tingkatkan Produktivitas, Bangun Insinerator Atasi Sampah

Kota B memiliki permukiman yang lebih menyebar, dengan lahan kosong, sawah atau kawasan nonpermukiman di antara pusat-pusat aktivitas. Keduanya sama-sama memiliki 300 ribu penduduk.

Namun ketika berjalan di dalamnya, Kota A akan terasa jauh lebih ramai dan urban. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa kota Eropa dengan populasi yang tidak terlalu besar terlihat seperti ‘kota besar’.

Sejarah Juga Berpengaruh

Banyak kota Eropa sudah menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan sejak ratusan tahun lalu. Kota-kota tersebut berkembang secara bertahap. Pusat kota dibangun rapat, kemudian muncul kawasan perdagangan, universitas, stasiun kereta, gedung pemerintahan dan kawasan bisnis.

Kepadatan tersebut terbentuk selama berabad-abad. Indonesia memiliki sejarah perkotaan yang berbeda.

Sebagian besar perkembangan kota modern berlangsung sangat cepat, terutama setelah pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi meningkat pada abad ke-20.

Akibatnya, pertumbuhan kota sering melebar ke luar atau urban sprawl, bukan selalu membentuk pusat kota yang sangat padat.

Indonesia Terbiasa dengan Kota Jutaan Penduduk

Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni skala penduduk Indonesia.

Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk. Pulau Jawa sendiri menjadi salah satu kawasan dengan konsentrasi penduduk paling tinggi di dunia.

Di Pulau Jawa, kota-kota besar saling berdekatan dan terhubung oleh jaringan jalan, kereta api, kawasan industri dan aktivitas ekonomi.

Jakarta memiliki kawasan metropolitan yang sangat besar. Begitu pula Bandung Raya, Surabaya dan kawasan metropolitan lainnya.

Akibatnya, kota dengan penduduk 300 ribu jiwa terlihat relatif kecil dalam konteks Indonesia. Padahal jika kota tersebut berada di negara Eropa dengan populasi lebih kecil dan sistem perkotaan yang berbeda, statusnya bisa cukup penting.

Pekalongan Sebenarnya Bukan Kota yang ‘Kecil’ Secara Fungsi

Menariknya, jika ukuran kota tidak hanya berdasarkan jumlah penduduk, Pekalongan memiliki karakter yang cukup kuat sebagai pusat regional.

Kota ini memiliki identitas ekonomi yang sangat jelas melalui industri batik. Selain itu, Pekalongan menjadi pusat perdagangan dan jasa bagi wilayah di sekitarnya.

Ada rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, pusat pemerintahan, pasar, hotel, restoran, pusat perbelanjaan hingga jaringan transportasi yang melayani bukan hanya warga kota.

Artinya, orang yang beraktivitas di Pekalongan tidak semuanya merupakan penduduk Kota Pekalongan. Ada pula warga Kabupaten Pekalongan, Batang dan wilayah lain yang datang untuk bekerja, berdagang, sekolah, berobat atau melakukan aktivitas lainnya.

Baca Juga :  Warga Dikagetkan Pria Bersimbah Darah Minta Tolong, Korban Alami Banyak Luka Tusuk

Fenomena seperti ini disebut daytime population dengan jumlah orang yang berada di sebuah kota pada siang hari bisa berbeda dengan jumlah penduduk resmi yang tinggal di dalam batas administratifnya.

Batas Administratif Juga Bisa Menipu

Ini salah satu alasan mengapa perbandingan kota Indonesia dengan kota Eropa harus dilakukan dengan hati-hati.

Kota Pekalongan memiliki wilayah administratif yang relatif terbatas. Sementara aktivitas perkotaan tidak berhenti di batas tersebut.

Wilayah Kabupaten Pekalongan dan Batang di sekitarnya memiliki hubungan ekonomi dan mobilitas yang kuat dengan Kota Pekalongan. Hal yang sama terjadi di banyak kota Indonesia.

Jadi, jika hanya melihat angka penduduk Kota Pekalongan, kita bisa mendapatkan kesan bahwa kota ini kecil.

Tetapi jika menghitung seluruh kawasan perkotaan dan hubungan ekonominya, skalanya menjadi lebih besar.

Jadi, Mana yang Lebih Besar?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab hanya dengan angka penduduk. Kota berpenduduk 300 ribu bisa menjadi kota kecil di satu negara, tetapi menjadi kota besar atau pusat regional di negara lain.

Untuk menentukan ukuran sebenarnya, setidaknya perlu melihat jumlah penduduk + kepadatan + luas kawasan terbangun + fungsi ekonomi + fasilitas + transportasi + kawasan metropolitan.

Karena itu, membandingkan kota hanya berdasarkan jumlah penduduk bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Pekalongan dengan sekitar 300 ribu penduduk mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan Jakarta. Namun jika dibandingkan dengan kota-kota di Eropa yang memiliki populasi serupa, Pekalongan tidak selalu bisa disebut kecil.

Perbedaannya adalah bagaimana kota tersebut berkembang dan seberapa luas pengaruhnya terhadap wilayah di sekitarnya.

Pada akhirnya, ‘besar’ bukan hanya soal jumlah manusia

Sebuah kota bisa memiliki 300 ribu penduduk tetapi memiliki universitas besar, pusat bisnis regional, stasiun utama, rumah sakit rujukan, kawasan industri dan jaringan transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya.

Kota seperti itu secara fungsional bisa jauh lebih penting daripada kota berpenduduk 500 ribu yang hanya menjadi kawasan permukiman.

Itulah sebabnya ketika melihat kota-kota di Eropa, kita sering merasa heran, ‘Kok penduduknya cuma 300 ribu, tetapi kotanya terlihat seperti kota besar?’

Jawabannya sederhana. Karena ukuran sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang tinggal di dalamnya, tetapi juga oleh seberapa padat kota itu, apa yang dilakukan orang-orang di dalamnya, dan seberapa besar wilayah yang bergantung kepadanya.

Penulis : Mohammad Hendrawan, Pemerhati Perkotaan

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemarau Panjang, Grand Dian Hotel dan Brimob Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Wonokerto
Masjid Al-Hikmah Pangkah Pekalongan Jadi Tempat Latihan MB Djuanda, Anggota Bertambah dan Kerap Tampil di Berbagai Daerah
KKN Undip Bantu Warga Lumbung Kerep, Informasi Administrasi Kini Lebih Mudah Diakses
Mahasiswa IPB Tinggalkan Dua Solusi Sekaligus di Desa Tanjungsari: Bantu Petani Tingkatkan Produktivitas, Bangun Insinerator Atasi Sampah

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 13:02 WIB

Kemarau Panjang, Grand Dian Hotel dan Brimob Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Wonokerto

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:51 WIB

Mengapa Kota 300 Ribu Penduduk di Eropa Terlihat Besar, tapi di Indonesia Terasa Kecil?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:33 WIB

Masjid Al-Hikmah Pangkah Pekalongan Jadi Tempat Latihan MB Djuanda, Anggota Bertambah dan Kerap Tampil di Berbagai Daerah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 09:00 WIB

KKN Undip Bantu Warga Lumbung Kerep, Informasi Administrasi Kini Lebih Mudah Diakses

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:47 WIB

Mahasiswa IPB Tinggalkan Dua Solusi Sekaligus di Desa Tanjungsari: Bantu Petani Tingkatkan Produktivitas, Bangun Insinerator Atasi Sampah

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB