Kemarau Mengancam Sawah Batang, 114 Pompa Air Mulai Disalurkan ke Petani

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dispaperta Kabupaten Batang membagikan bantuan mesin pompa air kepada kelompok tani sebanyak 114 unit yang disalurkan secara bertahap, Jumat (28/8/26). Foto: Ilustrasi AI

Dispaperta Kabupaten Batang membagikan bantuan mesin pompa air kepada kelompok tani sebanyak 114 unit yang disalurkan secara bertahap, Jumat (28/8/26). Foto: Ilustrasi AI

KANAL BATANG – Ancaman kekeringan mulai menghantui sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Batang. Untuk mencegah tanaman kekurangan air hingga berujung gagal panen, Dinas Pangan, Pertanian dan Peternakan (Dispaperta) Batang mulai menyalurkan 114 unit pompa air kepada kelompok tani.

Bantuan tersebut tidak hanya diarahkan ke wilayah yang saat ini terdampak kekeringan, tetapi disebar ke berbagai wilayah di Kabupaten Batang yang membutuhkan dukungan pengairan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang Diana Anggraeni mengatakan, distribusi pompa dilakukan secara bertahap mulai Jumat (28/8/2026). Cara itu dipilih agar proses administrasi dan serah terima bantuan tetap berjalan tertib.

“Ini 114, tapi bertahap. Mulai hari ini. Biar enggak numpuk, karena kami juga harus tanda tangan berita acara. Kalau orang banyak malah ruwet,” kata Diana.

Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) hingga Agustus 2026, kekeringan telah tercatat berdampak pada sekitar 16 hektare lahan pertanian.

Sebagian besar berada di Kecamatan Gringsing dengan luas 15 hektare. Sementara di Kecamatan Banyuputih, lahan yang terdampak mencapai 1 hektare.

Baca Juga :  Tim Pengacara AHF Mundur Jelang Sidang Perdana Pokok Perkara Dugaan Kekerasan Seksual di Padepokan Padang Ati Pekalongan

Menurut Diana, Banyuputih memang menjadi salah satu wilayah yang kerap menghadapi persoalan pasokan air ketika musim kemarau. Kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan.

Meski demikian, kondisi di lapangan sejauh ini masih relatif terkendali. Petani tidak tinggal diam dan berupaya menyelamatkan tanaman dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia.

“Yang paling biasanya Banyuputih. Berarti kan mungkin terkait sumbernya, sumber airnya. Meski demikian, geliat petani dalam menyelamatkan tanaman patut diacungi jempol,” ujarnya.

Kelompok tani, lanjut Diana, menggunakan pompa untuk mengambil air dari sumber air tanah maupun sumber air permukaan yang masih dapat dijangkau.

“Berarti kan masih ada sumber air, terus menggunakan pompa air. Jadi kelompok secara mandiri menangani kekeringan sendiri,” katanya.

Selain bantuan pompa, pemerintah juga memperkuat sistem pengairan melalui perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi tersier di sejumlah wilayah.

Diana menyebut bantuan infrastruktur tersebut juga menyasar Banyuputih dan Gringsing, dua wilayah yang dalam laporan POPT tercatat mengalami dampak kekeringan.

Baca Juga :  Korsleting Listrik Sebabkan Rumah di Batang Terbakar, Kerugian Disebut Rp15 Juta

Namun, kondisi di Gringsing memiliki karakter berbeda. Wilayah tersebut memiliki jaringan irigasi teknis yang secara berkala dikeringkan untuk kepentingan pemeliharaan.

“Kalau di Gringsing itu dia juga irigasinya teknis. Irigasi teknis itu nanti setiap bulan Oktober juga ada pengeringan berkala dari pintunya, dari DPU dan BBWS,” jelasnya.

Karena itu, tidak seluruh kondisi berkurangnya pasokan air di Gringsing dapat dikategorikan sebagai kekeringan. Sebagian merupakan dampak dari agenda pengeringan jaringan irigasi yang dilakukan secara rutin untuk pemeliharaan.

Di tengah ancaman kekeringan tersebut, Dispaperta Batang juga mencatat persoalan lain yang berlawanan. Hingga Agustus 2026, sedikitnya 511 hektare lahan pertanian di Batang sempat terdampak banjir.

Data itu menunjukkan petani di Batang menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu, mulai dari kekurangan air saat kemarau hingga kelebihan air ketika banjir.

Pemerintah pun mendorong penguatan pengelolaan air bersama kelompok tani agar perubahan kondisi cuaca tidak sampai mengganggu produksi pertanian dan pasokan pangan di Kabupaten Batang.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru
Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui
Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah
PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa
Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung
Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual Terhadap ART Anak di Bawah Umur, Dokter Gigi di Kota Pekalongan Divonis 9 Tahun Penjara
Sprint Rally di KEK Batang Dibatasi 135 Starter, Pemkab Buka Wacana Sirkuit Permanen
Jaksa Masuk Sekolah, Siswa di Batang Malah Kepo Gaji Aparat Penegak Hukum

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:33 WIB

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:46 WIB

PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung

Berita Terbaru