BATANG, KANALPLUS.ID – Kabupaten Batang telah menetapkan 32 desa wisata melalui surat keputusan pemerintah daerah. Namun, jumlah tersebut belum sepenuhnya mencerminkan geliat pariwisata berbasis desa di lapangan.
Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Batang mencatat, dari puluhan desa wisata yang telah ditetapkan, saat ini hanya sekitar empat desa yang masih aktif mengelola dan mengembangkan potensi wisatanya secara berkelanjutan.
Empat desa tersebut yakni Desa Wisata Pandansari, Besani, Celong, serta Desa Wisata Pantai Jodo.
Kepala Bidang Destinasi dan Usaha Pariwisata Disparpora Kabupaten Batang, Debby Sintya Rengganis, mengatakan kondisi itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah di tengah dorongan program 1.000 desa wisata yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Dari 32 desa wisata yang sudah ada, yang benar-benar aktif saat ini hanya sekitar empat desa wisata, seperti Pandansari, Besani, Celong, dan Desa Wisata Pantai Jodo,” kata Debby, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, penetapan status desa wisata tidak otomatis membuat sebuah desa mampu menarik wisatawan atau menggerakkan ekonomi masyarakat. Desa perlu memiliki pengelolaan yang konsisten, sumber daya manusia yang siap, administrasi yang tertata, serta paket wisata yang jelas.
“Desa wisata itu tidak cukup hanya memiliki objek wisata. Harus ada pemaketan wisata yang menarik, misalnya mengangkat kearifan lokal, tradisi masyarakat, pertunjukan seni, kuliner khas, hingga pengalaman yang tidak bisa ditemukan wisatawan di tempat lain,” ujarnya.
Program 1.000 desa wisata dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut Debby, menjadi momentum bagi Batang untuk tidak sekadar menambah jumlah desa berstatus wisata. Pemerintah daerah juga perlu kembali memetakan desa-desa yang berpotensi dan memastikan pengelolaannya tidak berhenti setelah peresmian.
“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk mencari dan mengembangkan potensi desa wisata baru di Kabupaten Batang, tentunya dengan memenuhi berbagai kriteria yang ditetapkan,” katanya.
Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu persoalan utama yang membuat sejumlah desa wisata belum berkembang optimal. Selain itu, banyak desa dinilai belum mampu mengemas potensi lokal menjadi pengalaman wisata yang layak dijual kepada pengunjung.
Padahal, Kabupaten Batang memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari kawasan pegunungan, perkebunan, sungai, hingga wilayah pesisir. Potensi budaya, kuliner, tradisi, dan aktivitas masyarakat juga dinilai dapat menjadi daya tarik apabila dikembangkan secara serius.
“Potensi desa di Kabupaten Batang sebenarnya luar biasa. Kita punya laut, gunung, budaya, dan tradisi masyarakat. Yang perlu diperkuat adalah bagaimana pengelolaannya bisa berkelanjutan, jangan hanya ramai sesaat lalu berhenti,” tegas Debby.
Ia menilai tren wisata saat ini mulai bergeser. Wisatawan tidak hanya mencari tempat untuk berfoto, tetapi juga pengalaman yang lebih autentik, seperti tinggal di rumah warga, ikut bertani, mengenal tradisi lokal, belajar membuat produk khas desa, hingga menikmati kuliner yang disajikan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, desa wisata didorong menyiapkan fasilitas pendukung, salah satunya homestay berbasis rumah warga. Konsep tersebut dinilai dapat memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.
“Yang dicari wisatawan sekarang adalah pengalaman. Misalnya merasakan kehidupan desa, bertani, mengenal budaya lokal, belajar membuat produk tradisional, atau tinggal di homestay. Itu justru menjadi daya tarik tersendiri,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












