Industri di Batang Tak Boleh Ganggu Air Petani, Pemkab Klaim Sudah Hitung Kebutuhannya

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Krisis air bersih menjadi perhatian dalam pembahasan Raperda di DPRD Kabupaten Batang, Kamis (27/8/26). Foto: Istimewa

Krisis air bersih menjadi perhatian dalam pembahasan Raperda di DPRD Kabupaten Batang, Kamis (27/8/26). Foto: Istimewa

KANAL BATANG – Kekhawatiran soal ancaman krisis air bersih di Kabupaten Batang hingga 2045 mencuat dalam pembahasan tiga rancangan peraturan daerah (Raperda) di DPRD Batang.

Salah satu catatan datang dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyoroti hasil analisis Driving Force, Pressure, State, Impact, Response (DPSIR) terkait potensi krisis air di masa mendatang.

Wakil Bupati Batang Suyono memastikan pengembangan kawasan industri tidak akan dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan air masyarakat, terutama untuk pertanian.

Menurut dia, kebutuhan air kawasan industri telah diperhitungkan sejak awal. Pengambilan air juga dilakukan dari bendungan bagian hilir sehingga tidak mengambil langsung dari sumber air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan pertanian.

“Kebutuhan air untuk kawasan industri telah diperhitungkan sehingga tidak mengambil jatah air yang sebelumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan petani,” kata Suyono, Kamis (27/8/2026).

Dia menjelaskan, air yang digunakan untuk kebutuhan industri di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) berasal dari bendungan yang lokasinya berada di bagian hilir.

Dengan skema tersebut, air terlebih dahulu melewati kawasan pertanian dan memenuhi kebutuhan masyarakat sebelum dimanfaatkan untuk kawasan industri.

Baca Juga :  Harga SBM Naik Hampir Rp3.000, Peternak Batang Pertanyakan Kebijakan Impor

“Bendungan itu sudah sisa dari air kebutuhan petani, bukan mengambil di hulunya, tetapi kita mengambil di bendungan hilirnya, yang hampir mendekat ke laut,” ujarnya.

Suyono mengatakan Pemkab Batang bersama Dinas Pangan dan Pertanian telah menghitung kebutuhan air untuk sektor pertanian. Penghitungan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur pemanfaatan sumber daya air.

“Jadi sudah dilakukan penghitungan terhadap kebutuhan air untuk sektor pertanian,” terangnya.

Ia juga menyebut terdapat dua bendungan yang menjadi bagian dari pengaturan kebutuhan air tersebut. Menurutnya, sebagian kebutuhan air untuk pertanian telah diperhitungkan sebelum air dimanfaatkan untuk kawasan industri.

Persoalan air menjadi salah satu perhatian dalam penyusunan Raperda tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH).

Selain Raperda RPPLH, DPRD Batang juga membahas Raperda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) serta Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Batang.

Ketiga Raperda tersebut dibahas dalam rapat paripurna DPRD Batang dengan agenda penyampaian pandangan fraksi, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga :  Pemotor Tewas Tabrak Truk Tronton di Jalan Raya KITB Batang

Selain ketersediaan air, Pemkab Batang juga menegaskan pentingnya menjaga lahan pertanian di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri.

Suyono menyebut luas lahan sawah di Kabupaten Batang saat ini sekitar 17.000 hektare. Lahan tersebut, kata dia, harus tetap dipertahankan sesuai ketentuan tata ruang.

“Luas lahan sawah di Kabupaten Batang saat ini sekitar 17.000 hektare dan keberadaannya harus tetap dijaga sesuai ketentuan tata ruang,” paparnya.

Menurut Suyono, pembangunan kawasan industri tetap harus berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan maupun kebutuhan masyarakat.

Karena itu, penyusunan aturan mengenai lingkungan hidup dan tata ruang dinilai penting agar pertumbuhan industri di Batang tetap berjalan seiring dengan perlindungan lahan pertanian dan ketersediaan air.

“Masukan itu untuk bagaimana tetap memperhatikan lingkungan, kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Pemkab Batang berharap ketiga Raperda tersebut nantinya dapat menjadi pijakan dalam mengatur pertumbuhan industri, perlindungan lingkungan, ketahanan pangan, ketersediaan air hingga pengelolaan aset daerah.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan
Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado
Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir
Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji
Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta
BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang
Kejari Batang Musnahkan Ratusan Barang Bukti dan Ajak Pelajar-Santri Deklarasi Perundungan
Kurangi Biaya Operasional Melaut, Puluhan Nelayan Roban Barat Batang Dilatih Perbaiki Mesin Perahu

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta

Berita Terbaru