Dakwah Buya HAMKA ke Etnis Tionghoa Kembali Dikupas, Dinilai Relevan Jaga Harmoni di Tengah Keragaman Indonesia

- Penulis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi

Foto ilustrasi

JAKARTA, KANALPLUS.ID – Di tengah meningkatnya tantangan kehidupan masyarakat yang semakin beragam, pendekatan dakwah multikultural yang pernah diterapkan Buya HAMKA kembali mendapat sorotan. Gagasan dakwah yang mengedepankan dialog, penghormatan budaya, dan pendekatan kemanusiaan dinilai tetap relevan untuk menjaga harmoni sosial di Indonesia saat ini.

Pemikiran tersebut menjadi fokus dalam diskusi perdana Hamka Circle yang digelar secara daring pada Jumat (29/5/2026). Mengangkat tema “Dakwah Multikultural Buya HAMKA terhadap Etnis Tionghoa”, forum ini menghadirkan akademisi, peneliti, mahasiswa, hingga praktisi sosial untuk mengulas warisan pemikiran salah satu ulama terbesar Indonesia tersebut.

Diskusi dibuka oleh Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka), Prof. Ai Fatimah Nur Fuad, Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya membangun budaya akademik yang kuat di lingkungan kampus agar menjadi pusat pengembangan intelektual sekaligus ruang aktualisasi keilmuan para akademisi.

“Fakultas Agama Islam Uhamka mendirikan sebuah pusat studi yang bernama Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC), untuk dapat melakukan akselerasi dalam bidang kajian dan penelitian para akademisi sehingga mereka dapat mengembangkan profesiona;itasnya sebagai dosen dan peneliti”, Ungkap Ai Fatimah, yang merupakan pengurus LHKI PP Muhammadiyah ini.

Baca Juga :  Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Direktur CIVIC FAI Uhamka, Muhammad Abdullah Darraz, kemudian memaparkan visi Hamka Circle sebagai forum kajian ilmiah yang mengedepankan keterbukaan dan pendekatan interdisipliner dalam studi keislaman.

Menurut Darraz, tema dakwah multikultural dipilih sebagai pembuka karena pemikiran Buya HAMKA mengenai inklusivitas dan dialog antarbudaya masih sangat dibutuhkan oleh generasi muda saat ini.

“Sebagai diskusi perdana kami mengangkat tema tentang Dakwah Multikultural Buya Hamka, untuk memastikan pemikiran Buya Hamka mengenai inklusivitas, dialog antarbudaya, dan keadilan sosial dapat diakses oleh generasi muda serta diimplementasikan dalam konteks tantangan zaman modern,” ujar Darraz.

Sebagai narasumber utama, Dosen FAI Uhamka Dr. Jaja Nurjannah mengulas bagaimana Buya HAMKA membangun komunikasi dengan komunitas Tionghoa melalui pendekatan budaya yang humanis dan penuh empati. Menurutnya, metode tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak harus dibangun dengan sekat identitas, melainkan melalui pemahaman sosial dan penghormatan terhadap keberagaman.

Baca Juga :  Kemenag Dorong Guru Madrasah Jadi PPPK, Layani Lebih dari 18 Juta Siswa di Indonesia

Ia menjelaskan, pemikiran Buya HAMKA tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga dapat menjadi rujukan akademik dan sosial untuk memperkuat kohesi masyarakat Indonesia yang multikultural.

Dakwah Buya HAMKA terhadap etnis Tionghoa adalah bukti nyata dari dakwah multikultural yang berbasis pada pemahaman psikologi sosial dan penghormatan budaya. Beliau tidak mendekati mereka dengan sikap menghakimi, melainkan dengan pintu dialog yang terbuka lebar dan penuh empati. Ini adalah teladan Islam yang sejuk dan merangkul,” ungkap Dr. Jaja Nurjannah dalam paparannya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat publik terhadap model dakwah yang mengedepankan toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan di tengah kehidupan masyarakat modern.

Hamka Circle diharapkan menjadi ruang diskusi berkelanjutan untuk mengkaji pemikiran Buya HAMKA dari berbagai perspektif, mulai dari sastra, politik, hingga teologi kemanusiaan. Forum ini berada di bawah naungan Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) FAI Uhamka yang berfokus pada pengembangan kajian keislaman, kemanusiaan, dan wawasan kebangsaan Indonesia.(*)

Penulis : Sindung

Editor : Sindung Perkasa

Berita Terkait

Kemenag Dorong Guru Madrasah Jadi PPPK, Layani Lebih dari 18 Juta Siswa di Indonesia
QurbanMu di Aplikasi MASA Kelola Ratusan Juta Rupiah Transaksi Kurban, Muhammadiyah Perkuat Layanan Digital yang Transparan
Haedar Nashir: Jangan Sampai Pancasila Hanya Jadi Slogan, Kaya Retorika tapi Miskin Praktik
Pilih Lebak untuk Peringatan Hari Lahir Pancasila, Wamen Fajar Soroti Warisan Multatuli dan Keadilan Sosial
Haedar Nashir: Idul Adha Bukan Ajang Pamer Sapi, Tapi Alarm Moral Bangsa
Lingkar Dalam Fadia Arafiq Kembali Dipanggil KPK, Mantan Ajudan dan Orang Kepercayaan Mulai Disidik
Senator Senayan Soroti Pengawasan Program MBG Usai Temuan Dugaan Menu Berbelatung di Pekalongan
SMSI: Mendirikan Perusahaan Pers adalah Hak Asasi, Tidak Perlu Verifikasi oleh Dewan Pers

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:27 WIB

Kemenag Dorong Guru Madrasah Jadi PPPK, Layani Lebih dari 18 Juta Siswa di Indonesia

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:36 WIB

QurbanMu di Aplikasi MASA Kelola Ratusan Juta Rupiah Transaksi Kurban, Muhammadiyah Perkuat Layanan Digital yang Transparan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:09 WIB

Haedar Nashir: Jangan Sampai Pancasila Hanya Jadi Slogan, Kaya Retorika tapi Miskin Praktik

Senin, 1 Juni 2026 - 12:19 WIB

Pilih Lebak untuk Peringatan Hari Lahir Pancasila, Wamen Fajar Soroti Warisan Multatuli dan Keadilan Sosial

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:03 WIB

Dakwah Buya HAMKA ke Etnis Tionghoa Kembali Dikupas, Dinilai Relevan Jaga Harmoni di Tengah Keragaman Indonesia

Berita Terbaru