Kecewa Pidato Presiden, Pelaku UMKM di Pekalongan Mengaku Terpukul Kenaikan Dolar

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 20:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Muhammad David Ainul Ridho, pelaku UMKM warga Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan sedang melayani pemesan yang datang melihat langsung tempat produksinya, Senin (18/5/26).

Muhammad David Ainul Ridho, pelaku UMKM warga Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan sedang melayani pemesan yang datang melihat langsung tempat produksinya, Senin (18/5/26).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di sebuah rumah sederhana di gang sempit Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, kesibukan mempersiapkan pengiriman pesanan pakaian wanita ke beberapa daerah di Indonesia terlihat di rumah Muhammad David Ainul Ridho (33). Pelaku Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UKM) tersebut mengaku kecewa dengan pidato Presiden Prabowo yang menyebut orang desa tidak pakai dollar sehingga tidak terdampak langsung.

Baginya, pernyataan itu terasa jauh dari realitas yang dihadapi pelaku usaha kecil di daerah yang notabene benar tidak pernah pegang dolar namun secara usaha justru banyak terimbas dari gejolak kurs dollar terhadap rupiah.

“Kalau dibilang orang desa enggak terdampak dolar, ya jelas kami terdampak. Saya usaha di desa, produksi di desa, pekerjanya warga desa semua. Tapi harga kain, plastik, kancing, semuanya naik,” ujarnya kepada wartawan, Senin (18/5/2026).

Kenaikan nilai dolar, menurut David, memang tidak langsung dirasakan masyarakat dalam bentuk transaksi mata uang asing. Namun dampaknya menjalar ke harga bahan baku yang terus naik dan akhirnya memukul biaya produksi UMKM.

Sebagai pelaku usaha fashion wanita, David sangat bergantung pada bahan baku tekstil dan perlengkapan produksi yang harganya terus bergerak mengikuti kondisi pasar.

“Sekarang tantangannya berat. Harga bahan naik, biaya produksi naik, tapi daya beli masyarakat justru turun. Mau menaikkan harga terlalu tinggi takut pembeli lari,” katanya.

Perjalanan David membangun usahanya tidak instan. Ia memulai semuanya dari nol ketika masih berstatus karyawan. Anak kedua dari tujuh bersaudara itu awalnya hanya belajar pemasaran secara mandiri sambil mencoba menjual produk melalui Facebook.

Dengan modal sekitar Rp40 juta, ia nekat merintis usaha fashion wanita rumahan pada 2015. Setahun kemudian, ketika platform Shopee mulai berkembang di Indonesia, David melihat peluang besar di dunia perdagangan online.

Baca Juga :  Tangis Haru Pecah di Bioskop Saat Anggota DPR RI Ini Ajak Puluhan Siswa SD di Batang Nonton Film Children of Heaven, Pulangnya Dapat Hadiah Sepatu

Ia membuat akun toko dan mulai serius berjualan pakaian wanita seperti blouse, long tunic muslim, hingga bawahan wanita. Semua dipasarkan secara online maupun offline.

“Awalnya ya belajar sendiri. Enggak punya mentor. Semua otodidak dan saya sendiri sebelum mandiri pernah bekerja sebagai buruh konveksi pada seorang juragan,” terangnya.

Perlahan usahanya berkembang. Pesanan mulai datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan menurutnya, pembeli terbesar justru berasal dari luar Pulau Jawa hingga Papua.

Saat ini usahanya memiliki sekitar 18 item produk aktif dengan tiga produk menjadi best seller yang paling diminati pelanggan.Harga produknya pun relatif terjangkau. Atasan wanita dijual sekitar Rp65 ribu, bawahan sekitar Rp70 ribu, sementara long tunic muslim dibanderol sekitar Rp86 ribu sebelum diskon.

Ironisnya, masa pandemi COVID-19 justru menjadi periode emas bagi usaha David. Ketika banyak usaha konvensional mengalami penurunan drastis, penjualan online miliknya melonjak tajam.

Sebelum pandemi, jumlah pengiriman hanya sekitar 20 hingga 30 resi atau transaksi per hari. Namun pada periode 2019 hingga 2021, angka itu melonjak hingga mencapai sekitar 3.000 transaksi per hari.

“Jadi waktu pandemi orang belanja online terus. Trafiknya tinggi sekali dan saya pada saat itu justru mendulang pesanan banyak sekali,” ungkapnya.

David mengaku sistem Shopee sangat membantu perkembangan usahanya, terutama dari sisi transparansi keuangan dan pencairan saldo harian yang membantu perputaran modal. Selain itu, program campaign dan promosi dari marketplace juga menjadi faktor penting dalam mendongkrak penjualan.

Baca Juga :  Kawan Lama Group Buka Tiga Toko Sekaligus di Pekalongan, Serap Potensi Pasar dan Gairahkan Ekonomi Lokal

“Kalau ikut campaign tertentu, trafik bisa naik dua kali lipat dibanding biasanya,” bebernya.

Dari hasil usaha itulah David perlahan mengubah kehidupan keluarganya. Ia yang dulu hanya seorang karyawan kini mampu memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji. Bahkan ia baru menikah pada 2023 setelah usahanya dirasa cukup mapan.

Kini usaha David bukan lagi sekadar bisnis pribadi. Sedikitnya 80 warga sekitar ikut bergantung dari aktivitas produksi pakaian jadi miliknya.Sebagian bekerja menjahit, memotong pola, memasang kancing, hingga mengemas barang sebelum dikirim. Karena itu, ketika penjualan menurun, yang dipikirkan David bukan hanya soal keuntungan pribadi, tetapi juga nasib para pekerjanya.

“Kondisi sekarang itu bukan bicara untung besar lagi. Bisa bertahan saja sudah syukur,” katanya pelan.

Menurut David, tantangan terbesar UMKM saat ini adalah menjaga usaha tetap hidup di tengah kondisi pasar yang berubah cepat. Trafik penjualan yang tidak stabil membuat pelaku usaha harus terus beradaptasi. Ia sendiri mengaku pernah tertipu hingga Rp167 juta dari pemesan

Meski begitu, penurunan daya beli masyarakat membuat kondisi usaha tidak lagi semudah beberapa tahun lalu, David berharap pemerintah lebih memahami kondisi nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil di daerah. Sebab menurutnya, UMKM desa bukan berarti kebal terhadap gejolak ekonomi global.

“Kami memang enggak pegang dolar. Tapi barang-barang yang kami beli ikut naik karena dolar. Jadi ya tetap kena dampaknya,” tegasnya.

Meski penuh tantangan, David memilih tetap bertahan. Baginya, usaha yang dibangun dari nol itu bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga jalan hidup yang telah menghidupi banyak orang.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mie Ayam Ada di Mana-mana, Berapa Banyak Penjualnya di Indonesia?
Ada Berapa Banyak Penjual Bakso di Indonesia? Angkanya Ternyata Mengejutkan
Negara dengan Orang Terkaya Terbanyak di Dunia, dari Jutawan hingga 500 Orang Terkaya
NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan
Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan
QRIS Makin Menjamur, Eks Karesidenan Pekalongan Catat 723 Ribu Merchant hingga Mei 2026
Brebes Jadi Andalan Pasokan Bawang Merah, BI Tegal Gandeng Riau
Investasi di Eks Karesidenan Pekalongan Serap Hampir 19 Ribu Tenaga Kerja

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 06:10 WIB

Mie Ayam Ada di Mana-mana, Berapa Banyak Penjualnya di Indonesia?

Selasa, 1 September 2026 - 06:10 WIB

Ada Berapa Banyak Penjual Bakso di Indonesia? Angkanya Ternyata Mengejutkan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:50 WIB

Negara dengan Orang Terkaya Terbanyak di Dunia, dari Jutawan hingga 500 Orang Terkaya

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:26 WIB

NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:10 WIB

Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB