BATANG, KANALPLUS.ID – Selama 31 tahun, Anto (52), warga Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, hidup dengan beban rindu yang tak terbendung lantaran kehilangan ibu kandungnya, Gim Suyati (73) yang hilang kontak saat bekerja di Malaysia.
Sejak merantau ke negeri jiran pada 1995 hingga akhirnya terputus kabar, hidup Anto tersiksa rindu. Harapan demi harapan tumbuh, lalu runtuh. Tahun demi tahun berlalu hingga keluarga sempat pasrah dan menggelar tahlilan, meski diam-diam masih menyimpan keyakinan bahwa perempuan yang mereka tunggu sebenarnya masih hidup.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade terpisah, kisah haru itu akhirnya menemukan jalan pulang. Tangis keluarga pecah ketika Anto untuk pertama kalinya kembali melihat wajah ibunya lewat panggilan video dari Malaysia. Sebuah pertemuan yang terasa nyaris mustahil, tetapi akhirnya terjadi berkat bantuan seorang pensiunan warga Malaysia bernama Cik Kamarudin Harun (70).
Anto masih mengingat jelas saat ibunya berpamitan pergi ke Malaysia. Kala itu usianya sekitar 21 tahun. Seperti banyak warga desa lain pada era 1990-an, Gim Suyati berangkat menjadi pekerja migran dengan harapan bisa memperbaiki ekonomi keluarga. Awalnya komunikasi masih berjalan. Mereka saling berkabar lewat telepon umum.
“Tahun 1995 sampai 1997 kami masih komunikasi lewat telepon umum,” ungkap Anto kepada kanalplus.id melalui panggilan What’s App, Selasa (12/5/2026) petang.
Namun pada 1997, sebuah kabar justru menjadi awal kehilangan panjang keluarga itu.
“Ibu sempat bilang mau pulang. Tapi ternyata tidak pernah sampai,” ujarnya lirih.
Setelah kabar itu, hubungan mereka benar-benar terputus. Tidak ada telepon, tidak ada surat, tidak ada jejak dan tidak ada informasi apapun yang bisa diikuti jejaknya.Keluarga hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian.
Rasa kehilangan membuat Anto tak bisa tinggal diam. Pada 2002, ia memutuskan berangkat bekerja ke Malaysia sebagai buruh jahit di sebuah pabrik di Batu Pahat, Johor. Namun sebenarnya ada alasan lain yang lebih besar daripada sekadar mencari nafkah. Ia ingin mencari ibunya.
“Kerja sambil berharap bisa ketemu ibu,” katanya.
Masalahnya, ia sama sekali tidak memiliki petunjuk. Sang ibu tidak pernah memberi alamat pasti tempat tinggalnya di Kuala Lumpur. Di tengah keterbatasan teknologi zaman itu, pencarian dilakukan dengan cara sederhana dan penuh harapan.
Saat libur kerja, Anto kerap pergi ke Kuala Lumpur dan menghabiskan waktu berjam-jam di Terminal Puduraya, terminal utama Malaysia kala itu. Ia hanya duduk memandangi orang-orang yang lalu lalang.
“Kadang saya nongkrong setengah hari di terminal. Barangkali ibu lewat,” tuturnya.
Namun dua tahun di Malaysia tak membuahkan hasil. Anto pulang ke Indonesia pada 2004, lalu kembali lagi ke Malaysia pada 2005 demi melanjutkan pencarian. Namun hasilnya tetap nihil. Hingga akhirnya ia menyerah dan kembali menetap di kampung halaman pada 2008.
Belakangan Anto baru mengetahui alasan mengapa ibunya tak pernah pulang.Ternyata Gim Suyati berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal. Ia ditipu calo dan dikirim tanpa dokumen resmi.
“Berangkatnya lewat agen tidak resmi. Sampai sana tidak dibekali paspor atau dokumen apa pun,” jelasnya.
Akibatnya, sang ibu hidup dalam status tanpa identitas yang jelas selama puluhan tahun. Ia bekerja serabutan demi bertahan hidup. Kadang menjadi petugas kebersihan, kadang membantu pekerjaan rumah tangga.
Meski berkali-kali mendatangi KBRI untuk meminta bantuan, proses kepulangannya selalu menemui jalan buntu karena tidak memiliki dokumen kewarganegaraan.
“Ibu saya berkali-kali ke KBRI, tapi tidak pernah selesai,” terang Anto.
Di sisi lain, sang ibu juga takut pulang lewat jalur ilegal menggunakan tongkang atau jalur laut karena khawatir terjadi hal buruk di perjalanan. Akhirnya, perempuan asal Batang itu memilih bertahan hidup di negeri orang selama 31 tahun.
Di kampung halaman, keluarga Anto hidup di antara harapan dan kepasrahan. Selama bertahun-tahun mereka masih yakin Gim Suyati hidup. Namun setelah lebih dari satu dekade tanpa kabar, keluarga mulai menggelar tahlilan.
Bukan karena benar-benar yakin sang ibu meninggal, tetapi karena mereka tak lagi tahu harus berbuat apa.
“Dalam hati kami tetap yakin ibu hidup. Tapi setelah lama sekali, kami pasrahkan semuanya kepada Allah,” ucap Anto.
Takdir mulai berubah sekitar 10 bulan lalu. Di Malaysia, Gim Suyati bertemu seorang pria tua bernama Cik Kamarudin Harun, warga asli Kuala Lumpur yang sudah pensiun. Usianya hampir sebaya dengan Gim Suyati.
Awalnya mereka hanya saling berbincang. Namun lama-kelamaan hubungan itu berubah menjadi persahabatan.
Cik Kamarudin kemudian mengetahui bahwa sahabat barunya itu sudah puluhan tahun terpisah dari keluarga di Indonesia. Tersentuh mendengar kisah tersebut, pria 70 tahun itu melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan Anto.
Ia memutuskan datang sendiri ke Indonesia untuk mencari keluarga Gim Suyati. Pada 14 April 2026, Cik Kamarudin terbang dari Kuala Lumpur menuju Semarang hanya dengan bekal alamat sederhana yakni ‘Desa Adinuso, Batang’.
Beruntung, ia bertemu sopir taksi bandara yang baik hati dan bersedia mengantarnya hingga ke desa kecil di Kecamatan Reban itu.
“Beliau bilang yang penting bisa menemukan keluarga ibu saya,” kata Anto.
Sesampainya di Adinuso, Cik Kamarudin berhasil bertemu kerabat keluarga Anto. Kabar itu langsung menyebar dan keluarga segera berkumpul. Tak lama kemudian, panggilan video dilakukan.
Di layar telepon, Anto melihat wajah seorang perempuan renta yang telah hilang dari hidupnya selama 31 tahun.
Namun karena terlalu lama berpisah, ia sempat sulit mengenali wajah ibunya sendiri.
“Saya sama ibu sama-sama seperti saling berusaha mengenali,” katanya.
Momen itu berubah haru ketika kakak kandung Gim Suyati ikut melihat layar video call.
“Itu adik saya,” ucap sang kakak memastikan.
Saat itulah tangis pecah. Puluhan tahun rindu yang tertahan akhirnya menemukan jalannya pulang. Keesokan harinya keluarga langsung bermusyawarah dan memutuskan Anto harus berangkat ke Malaysia untuk menjemput ibunya.
Pada 15 April 2026, ia mengurus paspor baru karena paspor lamanya sudah mati sejak 18 tahun lalu.
Tanggal 21 April, Anto terbang ke Malaysia bersama Cik Kamarudin hingga akhirnya bertemu langsung dengan ibunya untuk pertama kalinya selama 31 tahun.
Setelah saling melepas rindu, Anto masih harus menuntaskan niatnya bagaimana caranya membawa pulang sang ibu ke kampung halaman. Rupanya perjuangan ternyata belum selesai. Bahkan baru saja dimulai.
Karena Gim Suyati pergi sebelum era e-KTP dan tidak memiliki dokumen resmi, seluruh administrasi harus diurus dari awal. Bahkan status kewarganegaraannya sempat dianggap tidak jelas atau stateless.
Anto pun harus berkejaran dengan waktu untuk mengurus dokumen yang tidaklah mudah, mulai dari KBRI hingga Kementerian Hukum selama hampir dua pekan.
“Masalah selesai satu, muncul masalah baru lagi,” ujarnya.
Situasi makin rumit karena izin tinggal Anto di Malaysia hanya sampai 20 Mei 2026. Keluarga di Batang akhirnya meminta bantuan anggota DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, agar proses administrasi dipercepat.
“Alhamdulillah setelah dibantu, sehari langsung selesai,” bebernya.
Kini Anto dan ibunya dijadwalkan pulang ke Indonesia pada 14 Mei 2026 melalui Bandara Ahmad Yani Semarang. Bagi Anto, kepulangan itu bukan sekadar perjalanan lintas negara. Itu adalah akhir dari penantian panjang seorang anak yang selama 31 tahun hanya ingin satu hal sederhana dalam hidupnya yakni bertemu kembali dengan perempuan yang melahirkannya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









