KANAL KOTA – Ratusan warga berpakaian batik antusias mengikuti Fun Walk di kawasan Kampoeng Batik Pesindon, Kota Pekalongan. Kegiatan Fun Walk berpakaian batik tersebut masih dalam rangkaian peringatan Hari Batik 2026.
Fun Walk berpakaian batik dilepas Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid pada Sabtu (31/10/2026) dengan rute Kawasan Kampoeng Batik Pesindon.
Walikota yang kerap dipanggil Aaf mengatakan konsep jalan sehat dengan kewajiban mengenakan batik menjadi salah satu cara menghadirkan suasana berbeda dalam peringatan Hari Batik.
Menurutnya antusiasme warga Pesindon dan masyarakat sekitar juga terlihat dari banyaknya peserta yang ikut ambil bagian.
“Alhamdulillah semua tamu undangan juga hadir dan warga Pesindon dan sekitarnya juga antusias ikut. Ini warna baru, jalan sehat dalam rangka Hari Batik, tetapi dress code-nya bertema batik dengan kreasi masing-masing,” terang Aaf.
Ia menambahkan kegiatan peringatan Hari Batik di Kampoeng Batik Pesindon bukan hal baru. Agenda tersebut telah berlangsung sekitar tujuh hingga sembilan tahun sejak kawasan kampung batik itu diresmikan.
Pemerintah Kota Pekalongan juga mengatur koordinasi jadwal dengan kampung batik lainnya, termasuk Kampung Batik Kauman. Langkah tersebut dilakukan agar masing-masing kawasan dapat menggelar kegiatan peringatan Hari Batik tanpa berbenturan jadwal.
“Jadi sama-sama meriah, sama-sama memperingati Hari Batik, tetapi tidak bentrok jadwalnya. Semua diatur dengan Pemkot juga supaya tidak berbenturan,” ujarnya.
Rangkaian peringatan Hari Batik di Kampoeng Batik Pesindon tidak hanya diisi Fun Walk. Panitia juga menyiapkan talkshow dan seminar, serta kirab yang dijadwalkan berlangsung pada malam hari.
Namun, di tengah kemeriahan kegiatan tersebut, Afzan turut menyoroti tantangan yang dihadapi industri batik dan tekstil dalam negeri. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah persaingan produk lokal dengan barang impor.
Ia berharap pemerintah pusat dapat lebih selektif dalam mengatur produk impor yang masuk ke Indonesia, terutama yang berpotensi bersaing langsung dengan produk UMKM.
Menurutnya, perlu ada pemilahan agar kebijakan perdagangan tetap memperhatikan keberlangsungan industri dalam negeri.
“Harapannya ke depan bisa diseleksi lagi apa yang bisa menguatkan sektor UMKM kita, termasuk batik. Apa yang memang tidak terpengaruh, itu harus dipilah-pilah,” jelas Aaf.
Ia menilai persaingan dengan produk impor menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha dalam negeri. Karena itu, persoalan tersebut perlu dibicarakan bersama anggota DPR RI untuk mencari solusi.
“Kalau dalam kondisi sekarang bersaing dengan produk-produk impor, tentunya akan berat di Indonesia sendiri,” ungkapnya.
Aaf juga menyebut rencana audiensi dengan anggota DPR RI untuk membahas persoalan tersebut. Anggota DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo dijadwalkan turut mengisi seminar di Kampung Batik Pesindon, yang salah satu pembahasannya berkaitan dengan perhatian pemerintah terhadap sektor batik dan tekstil.
Selain persoalan persaingan pasar, regenerasi pelaku industri batik juga menjadi perhatian. Afzan mengatakan, edukasi membatik di lingkungan sekolah telah dilakukan secara rutin melalui berbagai kegiatan, termasuk lomba membatik yang melibatkan peserta mulai tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam industri batik tidak harus selalu melalui profesi sebagai pembatik atau pengusaha. Kemampuan teknologi, desain dan pemasaran digital juga bisa menjadi jalan bagi mereka untuk ikut mengembangkan batik.
“Harapannya mereka ini tidak semuanya menjadi pengusaha batik. Tapi ada yang lebih melek teknologi, mereka bisa membantu mendesain batiknya seperti apa, membantu memasarkan dengan digital marketing dan sebagainya,” paparnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












