KANAL PEKALONGAN — Polemik aksi teatrikal dalam Simbangkulon Night Carnival (SKNC) di Kabupaten Pekalongan yang viral di media sosial ternyata turut berdampak terhadap kondisi mental panitia penyelenggara.
Lurah Simbangkulon Agatha Franky Irawan mengungkap, panitia sempat mengalami tekanan setelah kegiatan tersebut mendapat sorotan luas di media sosial. Namun, ia meminta para panitia tidak terpancing dan menjadikan polemik tersebut sebagai bahan evaluasi.
“Secara mental mereka terganggu, tapi sudah saya sampaikan untuk lebih sabar, lebih legowo, untuk bermedsos itu lebih bijak lagi,” katanya usai mendampingi panitia di Polres Pekalongan Kota, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, tekanan yang diterima panitia tidak hanya berupa kritik terhadap kegiatan, tetapi juga menyasar secara pribadi maupun masyarakat Simbangkulon secara umum.
Karena itu, ia meminta warga tidak membalas berbagai komentar negatif yang beredar di media sosial.
“Fokus yang dilakukan ya untuk masyarakat untuk tidak mengomentari hal-hal yang sudah ada, ya sudah dianggap saja selesai,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat Simbangkulon secara umum tidak terpecah akibat polemik tersebut. Sebaliknya, warga disebut masih saling mendukung dan menguatkan.
“Kalau masyarakat Simbangkulon sendiri secara luas bersatu, artinya tidak saling menghujat, tidak saling menghakimi, tidak saling menyalahkan,” katanya.
Meski mengaku masyarakat merasa terpojok akibat sorotan yang muncul, Lurah mengatakan warga memilih menerima kejadian tersebut sebagai pembelajaran.
“Insyaallah masyarakat Simbangkulon menerima, ini bagian dari pembelajaran buat kami masyarakat Simbangkulon,” ujarnya.
Sementara terkait kemungkinan digelarnya kembali SKNC pada tahun depan, Lurah mengatakan belum ada keputusan. Panitia masih akan melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Event serupa akan terselenggara lagi, akan kami rapatkan kembali karena evaluasi belum kami lakukan secara menyeluruh dengan panitia. Keputusan dari kami pun belum,” terangnya.
Menurutnya, kondisi mental panitia setelah mendapat serangan di media sosial juga menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan penyelenggaraan kegiatan berikutnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : Achmad Udin












