KANAL KOTA – Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana kembali digelar di Kota Pekalongan. Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, ajang yang digagas Yayasan Tarbiyatuddunya Wal-Akhiroh dan Majelis Miftahul Maqosid Medono ini memiliki cakupan lebih luas dibanding dua pelaksanaan sebelumnya.
Jika sebelumnya lomba digelar pada tingkat kelurahan dan kecamatan, tahun ini festival naik menjadi tingkat Kota Pekalongan dan memperebutkan piala bergilir Wali Kota Pekalongan.
Ketua Panitia Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana, Ustadz Mudzakiron, mengatakan peningkatan level tersebut menjadi salah satu pembeda utama penyelenggaraan tahun ini.
“Dulu tingkat kelurahan, kemudian tingkat kecamatan, ini baru tingkat kota. Makanya Wali Kota memberikan piala bergilir,” kata Mudzakiron kepada kanalplus.id, Sabtu (22/8/2026).
Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 8 September 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai di Gedung Serbaguna Kecamatan Pekalongan Barat.
Selain itu, tahun ini panitia juga membuka dua kategori lomba. Pertama, Hadroh Al-Banjari khusus peserta usia pelajar. Kedua, Hadroh umum yang dapat diikuti kelompok dewasa, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak.
Pada kategori Al-Banjari, peserta menggunakan rebana secara murni tanpa tambahan alat musik seperti bas. Kemudian setiap grup terdiri dari delapan peserta dan dua pendamping, dengan kuota maksimal 10 grup.
Sementara pada kategori Hadroh umum, penggunaan alat musik lebih beragam. Selain rebana, peserta diperbolehkan menggunakan bas, dum serta instrumen perkusi lainnya. Kuota untuk kategori ini mencapai 15 grup dengan jumlah maksimal 10 orang dalam satu grup.
“Jadi kalau festival yang sekarang ada dua kategori yang dilombakan. Biasanya hanya satu kategori, sekarang ditambah Hadroh umum untuk dewasa, ibu-ibu atau bapak-bapak,” terangnya.
Menariknya, seluruh peserta akan membawakan lagu yang telah ditentukan panitia, terdiri atas lagu wajib dan lagu pilihan. Khusus kategori Hadroh Al-Banjari, lagu wajib yang ditetapkan adalah Nurul Mustafa, sedangkan peserta dapat memilih salah satu dari lima lagu pilihan, yakni Ya Thoibah, Asyiqol Mustafa, Ya Rasulullah, Ya Mina Wal Madinah, dan Ma’salam.
Adapun untuk pelaksanaan lomba, pihak panitia tidak memungut biaya pendaftaran maupun administrasi. Selanjutnya para peserta nantinya akan memperebutkan piala bergilir Wali Kota Pekalongan serta para pemenang juga akan mendapatkan uang pembinaan dari yayasan.
“Untuk pendaftarannya gratis tidak dipungut biaya, namun untuk alat musik yang dipakai disiapkan oleh grup atau peserta atau peserta,” ujar Mudzakiron.
Menurutnya, pembatasan jumlah peserta bukan karena minimnya peminat. Kuota sengaja dibatasi agar seluruh rangkaian perlombaan dapat berlangsung dalam satu hari karena keterbatasan waktu dan penggunaan tempat.
Ia menyebut, antusiasme terhadap kesenian hadroh dan rebana di tengah masyarakat masih cukup tinggi. Bahkan, dalam dua penyelenggaraan sebelumnya, juara yang muncul selalu berbeda sehingga menunjukkan kemampuan antarkelompok relatif merata.
“Iya dua kali berbeda juaranya. Artinya kemampuan sebenarnya merata tiap grup,” katanya.
Festival ini sekaligus menjadi ruang bagi kelompok hadroh dan rebana untuk menyalurkan bakat. Mudzakiron menyebut kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi sekaligus upaya melestarikan budaya Islami dan memperkuat syiar Islam.
Mudzakiron menambahkan kalau Festival Hadroh dan Rebana ditujukan untuk menjadi ajang silaturahmi antarkelompok dan komunitas hadroh di Kota Pekalongan.
Menurutnya, lomba hadroh dan rebana yang digelar oleh yayasan atau kelompok masyarakat masih relatif jarang. Kegiatan serupa lebih sering muncul dalam agenda organisasi, sekolah, maupun kegiatan seni tertentu.
Padahal, kesenian hadroh dan rebana masih lekat dengan kehidupan masyarakat. Kesenian tersebut kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan dan hajatan masyarakat, termasuk acara pernikahan maupun khitanan.
“Di masyarakat masih banyak, masih jalan. Insyaallah masih banyak yang suka dengan lomba seperti itu,” sebutnya.
Dengan meningkatnya level menjadi tingkat kota dan hadirnya kategori baru untuk peserta dewasa, festival tahun ketiga ini diharapkan tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga menjaga keberlangsungan seni musik Islami di tengah masyarakat Kota Pekalongan.
Berikut Link Pendaftaran https://forms.gle/5hNN2zQbLJR9KQLV9
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD














