Padi Biosalin di Bekas Lahan Rob Degayu Tembus 6,6 Ton per Hektare, Gabah Siap Diserap Bulog

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Panen ke empat padi biosalin di lahan sawah Kelurahan Degayu mampu menghasilkan gabah 6,6 ton per hektar dengan salinitas tanah yang cukup tinggi, Rabu (12/8/26).

Panen ke empat padi biosalin di lahan sawah Kelurahan Degayu mampu menghasilkan gabah 6,6 ton per hektar dengan salinitas tanah yang cukup tinggi, Rabu (12/8/26).

KANAL KOTA – Lahan sawah yang sebelumnya terdampak rob di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, mulai menunjukkan hasil setelah ditanami padi biosalin. Varietas yang dikembangkan untuk menghadapi kondisi tanah dan air berkadar garam tinggi itu mampu menghasilkan produktivitas hingga 6,6 ton gabah per hektare berdasarkan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, mengatakan pengembangan padi biosalin telah dilakukan di lahan bekas terdampak rob dengan luas keseluruhan sekitar 56 hektare.

Hasil pengukuran BPS menunjukkan produktivitas di salah satu lahan Degayu mencapai 6,6 ton per hektare. Sementara di kawasan Krapyak, produktivitas padi biosalin bahkan dilaporkan mencapai 8,2 ton per hektare.

“Yang kemarin ini di sini BPS sudah ubinan, produktivitas 6,6 ton per hektare. Yang di Krapyak, laporan BPS produktivitas 8,2 ton,” kata Lili usai panen bersama di lahan Sawah Degayu, Rabu (12/8/2026).

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa lahan pertanian yang sebelumnya menghadapi persoalan salinitas akibat rob masih dapat kembali dimanfaatkan untuk produksi pangan melalui penggunaan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi air asin.

Untuk panen yang berlangsung di lokasi Degayu, Lili menyebut lahan yang dipanen mencapai sekitar 14 hektare. Jika menggunakan produktivitas 6,6 ton per hektare sebagai acuan, potensi hasil gabah dari luasan tersebut berada di kisaran 92,4 ton.

Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan produktivitas ubinan dan luas lahan, bukan angka tonase timbang aktual seluruh hasil panen.

Pengembangan biosalin tersebut juga diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan gabah konsumsi, tetapi sekaligus membangun kemampuan produksi benih di Kota Pekalongan.

Baca Juga :  KEK Industropolis Batang Disiapkan Jadi Arena Sprint Rally, Pemkab Bidik Efek Ekonomi dan Sport Tourism

Lili mengungkapkan hasil panen sebelumnya telah menghasilkan lebih dari lima ton gabah untuk benih. Sebagian hasil lainnya akan diarahkan untuk kebutuhan beras.

“Sudah didampingi, sudah bisa menghasilkan benih padi biosalin. Kemarin lebih dari lima ton untuk benih. Separuh untuk benih, separuh nanti untuk beras,” ujarnya.

Menurut dia, proses produksi benih tersebut mendapat pendampingan dari Balai Besar Sertifikasi Benih di Jawa Tengah. Tujuannya agar benih biosalin yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan sertifikasi dan nantinya berpotensi dikembangkan lebih luas, khususnya di wilayah Pantura Jawa Tengah.

Persoalan lain yang kerap menjadi kekhawatiran petani setelah panen adalah pasar. Namun, Dinperpa Kota Pekalongan memastikan hasil panen biosalin memiliki jalur pemasaran.

Lili mengatakan gabah hasil panen dapat diserap melalui mitra maupun Bulog. Saat ini harga pembelian gabah oleh Bulog disebut berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sedangkan harga di luar Bulog mencapai sekitar Rp7.100-Rp7.300 per kilogram.

“Pasarnya tidak masalah karena sudah ada yang menampung. Kalau tidak, Bulog sudah langsung serap. Kalau sekarang Bulog Rp6.500 per kilo, di luar Bulog sudah Rp7.100 sampai Rp7.300,” jelasnya.

Dengan adanya kepastian pasar tersebut, keberhasilan budidaya biosalin tidak hanya diukur dari kemampuan tanaman bertahan di lahan yang terdampak rob, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan produksi yang memiliki nilai ekonomi bagi petani.

Meski mampu berproduksi di lahan dengan persoalan salinitas, pengembangan padi biosalin masih menghadapi tantangan lain. Petani melaporkan gangguan hama, terutama tikus dan burung.

Untuk mengatasi serangan tikus, Dinperpa menyiapkan pendekatan pengendalian hayati dengan membangun rumah burung hantu (rubuha) di kawasan persawahan.

Baca Juga :  20 Nama Sudah Dikantongi, Siapa Calon Rais Aam Pilihan PCNU Pekalongan?

“Memang ada keluhan petani, tikus. Kita sudah ada upaya membangun rumah burung hantu,” terang Lili.

Sementara untuk gangguan hama lainnya, pemerintah daerah telah mengupayakan bantuan pestisida melalui pemerintah provinsi. Sedangkan serangan burung diantisipasi antara lain melalui pola tanam serempak, sehingga masa tanaman berbuah dan panen tidak terlalu berbeda antarpetak.

Pengembangan padi biosalin di Pekalongan juga mendapat perhatian Bank Indonesia. Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal, Bimala, menyebut teknologi tersebut berpotensi menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan Pantura yang menghadapi persoalan rob dan salinitas.

Menurut dia, pengembangan biosalin perlu dikombinasikan dengan teknologi tepat guna agar produktivitas lahan dapat terus ditingkatkan.

Bimala menyebut saat ini terdapat beberapa pengembangan varietas atau teknologi biosalin yang tengah dibandingkan, termasuk Biosalin 1, Biosalin 2, serta varietas yang dikembangkan bersama IPB.

“Nanti kita lihat apa yang mana yang bagus dan itu nanti diteruskan untuk pembenihannya,” ujarnya.

Ia berharap pengembangan tersebut tidak berhenti di Pekalongan, tetapi dapat menjadi model untuk kawasan Pantura yang memiliki persoalan serupa.

Pasalnya, lahan pertanian di sepanjang pesisir utara Jawa menghadapi tekanan akibat rob dan masuknya air asin. Jika teknologi biosalin mampu mempertahankan produktivitas di lahan tersebut, potensinya tidak hanya berkaitan dengan pemulihan lahan pertanian, tetapi juga dengan menjaga produksi pangan di wilayah pesisir.

Dengan produktivitas 6,6 ton per hektare di Degayu dan 8,2 ton per hektare di Krapyak, padi biosalin kini mulai menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya terancam kehilangan fungsi pertanian masih memiliki peluang untuk kembali produktif.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jabatan Strategis Asisten Administrasi Umum Lowong, Pemkot Pekalongan Terapkan Manajemen Talenta
Purna Tugas, 22 ASN Pemkot Pekalongan Diminta Tetap Aktif di Masyarakat
Percepat Penurunan Prevalensi Bayi Stunting, Pemkot Pekalongan Salurkan Bantuan Beras Premium
Investasi ke Guru PAUD, Pemkot Pekalongan Beri Beasiswa S-1
Perkuat Pendidikan Sejak Usia Dini, Kota Pekalongan Wajibkan Belajar 13 Tahun
Heritage Fun Bike PWI Pekalongan Padukan Olahraga, Wisata dan Pelajaran Sejarah
Dirugikan Vidio Lama Diviralkan, SMP 10 Pekalongan Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pelaku Usaha Batik di Kota Pekalongan Diajak Perkuat Digital Marketing

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:46 WIB

Jabatan Strategis Asisten Administrasi Umum Lowong, Pemkot Pekalongan Terapkan Manajemen Talenta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Purna Tugas, 22 ASN Pemkot Pekalongan Diminta Tetap Aktif di Masyarakat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:38 WIB

Percepat Penurunan Prevalensi Bayi Stunting, Pemkot Pekalongan Salurkan Bantuan Beras Premium

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Investasi ke Guru PAUD, Pemkot Pekalongan Beri Beasiswa S-1

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Perkuat Pendidikan Sejak Usia Dini, Kota Pekalongan Wajibkan Belajar 13 Tahun

Berita Terbaru

Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menyerahkan SK pensiun kepada sejumlah ASN yang purna tugas, Jumat (23/10/26). Foto: dok istimewa

Kota Pekalongan

Purna Tugas, 22 ASN Pemkot Pekalongan Diminta Tetap Aktif di Masyarakat

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:01 WIB