KANAL BISNIS — Pengembangan tanaman aren di KEK Industropolis Batang dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun kemandirian energi hijau, khususnya melalui produksi bioetanol dari nira aren. Direktur Pertamina New and Renewable Energy (NRE) John Eusebius Iwan Anis menyatakan aren merupakan salah satu bahan baku yang dapat dikembangkan untuk menggantikan bensin.
“Jadi salah satu mandat kami adalah menyediakan energi, khususnya energi bersih, dengan harapan ada kemandirian dan juga ketahanan,” ujar John Anis usai kegiatan penanaman bibit aren di kawasan KEK Industropolis Batang, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, nira aren dapat diolah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi, distilasi, dan penyerapan air hingga mencapai kadar alkohol 99,5 persen. Kadar tersebut dibutuhkan agar bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Pengembangan aren tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan energi. John Anis menyebut ada setidaknya tiga manfaat utama yakni, kemandirian dan ketahanan energi, ketahanan pangan melalui gula aren organik serta perbaikan lingkungan melalui penghijauan, konservasi lahan dan penyerapan air.
“Dari green energy to green commodities for better and greener planet,” katanya.
Ia juga menyebut potensi aren untuk memperoleh manfaat carbon credit di masa depan. Menurutnya, aren memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem karena tidak hanya menyerap air, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pertamina NRE menargetkan produksi bioetanol nasional mencapai 1 juta kiloliter per tahun dalam waktu dekat. Target tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan produksi bioetanol nasional saat ini yang menurut John Anis, baru mencapai sekitar 80.000 kiloliter per tahun.
“Kami butuh minimal 30 sampai 50 pabrik. Nah, perlu bahan baku yang luar biasa. Nah, ini makanya aren kami sangat menyambut baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengembangan aren di Batang diharapkan dapat menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku bioetanol, sekaligus membuka peluang dibangunnya pabrik bioetanol di daerah tersebut.
Kehadiran industri bioetanol berbasis aren diproyeksikan memberi manfaat langsung bagi petani, BUMN, dan pelaku usaha lokal. John Anis menyebut pendekatan ini sebagai industri berbasis ekonomi masyarakat, di mana masyarakat harus ikut menikmati dan maju bersama pengembangan industri.
“Uang yang tadinya diekspor ke luar negeri, kita kembalikan ke Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan juga memberikan manfaat bagi para petani,” jelasnya.
Ia berharap dukungan dari pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan masyarakat dapat mempercepat pengembangan aren sebagai bahan baku bioetanol di Batang.
Bioetanol dari aren juga dipandang mendukung penggunaan kendaraan flexi-fuel, yaitu kendaraan yang dapat menggunakan bioetanol maupun bensin biasa. John Anis menjelaskan kendaraan semacam ini sudah digunakan di Brasil, sementara sepeda motor flexi-fuel telah dikembangkan dari India dan Jepang.
“Kalau ada etanol, pakai etanol. Kalau tidak ada etanol, pakai bensin biasa. Jadi sangat fleksibel,” ucapnya.
Menurutnya, model ini memberikan alternatif transisi energi yang lebih mudah diterapkan karena tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik. Ia menekankan bahwa pengembangan bioetanol bukan berarti menolak kendaraan listrik, melainkan memperluas pilihan energi bersih yang dapat diproduksi dari bahan baku dalam negeri.
John Anis menutup pernyataannya dengan harapan bahwa pengembangan aren di Batang dapat mewujudkan kemandirian energi daerah.
“Mimpi kita bersama bahwa daerah ini sudah tidak butuh lagi bensin dari luar daerah sini. Jadi hanya dilakukan produksi langsung di daerah setempat,” tukasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












