Usulan BPIH 2027 Naik Jadi Rp107 Juta, Jemaah Justru Diminta Lunasi Rp18 Juta

- Jurnalis

Selasa, 28 Juli 2026 - 05:50 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Batang, Siti Mahmudah memaparkan usulan komposisi pembiayaan 40 persen ditanggung jemaah dan 60 persen berasal dari nilai manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH),  Senin (27/7/26). Foto : Istimewa

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Batang, Siti Mahmudah memaparkan usulan komposisi pembiayaan 40 persen ditanggung jemaah dan 60 persen berasal dari nilai manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Senin (27/7/26). Foto : Istimewa

BATANG, KANALPLUS.ID – Kabar mengenai usulan kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2027 menjadi Rp107 juta berpotensi menimbulkan salah persepsi di masyarakat. Sebab, jika skema yang diusulkan pemerintah disetujui, calon jemaah justru hanya perlu melunasi sekitar Rp18 juta setelah setoran awal, lebih rendah dibanding pelunasan haji tahun 2026 yang mencapai sekitar Rp26 juta.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Batang, Siti Mahmudah, menjelaskan usulan tersebut menggunakan komposisi pembiayaan 40 persen ditanggung jemaah dan 60 persen berasal dari nilai manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

“Empat puluh persen dari Rp107 juta sekitar Rp43 juta. Karena calon jemaah sudah menyetor biaya awal Rp25 juta, maka pelunasan yang harus dibayar tinggal sekitar Rp18 juta. Sedangkan sisanya sekitar Rp64 juta berasal dari nilai manfaat BPKH. Namun, skema ini masih berupa usulan dan menunggu persetujuan Komisi VIII DPR RI,” ujarnya saat rapat evaluasi penyelenggaraan ibadah haji,  Senin (27/7/2026).

Baca Juga :  ABK KM Timbul Barokah Diduga Terjatuh ke Sungai di Dermaga TPI Batang, Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Menurutnya, skema baru tersebut disiapkan seiring upaya pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji setelah terbentuknya Kementerian Haji dan Umrah. Harapannya, beban pelunasan yang lebih ringan membuat calon jemaah yang sudah masuk daftar berangkat tidak lagi menunda pelunasan.

Selain pembiayaan, pemerintah juga tengah mempercepat proses penetapan istithaah atau kelayakan kesehatan calon jemaah. Penetapan istithaah menjadi syarat penting karena menentukan dibukanya akses pelunasan melalui Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

“Bila istithaah belum dinyatakan, sistem di bank masih terkunci sehingga pelunasan belum bisa dilakukan. Karena itu proses ini sedang diupayakan dimulai lebih awal,” kata Siti.

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, pemeriksaan kesehatan atau medical check up bagi calon jemaah dijadwalkan dimulai pada pertengahan Agustus 2026. Sementara pelunasan biaya haji direncanakan dibuka pada awal September 2026.

Baca Juga :  Cerita Celengan Lima Tahun Siswa SD di Batang untuk Korban Gempa NTT

Ketua Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Kabupaten Batang, Hasanudin, mendukung usulan skema tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya hanya melihat besarnya angka BPIH, tetapi juga komposisi pembiayaannya.

“Kalau dibandingkan tahun 2026, pelunasan sekitar Rp26 juta. Dengan usulan baru, pelunasannya tinggal Rp18 juta. Jadi meskipun total biaya haji naik, beban yang dibayar jemaah justru turun,” jelasnya.

Ia berharap peningkatan anggaran tersebut benar-benar diikuti dengan peningkatan kualitas layanan selama di Tanah Suci, termasuk kepastian informasi yang lebih cepat kepada para pendamping dan calon jemaah agar seluruh proses persiapan keberangkatan berjalan lebih baik.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan
Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado
Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir
Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji
Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta
BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang
Kejari Batang Musnahkan Ratusan Barang Bukti dan Ajak Pelajar-Santri Deklarasi Perundungan
Kurangi Biaya Operasional Melaut, Puluhan Nelayan Roban Barat Batang Dilatih Perbaiki Mesin Perahu

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta

Berita Terbaru