KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Ketika pertama kali mengajar di SMP Negeri 1 Pekalongan pada 1990, Anastasia Herwiningsih hanya datang setiap Jumat untuk mengajar Pendidikan Agama Katolik. Saat itu belum ada internet, belum ada telepon pintar, apalagi kecerdasan buatan atau AI. Murid-murid datang dengan buku tulis di tangan dan rasa hormat yang tinggi kepada guru.
Tiga puluh empat tahun kemudian, perempuan berusia 58 tahun itu masih berdiri di ruang kelas yang sama. Namun, dunia pendidikan yang dihadapinya berubah nyaris total. Kini, tantangan guru bukan lagi sekadar membuat siswa memahami pelajaran, tetapi juga memastikan mereka tetap mampu berpikir dengan kepala sendiri ketika jawaban apa pun bisa diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui AI.
“Sekarang kalau diberi tugas, kadang jawabannya bagus sekali. Setelah dicek, ternyata diambil dari AI. Tapi begitu diminta menulis dengan pikiran sendiri, jawabannya pendek-pendek. Itu tantangan baru bagi guru,” ucapnya kepada kanalplus.id di sela kegiatan MPLS, Selasa (14/7/2026).
Perjalanan Anastasia menjadi guru sebenarnya berawal dari kegagalan. Setelah lulus SMP di Wiradesa, ia bercita-cita masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) karena ingin menjadi guru agama Katolik. Keinginan itu lahir dari pengalamannya sendiri yang saat sekolah tidak memiliki guru agama Katolik sehingga harus mengikuti pelajaran agama Kristen.
Namun cita-cita itu sempat kandas. Ia tidak diterima di SPG dan akhirnya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Pekalongan. Meski demikian, impian menjadi guru tak pernah padam. Setelah lulus dari pendidikan agama Katolik di Solo, ia berharap bisa kembali mengajar di kampung halamannya, Wiradesa.
Pada 1990 ia justru diterima sebagai guru honorer di SMP Negeri 1 Pekalongan. Dua tahun kemudian ia mengikuti seleksi CPNS dan resmi menjadi aparatur sipil negara. Sejak saat itu, sekolah yang semula tidak pernah ia bayangkan menjadi tempat mengabdi, justru menjadi rumah keduanya selama lebih dari tiga dekade.
“Saya sebenarnya ingin ditempatkan di Wiradesa. Tapi ternyata jatah saya di SMPN 1. Ya sudah, mungkin memang Tuhan menghendaki saya mengabdi di sini,” ujarnya.
Kariernya juga jauh dari kata biasa. Karena kekurangan jam mengajar, Anastasia tak hanya mengampu Pendidikan Agama Katolik. Ia pernah dipercaya mengajar Ekonomi, Sejarah, Geografi, Bahasa Jawa, hingga akhirnya menjadi guru Bahasa Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Negeri Semarang pada 2010.
Setiap kali berpindah mata pelajaran, ia merasa harus kembali menjadi murid.
“Saya harus belajar terus setiap malam supaya besok bisa mengajar dengan baik. Guru juga harus terus belajar,” tuturnya.
Perubahan besar mulai benar-benar ia rasakan ketika sistem penerimaan peserta didik berubah dan kebijakan zonasi diberlakukan. Menurutnya, SMP Negeri 1 Pekalongan yang dahulu dikenal sebagai sekolah favorit kini menghadapi tantangan baru dengan karakter dan kemampuan akademik siswa yang jauh lebih beragam.
Jika dulu sebagian besar siswa memiliki kesiapan belajar yang relatif sama, kini guru dituntut mampu mengangkat kemampuan semua anak tanpa memandang latar belakang mereka.
“Tantangannya justru lebih berat. Kami harus bekerja lebih keras supaya semua anak bisa berkembang. Itu memang tugas guru,” katanya.
Namun menurut Anastasia, tantangan terbesar bukanlah perbedaan kemampuan akademik, melainkan perubahan karakter generasi.
Ia mengaku merasakan adanya pergeseran sikap dibandingkan murid-murid pada awal masa pengabdiannya.
“Dulu anak-anak lebih sopan, lebih menghargai guru. Sekarang pengaruh HP, media sosial, game, dan berbagai informasi membuat mereka berubah. Itu menjadi pekerjaan rumah kami untuk tetap membentuk karakter mereka,” terangnya.
Meski demikian, ia tidak ingin menyalahkan teknologi. Baginya, perkembangan digital adalah kenyataan yang harus dihadapi dunia pendidikan. Yang perlu dilakukan guru adalah memastikan teknologi menjadi alat belajar, bukan pengganti proses berpikir.
Karena itulah, ketika menemukan siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, ia memilih tidak langsung melarang. Sebaliknya, ia meminta mereka mengulang pekerjaan dengan bahasa dan pemikiran sendiri agar kemampuan bernalar tetap terasah.
“AI boleh membantu, tetapi jangan sampai menggantikan cara berpikir anak,” paparnya.
Selama 34 tahun mengajar, Anastasia juga menyaksikan ribuan murid datang dan pergi. Banyak di antaranya kini telah sukses di berbagai bidang. Tidak sedikit pula yang masih menyapanya ketika bertemu di jalan.
Kadang justru dirinya yang lupa nama mantan murid.
“Wajahnya masih ingat, tapi namanya sering lupa. Muridnya yang justru masih hafal sama saya,” ucapnya sambil tersenyum.
Menjelang masa pensiun, Anastasia mengaku tidak memiliki target muluk. Ia hanya ingin tetap menjalankan profesinya dengan sepenuh hati hingga hari terakhir mengajar.
Baginya, kurikulum boleh berganti, teknologi akan terus berkembang, bahkan kecerdasan buatan mungkin akan semakin mendominasi proses belajar. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah kehadiran guru sebagai pembentuk karakter.
“Teknologi bisa membantu anak mencari jawaban. Tetapi guru tetap dibutuhkan untuk mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang berkarakter, berpikir kritis, dan menghargai orang lain. Itu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi,” tuturnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













