BATANG, KANALPLUS.ID – Kabupaten Batang hingga awal Juli 2026 belum menerima laporan kekurangan air bersih dari masyarakat, meski suhu udara mulai terasa lebih panas seiring masuknya musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi daerah, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang mulai menyiapkan langkah antisipasi karena kemarau pada 2027 diprediksi berpotensi lebih kering.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, mengatakan seluruh 15 kecamatan di Kabupaten Batang masih relatif aman dari kelangkaan air bersih. Hingga dasarian pertama Juli, belum ada desa yang mengajukan permohonan dropping air.
“Untuk 15 kecamatan masih relatif aman. Sampai sekarang belum ada laporan kekurangan air bersih,” kata Wawan kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari masih terjaganya kawasan hutan dan daerah resapan air, terutama di wilayah selatan Kabupaten Batang. Tutupan vegetasi dinilai masih membantu menjaga cadangan air tanah ketika curah hujan mulai menurun.
“Wilayah dataran tinggi di selatan hutannya masih lumayan terjaga. Artinya tidak ada kegiatan ekstrem sampai penggundulan hutan, sehingga masih bisa menahan resapan air,” ujarnya.
Meski demikian, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap kondisi aman tersebut sebagai alasan mengendurkan upaya perlindungan lingkungan. Pembukaan lahan pertanian di kawasan hutan, terutama untuk pengembangan komoditas tertentu, disebut dapat mengurangi kemampuan tanah menyimpan air.
Wawan meminta kegiatan pertanian tidak terus meluas hingga mengorbankan area hutan. Menurutnya, pengurangan tutupan hutan dapat memperbesar risiko kekeringan ketika musim kemarau datang lebih panjang.
“Kalau menambah area pertanian, misalnya kentang, itu berarti mengurangi area hutan. Ini yang kami imbau agar tetap dijaga,” katanya.
BPBD Batang mencatat musim kemarau tahun ini mulai benar-benar dirasakan masyarakat pada Juli. Pada Juni, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah. Namun, pada bulan ini, sebagian besar wilayah Batang mulai mengalami hari tanpa hujan dengan suhu siang yang lebih menyengat.
Berdasarkan paparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kepada BPBD se-Jawa Tengah, kemarau tahun 2026 diproyeksikan cukup panas. Dalam paparan tersebut, BMKG menggunakan istilah ‘Godzilla’ sebagai ilustrasi kondisi kemarau yang lebih ekstrem.
“BMKG menyampaikan istilah Godzilla. Artinya, itu ilustrasi bahwa tahun ini kemaraunya lumayan panas,” ujar Wawan.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Karena itu, BPBD meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air serta mewaspadai dampak lain musim kering, termasuk potensi kebakaran lahan, kebakaran permukiman akibat aktivitas pembakaran, hingga menurunnya debit sumber air warga.
Ancaman yang lebih besar justru diproyeksikan muncul pada 2027. Wawan menyebut curah hujan pada awal 2027 diperkirakan tidak setinggi awal 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat pengisian cadangan air tanah lebih sedikit sebelum wilayah memasuki musim kemarau.
“Godzilla tahun ini diprediksi lebih parah lagi pada 2027. Tahun ini panas, tetapi tahun depan bisa lebih kekeringan karena prediksi hujan awal tahun tidak setinggi awal 2026. Stok air untuk kemarau 2027 otomatis lebih sedikit,” jelasnya.
Untuk menghadapi kemungkinan tersebut, BPBD Batang memastikan kesiapsiagaan armada pengangkut air bersih tetap dilakukan setiap musim kemarau. BPBD juga menyiapkan koordinasi dengan Perumda Air Minum atau PDAM serta Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mendukung distribusi air apabila ada wilayah yang mengalami kekeringan.
Pada 2024, BPBD Batang pernah melakukan dropping air bersih ke sejumlah kecamatan, antara lain Limpung, Batang, Wonotunggal, Bandar, Kandeman, Warungasem, Subah, dan Pecalungan. Namun pada 2025, Kabupaten Batang tercatat tidak mengalami permintaan distribusi air bersih.
“Setiap musim kemarau kami selalu siaga. Tidak hanya BPBD, kami dibantu PDAM dan PMI untuk armada tangki air. Untuk stok air, PDAM siap membantu penuh dan tanpa biaya bagi masyarakat,” tutur Wawan.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












