Dari 32 Desa Wisata di Batang Hanya Empat yang Masih Aktif, Disparpora Soroti SDM dan Pengelolaan

- Jurnalis

Jumat, 3 Juli 2026 - 06:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Disparpora Kabupaten Batang mencatat dari puluhan desa wisata saat ini tinggal empat yang masih aktif, Jumat (3/7/26). Foto : Ilustrasi AI

Disparpora Kabupaten Batang mencatat dari puluhan desa wisata saat ini tinggal empat yang masih aktif, Jumat (3/7/26). Foto : Ilustrasi AI

BATANG, KANALPLUS.ID – Kabupaten Batang telah menetapkan 32 desa wisata melalui surat keputusan pemerintah daerah. Namun, jumlah tersebut belum sepenuhnya mencerminkan geliat pariwisata berbasis desa di lapangan.

Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Batang mencatat, dari puluhan desa wisata yang telah ditetapkan, saat ini hanya sekitar empat desa yang masih aktif mengelola dan mengembangkan potensi wisatanya secara berkelanjutan.

Empat desa tersebut yakni Desa Wisata Pandansari, Besani, Celong, serta Desa Wisata Pantai Jodo.

Kepala Bidang Destinasi dan Usaha Pariwisata Disparpora Kabupaten Batang, Debby Sintya Rengganis, mengatakan kondisi itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah di tengah dorongan program 1.000 desa wisata yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Dari 32 desa wisata yang sudah ada, yang benar-benar aktif saat ini hanya sekitar empat desa wisata, seperti Pandansari, Besani, Celong, dan Desa Wisata Pantai Jodo,” kata Debby, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya, penetapan status desa wisata tidak otomatis membuat sebuah desa mampu menarik wisatawan atau menggerakkan ekonomi masyarakat. Desa perlu memiliki pengelolaan yang konsisten, sumber daya manusia yang siap, administrasi yang tertata, serta paket wisata yang jelas.

Baca Juga :  TKW Batang Hilang 31 Tahun di Malaysia, Kades Adinuso Akui Lemahnya Pendataan Pekerja Migran di Desanya

“Desa wisata itu tidak cukup hanya memiliki objek wisata. Harus ada pemaketan wisata yang menarik, misalnya mengangkat kearifan lokal, tradisi masyarakat, pertunjukan seni, kuliner khas, hingga pengalaman yang tidak bisa ditemukan wisatawan di tempat lain,” ujarnya.

Program 1.000 desa wisata dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut Debby, menjadi momentum bagi Batang untuk tidak sekadar menambah jumlah desa berstatus wisata. Pemerintah daerah juga perlu kembali memetakan desa-desa yang berpotensi dan memastikan pengelolaannya tidak berhenti setelah peresmian.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk mencari dan mengembangkan potensi desa wisata baru di Kabupaten Batang, tentunya dengan memenuhi berbagai kriteria yang ditetapkan,” katanya.

Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu persoalan utama yang membuat sejumlah desa wisata belum berkembang optimal. Selain itu, banyak desa dinilai belum mampu mengemas potensi lokal menjadi pengalaman wisata yang layak dijual kepada pengunjung.

Padahal, Kabupaten Batang memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari kawasan pegunungan, perkebunan, sungai, hingga wilayah pesisir. Potensi budaya, kuliner, tradisi, dan aktivitas masyarakat juga dinilai dapat menjadi daya tarik apabila dikembangkan secara serius.

Baca Juga :  Pria Tewas Tertemper KA Kamandaka di Jalur Rel Pekalongan-Batang

“Potensi desa di Kabupaten Batang sebenarnya luar biasa. Kita punya laut, gunung, budaya, dan tradisi masyarakat. Yang perlu diperkuat adalah bagaimana pengelolaannya bisa berkelanjutan, jangan hanya ramai sesaat lalu berhenti,” tegas Debby.

Ia menilai tren wisata saat ini mulai bergeser. Wisatawan tidak hanya mencari tempat untuk berfoto, tetapi juga pengalaman yang lebih autentik, seperti tinggal di rumah warga, ikut bertani, mengenal tradisi lokal, belajar membuat produk khas desa, hingga menikmati kuliner yang disajikan langsung oleh masyarakat.

Karena itu, desa wisata didorong menyiapkan fasilitas pendukung, salah satunya homestay berbasis rumah warga. Konsep tersebut dinilai dapat memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.

“Yang dicari wisatawan sekarang adalah pengalaman. Misalnya merasakan kehidupan desa, bertani, mengenal budaya lokal, belajar membuat produk tradisional, atau tinggal di homestay. Itu justru menjadi daya tarik tersendiri,” tutupnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Batang Selatan Berpeluang Punya Rumah Sakit, Pemkab Kaji Lokasi di Bawang hingga Bandar
Pemkab Batang Bakal Pasang 9.100 Lampu Jalan, Desa Diminta Petakan Titik Rawan
Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan
Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado
Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir
Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji
Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta
BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:26 WIB

Batang Selatan Berpeluang Punya Rumah Sakit, Pemkab Kaji Lokasi di Bawang hingga Bandar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Pemkab Batang Bakal Pasang 9.100 Lampu Jalan, Desa Diminta Petakan Titik Rawan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir

Berita Terbaru