BATANG, KANALPLUS.ID – Banjir rob dan intrusi air laut yang melanda kawasan pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berdampak pada lebih dari 400 hektare lahan pertanian. Masuknya air laut ke daratan menyebabkan air tanah berubah menjadi payau sehingga produktivitas padi mengalami penurunan drastis.
Wilayah yang terdampak paling besar berada di Kelurahan Kasepuhan serta Desa Denasri Kulon dan Denasri Wetan, Kecamatan Batang. Kondisi tersebut membuat sebagian lahan tidak lagi ideal untuk ditanami padi konvensional.
Sebagai langkah adaptasi terhadap perubahan lingkungan, Pemerintah Kabupaten Batang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) mengembangkan program padi bio salin yang dirancang khusus untuk lahan terdampak rob.
Program percontohan tersebut saat ini dikembangkan di lahan seluas 20 hektare di Kelurahan Kasepuhan dan dikelola oleh Kelompok Tani Intani. Selain mendapatkan pendampingan teknologi dari BRIN, program ini juga didukung pembiayaan operasional dari PGN.
Tidak hanya mengembangkan varietas padi yang toleran terhadap kadar garam tinggi, program bio salin juga menerapkan konsep mina padi salin dengan mengintegrasikan budidaya ikan nila salin dan rumput laut di satu hamparan lahan.
Bupati Batang, Faiz Kurniawan, mengatakan pengembangan bio salin merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan sekaligus memberikan harapan baru bagi para petani di wilayah pesisir.
“Ini adalah momentum awal memberikan harapan baru bagi para petani. Setidaknya ada sekitar 30 hektare sebagai langkah awal dan contoh yang diharapkan nantinya lebih dari 400 hektare lahan yang terdampak bisa kembali ditanami. Lahan yang dulu hijau diharapkan akan kembali hijau meski sebelumnya tergenang air rob,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Selain di Kelurahan Kasepuhan, pengembangan bio salin juga dilakukan di wilayah Depok, Kecamatan Kandeman, dengan luas lahan padi salin mencapai 10 hektare.
Sebelumnya, dampak rob dan intrusi air laut menyebabkan produktivitas padi di kawasan pesisir Batang turun signifikan, dari rata-rata sekitar 8 ton per hektare menjadi hanya sekitar 3 ton per hektare.
Melalui program ini, lanjut Faiz, petani diharapkan tidak hanya mampu memulihkan fungsi lahan pertanian, tetapi juga memperoleh sumber pendapatan tambahan. Sistem mina padi salin dengan memanfaatkan saluran air atau caren untuk budidaya ikan nila salin dan rumput laut, sehingga dalam satu lahan dapat dihasilkan beberapa komoditas sekaligus.
“Pemkab menargetkan program bio salin dapat menjadi model pengelolaan lahan pesisir yang terdampak perubahan lingkungan. Dengan dukungan teknologi dan pendampingan para peneliti, lahan yang sebelumnya terancam tidak produktif diharapkan kembali menjadi sumber pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah pesisir,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









