Polisi Buru Bayi Bermasalah Kaki di Pekalongan, Ada Apa?

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Polisi Pekalongan sedang gencar berburu bayi yang memiliki kelainan bentuk kaki dengan mengerahkan Bhabinkamtibmas dan Sidokkes hingga ke pelosok desa, Jumat (28/8/26). Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

Polisi Pekalongan sedang gencar berburu bayi yang memiliki kelainan bentuk kaki dengan mengerahkan Bhabinkamtibmas dan Sidokkes hingga ke pelosok desa, Jumat (28/8/26). Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

KANAL PEKALONGAN – Polisi di Kabupaten Pekalongan sedang ‘memburu’ seorang bayi. Namun, bukan karena terlibat kasus kriminal. Bayi berusia 14 hari itu dicari petugas karena diduga mengalami kelainan bentuk kaki sejak lahir yang membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Tim Sidokkes Polres Pekalongan bersama Bhabinkamtibmas bahkan turun langsung ke wilayah pelosok Kecamatan Bojong untuk menemukan dan memastikan kondisi bayi tersebut.

Setelah berhasil menemukannya di wilayah kerja Puskesmas Bojong II, petugas tidak hanya melakukan pemeriksaan awal. Kondisi bayi dicek, orang tua diberi pemahaman, hingga rujukan untuk penanganan lebih lanjut mulai disiapkan.

Bayi tersebut mengalami Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), kelainan bawaan lahir yang membuat telapak kaki bayi menekuk ke arah dalam dan bawah.

Kondisi ini sebenarnya dapat ditangani, terutama jika diketahui sejak bayi. Karena itu, petugas berupaya memastikan bayi tersebut tidak terlambat mendapatkan pengobatan.

Baca Juga :  KPK Kembali Bidik ASN dan Swasta di Pekalongan, 23 Saksi Dijadwalkan Diperiksa di Mapolres Pekalongan Kota

“Jadi perlu deteksi dini, penanganan tepat, masa depan cerah,” ujar Kasi Humas Polres Pekalongan Iptu Suwarti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/8/2026)

Di tengah masyarakat, kelainan kaki sejak lahir terkadang masih dikaitkan dengan mitos atau anggapan tertentu. Petugas pun memberikan edukasi kepada keluarga agar tidak merasa takut maupun malu dengan kondisi yang dialami anak mereka.

CTEV merupakan kondisi medis yang membutuhkan penanganan dokter. Jika dibiarkan tanpa terapi yang tepat, kelainan tersebut dapat mengganggu kemampuan berjalan dan dalam kondisi tertentu menyebabkan masalah jangka panjang.

Karena usia bayi masih sangat dini, peluang keberhasilan penanganan juga menjadi salah satu alasan polisi mendorong keluarga segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan dan dokter spesialis ortopedi.

Salah satu metode yang umum digunakan untuk menangani CTEV pada bayi adalah Metode Ponseti, yakni terapi bertahap untuk mengoreksi posisi kaki.

Baca Juga :  Kotak Amal di Jembatan Garuda Merah Putih Mulai Disiapkan, DPRD Ingatkan Jangan Berujung Pungli

Polisi juga memastikan pendampingan tidak berhenti setelah kunjungan pertama.

Tim Sidokkes bersama Bhabinkamtibmas akan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat untuk memantau proses pengobatan dan memastikan keluarga memperoleh akses terhadap layanan medis yang dibutuhkan.

Dalam kasus bayi tersebut, polisi memilih turun langsung setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi sang anak.

Tujuannya sederhana, jangan sampai kelainan yang sebenarnya masih bisa ditangani sejak dini justru berkembang menjadi masalah yang lebih berat karena keluarga terlambat mendapatkan informasi dan akses pengobatan.

“Satu langkah kecil kunjungan kami bisa mengubah seluruh kehidupan si kecil selamanya,” tutupnya.

Polres Pekalongan menyatakan akan terus melakukan penelusuran di wilayahnya untuk menemukan warga, khususnya anak-anak, yang membutuhkan akses kesehatan dan pendampingan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPRD Pekalongan Soroti Kasus Dugaan Mesum Kepsek dan Guru, Minta Proses Sesuai Aturan
Jalan Mulus Depan Kantor Bupati Pekalongan Diaspal Ulang dengan Anggaran Rp755 Juta, Warga Mrepet Begini
Kasus Video Tak Senonoh Oknum Kepala Sekolah dan Guru di Pekalongan Tunggu Sanksi Berat
Pohon Pinus Tumbang Timpa Kabel Listrik, Nyaris Picu Kebakaran Hutan Petungkriyono
Buruh Serabutan di Pekalongan Disurati DJP soal Data Pembelian Rp1,7 Miliar, Pihak Desa Telusuri Kebenarannya
Kepala SD Negeri di Pekalongan Dicopot Usai Terbukti Mesum dengan Guru di Sekolah
Utang Pasangan Lansia Dayat-Darmi di Pekalongan Mulai Tuntas, Pinjaman Mekar dan BTPN Dilunasi
Pemkab Pekalongan Pastikan Utang Pasangan Lansia Dayat-Darmi Diselesaikan Kekeluargaan

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 14:50 WIB

DPRD Pekalongan Soroti Kasus Dugaan Mesum Kepsek dan Guru, Minta Proses Sesuai Aturan

Senin, 7 September 2026 - 15:41 WIB

Jalan Mulus Depan Kantor Bupati Pekalongan Diaspal Ulang dengan Anggaran Rp755 Juta, Warga Mrepet Begini

Senin, 7 September 2026 - 11:29 WIB

Kasus Video Tak Senonoh Oknum Kepala Sekolah dan Guru di Pekalongan Tunggu Sanksi Berat

Sabtu, 5 September 2026 - 09:30 WIB

Pohon Pinus Tumbang Timpa Kabel Listrik, Nyaris Picu Kebakaran Hutan Petungkriyono

Sabtu, 5 September 2026 - 08:57 WIB

Buruh Serabutan di Pekalongan Disurati DJP soal Data Pembelian Rp1,7 Miliar, Pihak Desa Telusuri Kebenarannya

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB