Jalan Mulus Depan Kantor Bupati Pekalongan Diaspal Ulang dengan Anggaran Rp755 Juta, Warga Mrepet Begini

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 15:41 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jalan di depan kantor bupati dan DPRD Pekalongan diaspal ulang meski kondisi masih layak diprotes warga, Senin (7/8/26). Foto: Istimewa

Jalan di depan kantor bupati dan DPRD Pekalongan diaspal ulang meski kondisi masih layak diprotes warga, Senin (7/8/26). Foto: Istimewa

KANAL PEKALONGAN – Pengaspalan ruas jalan di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan, tepat di depan Kantor Bupati dan Gedung DPRD setempat membuat bingung warga.

Pasalnya, pekerjaan yang berlangsung sejak Jumat hingga Sabtu (4-5/9/2026) itu dilakukan pada ruas jalan yang dinilai masih relatif layak dilalui, sementara sejumlah jalan di wilayah kecamatan hingga desa masih mengalami kerusakan cukup parah.

Berdasarkan data yang diperoleh,  pekerjaan pengaspalan di ruas Alun-alun Utara Kajen tersebut menggunakan anggaran APBD Kabupaten Pekalongan sebesar Rp755 juta.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal skala prioritas pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Pekalongan.

Yusuf Bahar, warga Kajen, mengatakan persoalan jalan rusak masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Menurutnya, pemerintah semestinya lebih dulu mengarahkan anggaran ke ruas jalan yang kerusakannya lebih parah dan menjadi jalur vital masyarakat.

“Masalah jalan rusak, jalan berlubang, jalan bergelombang, jalan ditambal-tambal ini menjadi persoalan serius di Kabupaten Pekalongan,” ujar Yusuf, Senin (7/9/2026).

Ia mengaku dalam sepekan terakhir masih menemukan sejumlah ruas jalan dengan kondisi memprihatinkan.

Salah satunya jalur Karanganyar-Lebakbarang, termasuk ruas di Desa Wangandowo, Kecamatan Bojong. Kerusakan di kawasan tersebut, kata dia, membutuhkan perhatian pemerintah.

Keluhan serupa juga ditemuinya saat melintas di jalur tengah Tirto menuju Kota Pekalongan.

“Di Kajen saja, yang dekat dengan kekuasaan, juga banyak yang susah. Dari area Gandarum sampai menuju objek wisata Linggo Asri itu juga parah. Belum lagi di desa-desa,” katanya.

Baca Juga :  Gagal Tagih Bonus Perekrutan, Calo ABK di Pekalongan Serang Nahkoda Dengan Sangkur

Yusuf mempertanyakan alasan ruas jalan di depan kompleks pemerintahan mendapatkan pengaspalan kembali dengan anggaran ratusan juta rupiah.

Menurut dia, berdasarkan kondisi yang dilihatnya sebelum pekerjaan dimulai, jalan tersebut tidak mengalami kerusakan berat.

“Harusnya anggaran dan perhatian pemerintah lebih dahulu diarahkan ke jalan yang tingkat kerusakannya lebih parah dan menjadi jalur vital bagi aktivitas masyarakat. Bukan jalan yang masih mulus diperbaiki dan diaspal lagi,” urainya.

Ia juga mempertanyakan seberapa mendesak kondisi jalan di depan Kantor Bupati dan Gedung DPRD dibandingkan ruas lain yang kerusakannya jauh lebih berat.

“Kalau bergelombang pun, separah apa? Apakah separah yang terjadi di jalan utama dan di desa-desa?” tanyanya.

Bagi Yusuf, pembangunan infrastruktur tidak semestinya hanya melihat lokasi yang berada di pusat pemerintahan. Jalan yang menjadi akses masyarakat menuju sekolah, fasilitas kesehatan maupun pusat kegiatan ekonomi, menurutnya, justru perlu mendapat perhatian berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan pengguna.

“Harapannya, prioritaskan pengaspalan jalan di akses pendidikan, kesehatan dan ekonomi,” tuturnya.

Yusuf menilai persoalan jalan rusak bukan semata-mata menyangkut kenyamanan berkendara. Kondisi jalan yang buruk juga berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan.

Terlebih, sejumlah ruas di Kabupaten Pekalongan kini banyak dilalui kendaraan berat.

“Jalan rusak, risiko kecelakaan semakin tinggi. Tahu sendiri sekarang banyak truk-truk besar di Kabupaten Pekalongan. Arusnya juga padat, ditambah jalan rusak,” bebernya.

Baca Juga :  Gubernur Jateng Soroti KTP Dipakai Judi Online, Bansos Warga Miskin Bisa Ikut Terdampak

Ia khawatir kerusakan yang dibiarkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, kerusakan kendaraan hingga korban luka maupun meninggal dunia.

“Jangan hanya memoles jalan di depan gedung pemerintahan. Kalau bergelombang saja, mereka sudah tidak nyaman berkendara sampai harus diaspal halus, begitu juga keadaan yang lebih parah dialami saya dan warga Pekalongan lainnya barangkali soal jalan yang rusak ini,” tandasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Pekalongan Sukirman memberikan penjelasan berbeda mengenai kondisi ruas jalan tersebut.

Menurut Sukirman, jalan di depan kantor pemerintahan memang mengalami kerusakan berupa permukaan yang bergelombang. Ia menyebut pekerjaan tersebut merupakan bagian dari pemeliharaan jalan.

“Jalan depan kantor kan jalannya ngerjul-ngerjul (bergelombang),” terang Sukirman.

Ia menegaskan pengaspalan tersebut bukan pembangunan jalan baru, melainkan pemeliharaan agar kerusakan tidak semakin parah.

“Itu hanya pemeliharaan saja, kalau tidak dipelihara nanti ruwak (rusak) lagi bro,” sebutnya.

Dengan demikian, polemik pengaspalan ruas jalan di pusat pemerintahan tersebut bukan semata soal kondisi jalan, tetapi juga menyangkut pertanyaan mengenai prioritas penggunaan anggaran daerah.

Di satu sisi, Pemkab Pekalongan menyebut pekerjaan senilai Rp755 juta itu sebagai pemeliharaan untuk mencegah kerusakan semakin parah. Di sisi lain, warga mempertanyakan apakah ruas tersebut memang lebih mendesak dibandingkan jalan-jalan lain yang kondisinya dinilai lebih buruk dan langsung menjadi akses aktivitas masyarakat.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan
Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai
Viral Karnaval Simbangkulon, Lurah Akui Mental Panitia Terganggu
MUI Pekalongan Sebut Tak Perlu Salat Taubat Terkait Kontroversi Karnaval Simbangkulon
Sekda Pekalongan Angkat Bicara, Panitia Karnaval Sebagai Respons Video Viral Aksi Mirip Ritual Satanik

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter

Senin, 21 September 2026 - 14:00 WIB

Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan

Rabu, 16 September 2026 - 07:46 WIB

Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai

Berita Terbaru