Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dugaan aksi perundungan kembali terjadi di Kabupaten Pekalongan, korbannya seorang siswa kelas VI di SDN Langkap 02 seperti diungkap orang tuanya, Rabu (28/10/26). Foto: Ilustrasi AI

Dugaan aksi perundungan kembali terjadi di Kabupaten Pekalongan, korbannya seorang siswa kelas VI di SDN Langkap 02 seperti diungkap orang tuanya, Rabu (28/10/26). Foto: Ilustrasi AI

KANAL PEKLAONGAN — Seorang siswa SDN Langkap 02 Kabupaten Pekalongan diduga menjadi korban perundungan oleh teman-teman sekelasnya. Dugaan itu diungkap oleh ayah korban, Febi Firdaus (34), warga Desa Kalimojosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.

Febi menjelaskan, anaknya merupakan murid pindahan yang masuk ke sekolah tersebut saat duduk di kelas III. Menurutnya, anaknya sempat mengalami kekerasan fisik dari teman sekelas beberapa waktu setelah masuk sekolah. Kejadian itu, kata dia, berlanjut saat anaknya berada di kelas IV dan kelas V, sebelum mencapai puncaknya ketika kelas VI.

“Ini berawal dari laporan adiknya dan juga KFN. Anak saya ini merupakan murid pindahan yang masuk ke sekolah tersebut saat kelas III,” beber Febi kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).

Febi mengatakan kondisi anaknya kemudian memburuk hingga diduga mengalami depresi. Keluarga kemudian melakukan mediasi dengan pihak sekolah terkait kejadian yang dialami anaknya.

Sejak kejadian itu, anaknya dikatakan tidak mau lagi mengenakan seragam dan menolak berangkat ke sekolah. Febi menyebut, sebelumnya anaknya memang sudah kesulitan diajak berangkat sekolah, tetapi masih bisa dipaksa. Setelah kejadian tersebut, anaknya benar-benar tidak mau sekolah.

Baca Juga :  Tokoh Masyarakat Simbangkulon Sepakati Eks Santri Madin Padepokan Padang Ati Pekalongan Kembali ke Madrasah Terdekat

“Kalau pagi, dia susah sekali diajak berangkat sekolah. Setelah kejadian ini, anak saya benar-benar tidak mau sekolah,” ucapnya.

Perubahan juga terjadi pada kegiatan sehari-hari anak tersebut. Febi menyebut pola makan anaknya berubah, sulit makan, dan sempat tidak tidur selama dua sampai tiga hari. Menurutnya, kondisi tersebut semakin parah terutama pada bulan Oktober.

Febi menjelaskan, awalnya anaknya mengalami demam dan dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan. Dari hasil pemeriksaan, pihak puskesmas menyarankan anak tersebut dibawa ke poli jiwa.

Setelah demamnya turun, perubahan perilaku anaknya semakin terlihat. Febi mengatakan anaknya mulai mengamuk pada malam hari, memukul-mukul dirinya sendiri, tidak mau makan dan tidak bisa tidur.

“Kalau dibilang kehilangan ingatan, tidak. Namun, halusinasinya cukup berlebihan,” kata Febi.

Ia juga menyebut anaknya pernah memukul ibunya, memukul adiknya, serta menyiramkan air. Kondisi itu, menurut Febi, sangat memprihatinkan bagi keluarga.

Baca Juga :  Jalan Desa Wonorejo Bakal Disulap, TMMD Mulai Garap 800 Meter Akses yang Lama Dinanti Warga

Keluarga korban kemudian berinisiatif memanggil guru dan siswa-siswa yang terlibat untuk membicarakan persoalan tersebut. Febi menyebut wali murid dari anak-anak yang terlibat juga sudah datang ke rumahnya.

“Sudah. Kami juga berinisiatif memanggil guru dan siswa-siswa yang terlibat untuk membicarakan persoalan ini. Bahkan, wali murid dari anak-anak yang terlibat juga sudah datang ke rumah kami,” ujarnya.

Febi berharap anaknya dapat segera pulih dan kejadian serupa tidak terulang, baik di sekolah tersebut maupun di sekolah lain. Ia juga berharap tidak ada anak lain yang mengalami kejadian serupa.

Menurut Febi, pihak keluarga anak-anak yang terlibat dan pihak sekolah sudah menunjukkan iktikad baik untuk mendampingi keluarganya ke depan. Ia menyebut pihak terkait juga bersedia mendampingi terkait fasilitas kesehatan dan kebutuhan pemulihan anaknya.

Untuk penanganan kesehatan, Febi mengatakan anaknya telah dibawa ke poli jiwa dan psikiater. Keluarga juga berupaya membawa anaknya menjalani terapi pijat saraf.

“Kami berharap pendampingan tersebut bisa terus berlanjut,” tutup Febi.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan
Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai
Viral Karnaval Simbangkulon, Lurah Akui Mental Panitia Terganggu
MUI Pekalongan Sebut Tak Perlu Salat Taubat Terkait Kontroversi Karnaval Simbangkulon

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter

Senin, 21 September 2026 - 14:00 WIB

Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih

Berita Terbaru