KANAL PEKLAONGAN — Seorang siswa SDN Langkap 02 Kabupaten Pekalongan diduga menjadi korban perundungan oleh teman-teman sekelasnya. Dugaan itu diungkap oleh ayah korban, Febi Firdaus (34), warga Desa Kalimojosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.
Febi menjelaskan, anaknya merupakan murid pindahan yang masuk ke sekolah tersebut saat duduk di kelas III. Menurutnya, anaknya sempat mengalami kekerasan fisik dari teman sekelas beberapa waktu setelah masuk sekolah. Kejadian itu, kata dia, berlanjut saat anaknya berada di kelas IV dan kelas V, sebelum mencapai puncaknya ketika kelas VI.
“Ini berawal dari laporan adiknya dan juga KFN. Anak saya ini merupakan murid pindahan yang masuk ke sekolah tersebut saat kelas III,” beber Febi kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).
Febi mengatakan kondisi anaknya kemudian memburuk hingga diduga mengalami depresi. Keluarga kemudian melakukan mediasi dengan pihak sekolah terkait kejadian yang dialami anaknya.
Sejak kejadian itu, anaknya dikatakan tidak mau lagi mengenakan seragam dan menolak berangkat ke sekolah. Febi menyebut, sebelumnya anaknya memang sudah kesulitan diajak berangkat sekolah, tetapi masih bisa dipaksa. Setelah kejadian tersebut, anaknya benar-benar tidak mau sekolah.
“Kalau pagi, dia susah sekali diajak berangkat sekolah. Setelah kejadian ini, anak saya benar-benar tidak mau sekolah,” ucapnya.
Perubahan juga terjadi pada kegiatan sehari-hari anak tersebut. Febi menyebut pola makan anaknya berubah, sulit makan, dan sempat tidak tidur selama dua sampai tiga hari. Menurutnya, kondisi tersebut semakin parah terutama pada bulan Oktober.
Febi menjelaskan, awalnya anaknya mengalami demam dan dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan. Dari hasil pemeriksaan, pihak puskesmas menyarankan anak tersebut dibawa ke poli jiwa.
Setelah demamnya turun, perubahan perilaku anaknya semakin terlihat. Febi mengatakan anaknya mulai mengamuk pada malam hari, memukul-mukul dirinya sendiri, tidak mau makan dan tidak bisa tidur.
“Kalau dibilang kehilangan ingatan, tidak. Namun, halusinasinya cukup berlebihan,” kata Febi.
Ia juga menyebut anaknya pernah memukul ibunya, memukul adiknya, serta menyiramkan air. Kondisi itu, menurut Febi, sangat memprihatinkan bagi keluarga.
Keluarga korban kemudian berinisiatif memanggil guru dan siswa-siswa yang terlibat untuk membicarakan persoalan tersebut. Febi menyebut wali murid dari anak-anak yang terlibat juga sudah datang ke rumahnya.
“Sudah. Kami juga berinisiatif memanggil guru dan siswa-siswa yang terlibat untuk membicarakan persoalan ini. Bahkan, wali murid dari anak-anak yang terlibat juga sudah datang ke rumah kami,” ujarnya.
Febi berharap anaknya dapat segera pulih dan kejadian serupa tidak terulang, baik di sekolah tersebut maupun di sekolah lain. Ia juga berharap tidak ada anak lain yang mengalami kejadian serupa.
Menurut Febi, pihak keluarga anak-anak yang terlibat dan pihak sekolah sudah menunjukkan iktikad baik untuk mendampingi keluarganya ke depan. Ia menyebut pihak terkait juga bersedia mendampingi terkait fasilitas kesehatan dan kebutuhan pemulihan anaknya.
Untuk penanganan kesehatan, Febi mengatakan anaknya telah dibawa ke poli jiwa dan psikiater. Keluarga juga berupaya membawa anaknya menjalani terapi pijat saraf.
“Kami berharap pendampingan tersebut bisa terus berlanjut,” tutup Febi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












