Produktivitas naik hampir dua kali lipat berkat sistem pertanian presisi, drone, hingga pompa air tenaga surya.
BREBES, KANALPLUS.ID – Perubahan cara bertani mulai menunjukkan hasil nyata di Kabupaten Brebes. Penerapan sistem Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kecamatan Losari berhasil mendongkrak produktivitas padi hingga 10,2 ton gabah per hektare, hampir dua kali lipat dibanding pola budidaya konvensional yang rata-rata hanya menghasilkan 5–6 ton per hektare.
Lompatan produktivitas tersebut menjadi salah satu capaian Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) yang dikembangkan Kementerian Pertanian (Kementan) di delapan desa di Kecamatan Losari.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes Hendri Adi Komara mengatakan peningkatan hasil panen diperoleh melalui penerapan teknologi pertanian presisi yang menggabungkan mekanisasi, pemanfaatan data, hingga penggunaan drone dalam budidaya.
“Kalau metode konvensional rata-rata menghasilkan 5 sampai 6 ton gabah per hektare, melalui sistem PM-AAS hasil panen berdasarkan sampling mampu mencapai 10,2 ton per hektare,” katanya, Selasa (4/8/2026).
Menurut Hendri, sistem tersebut menerapkan pola tanam larikan 4:1 maupun 6:1 yang dipadukan dengan penyemprotan silika menggunakan drone. Teknologi itu membuat batang tanaman lebih kuat sekaligus mempercepat proses penyemprotan agar lebih merata, efisien, dan tepat sasaran.
“Selain teknologi budidaya, program ini juga didukung pemanfaatan pompa air tenaga surya di Desa Kalibuntu yang membantu petani memperoleh pasokan air secara lebih efisien,” jelasnya.
Tak hanya mengejar peningkatan produksi, ICARE juga diarahkan membangun kelembagaan ekonomi petani melalui pembentukan koperasi yang nantinya mengelola penyediaan sarana produksi, jasa alat dan mesin pertanian, pengolahan hasil panen hingga akses pembiayaan.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah Arif Surahman mengatakan Kecamatan Losari dipilih sebagai lokasi pelaksanaan ICARE di Jawa Tengah dengan komoditas utama padi dan pisang.
Program yang didukung pendanaan World Bank tersebut berlangsung sejak 2022 dan direncanakan berakhir pada 2027.
Menurutnya, koperasi yang telah dibentuk diharapkan menjadi fondasi lahirnya korporasi petani sehingga petani tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam mengembangkan usaha pertanian.
“Kami menilai penerapan teknologi modern tersebut menjadi salah satu langkah mempercepat transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih efisien, produktif dan berkelanjutan,” sebutnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













