Menyusuri Pekalongan yang Terlupakan Dari Batik, Benteng VOC hingga Jejak Taipan Bah Zing Zong

- Jurnalis

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sekelompok pemburu sejarah asal Bogor yang tergabung dalam komunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas), saat melakukan perjalanan sejarah di beberapa lokasi penging di Pekalongan, beberapa waktu lalu. Foto : Istimewa

Sekelompok pemburu sejarah asal Bogor yang tergabung dalam komunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas), saat melakukan perjalanan sejarah di beberapa lokasi penging di Pekalongan, beberapa waktu lalu. Foto : Istimewa

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Pekalongan ternyata bukan sekadar kota batik dan jalur pantura yang sibuk dilintasi kendaraan. Di balik hiruk-pikuk perdagangan dan kepulan aroma kain malam, daerah ini menyimpan lapisan sejarah panjang yang perlahan mulai terlupakan.

Jejak-jejak itu coba ditelusuri sekelompok pemburu sejarah asal Bogor yang tergabung dalam komunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas), saat melakukan perjalanan sejarah di Pekalongan, beberapa waktu lalu.

Bukan rombongan wisata biasa. Sebanyak 35 peserta lintas usia dan profesi ikut dalam perjalanan tersebut. Ada pensiunan, guru, pegawai negeri hingga pekerja swasta. Sebagian bahkan sudah lanjut usia. Namun semangat mereka menelusuri masa lalu tak kalah dari anak muda pemburu tren wisata kekinian.

Dipimpin Johnny Pinot, rombongan menjadikan Pekalongan sebagai salah satu titik penting dalam rangkaian ‘Trip Japas’ setelah sebelumnya singgah di Semarang dan Ambarawa.

“Intinya kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kalau di Bogor biasanya jalan kaki, tapi kalau luar kota kami menginap dan pakai bus,” kata Pinot.

Perjalanan mereka dimulai dari Museum Batik Pekalongan. Tempat yang menyimpan cerita panjang bagaimana Pekalongan tumbuh sebagai salah satu pusat industri batik terbesar di Indonesia. Namun sejarah Pekalongan ternyata tak berhenti pada kain dan canting.

Baca Juga :  Aksi Kolaboratif Jadi Upaya Pelestarian Batik Rifaiyah Khas Batang dari Ancaman Kepunahan

Rombongan juga menyambangi Pabrik Limun Oriental, pabrik minuman bersoda legendaris yang sudah berdiri sejak 1920. Jauh sebelum merek-merek minuman global membanjiri Indonesia, limun produksi lokal ternyata sudah lebih dulu eksis di Pekalongan.

Di titik lain, mereka menatap bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang kini difungsikan sebagai Rumah Tahanan Pekalongan. Dahulu, benteng tersebut menjadi pos penting VOC untuk mengawasi aktivitas perdagangan dan lalu lintas Sungai Loji.

Namun perjalanan paling menarik justru membawa rombongan keluar dari pusat kota menuju Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Dipandu kreator konten sejarah Pekalongan, Isman Habibilah, mereka menelusuri jejak seorang konglomerat legendaris keturunan Tionghoa bernama Hoo Tjien Siong atau yang lebih dikenal warga sebagai Bah Zing Zong.

Nama itu mungkin asing bagi generasi sekarang. Tapi pada abad ke-20, Bah Zing Zong disebut-sebut sebagai salah satu taipan besar di Pekalongan. Kemegahan masa lalunya masih bisa dilihat dari mausoleum miliknya di Doro. Bangunannya berdiri megah dengan perpaduan arsitektur Eropa dan Tionghoa. Lantai, dinding hingga langit-langitnya menggunakan marmer, memperlihatkan betapa besar pengaruh dan kekayaan sang taipan pada masanya.

Tak jauh dari lokasi makam, rombongan juga diajak melihat bekas kawasan milik pribadi Bah Zing Zong yang kini menjadi area pasar dan terminal Doro.

Baca Juga :  Dari Film Striptease 1896 hingga Industri Miliaran Dolar, Sejarah Panjang Film Porno

Menurut cerita warga, lokasi tersebut dulunya merupakan pabrik es batu milik sang konglomerat.

Sumber airnya berasal dari sumur umbul yang hingga kini masih mengalir jernih dan dimanfaatkan masyarakat sekitar.

“Dulu waktu saya kecil masih lihat pabrik es beroperasi. Kalau ada es batu jatuh dari truk, kami rebutan memungut,” kenang seorang warga.

Bagi komunitas Japas, Pekalongan menyimpan terlalu banyak cerita untuk dijelajahi hanya dalam sehari.

Pinot bahkan menyebut perlu ada perjalanan khusus hanya untuk mengupas sejarah Pekalongan yang dinilai sangat kaya, mulai dari industri batik, kolonialisme, hingga jejak para saudagar besar keturunan Tionghoa.

“Sepertinya harus ada trip khusus ke Pekalongan. Karena ini belum selesai kalau cuma sehari,” ujarnya.

Ironisnya, kekayaan sejarah itu justru belum tergarap serius sebagai potensi wisata edukasi. Banyak situs bersejarah masih tersembunyi, minim narasi, bahkan nyaris terlupakan.

Padahal jika dikembangkan dengan baik, Pekalongan bukan hanya bisa dikenal sebagai kota batik, tetapi juga kota dengan jejak sejarah panjang yang hidup dari masa kolonial hingga era konglomerat lokal.

“Sejarah itu penting. Kita belajar dari masa lalu supaya kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang lagi,” tutup Pinot.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru

Kesibukan kru dalam produksi film di sebuah studio besar. Foto: Ilustrasi AI

Hiburan

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:10 WIB