BATANG, KANALPLUS.ID – Masuk kawasan industri bukan hanya soal memiliki ijazah atau keterampilan teknis. Bagi ratusan pelajar SMA dan SMK di Kabupaten Batang, tantangan yang lebih besar justru terletak pada kesiapan mental, disiplin serta kemampuan beradaptasi dengan ritme kerja pabrik.
Hal itulah yang menjadi fokus Program Resiliensi Industri Masa Depan (PRIMA) yang digelar KEK Industropolis Batang. Sebanyak 160 siswa angkatan 2026 baru saja menyelesaikan pelatihan selama lima hari dengan dukungan sejumlah tenant dan vendor di kawasan industri tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, mengatakan program ini lahir dari kebutuhan industri terhadap tenaga kerja lokal yang tidak hanya siap direkrut, tetapi juga mampu bertahan dalam lingkungan kerja.
“Investor itu bukan hanya membutuhkan infrastruktur yang baik dan perizinan yang pasti. Mereka juga membutuhkan tenaga kerja yang siap bekerja. PRIMA hadir untuk membangun mental mereka agar kuat dan punya pengalaman sebelum benar-benar masuk dunia kerja setelah lulus sekolah,” kata Indri kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, persoalan yang selama ini kerap muncul di sektor industri adalah tingginya angka pekerja baru yang mengundurkan diri dalam waktu singkat. Sejumlah siswa yang telah terserap di pabrik, kata dia, ada yang memilih berhenti setelah satu hingga tiga bulan bekerja.
“Turnover-nya bisa tinggi, sampai sekitar 30 persen. Ini yang ingin kami jawab melalui PRIMA. Mereka bukan hanya harus bisa masuk kerja, tetapi juga harus punya karakter agar mampu bertahan di lingkungan industri yang multinasional dan global,” ujarnya.
Indri menegaskan, PRIMA tidak dimaksudkan untuk sekadar mencetak lulusan yang akan menjadi pekerja pabrik. Menurutnya, pekerjaan di industri dapat menjadi pintu awal bagi pelajar untuk membangun pengalaman, meningkatkan kemampuan, hingga menempati posisi yang lebih tinggi.
“Memang kawasan industri membangun pabrik dan level awalnya bisa menjadi pekerja. Tetapi itu bukan akhir. Ketika mereka punya karakter dan mimpi, mereka bisa naik menjadi manajer, general manager, pemimpin perusahaan, bahkan entrepreneur,” paparnya.
Ia menilai keberadaan perusahaan asing di KEK Industropolis Batang juga dapat membuka ruang transfer pengetahuan bagi tenaga kerja lokal. Pengalaman bekerja di lingkungan industri multinasional diharapkan dapat menjadi modal bagi generasi muda Batang untuk berkembang lebih jauh.
Program PRIMA direncanakan akan terus berlanjut pada tahun berikutnya. Dengan jumlah pelajar di Batang yang mencapai ribuan, KEK Industropolis Batang menyatakan pelatihan akan dikembangkan seiring bertambahnya kebutuhan tenaga kerja di kawasan industri.
“Ini akan ada kelanjutannya tahun depan. Kami akan terus membangun program ini seiring dengan pembangunan dan kebutuhan kawasan industri,” tegas Indri.
Ia menerangkan, dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pembekalan mengenai kedisiplinan, ketahanan fisik, pola hidup teratur, kerja sama, hingga gambaran tentang budaya kerja di industri. KEK Industropolis Batang menggandeng delapan tenant atau vendor untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, dengan tiga tenant terlibat langsung dalam rangkaian pelatihan.
Salah seorang peserta, Melisa Fitriani (17), siswi SMK Ma’arif NU 01 Limpung, mengaku proses untuk mengikuti pelatihan tidak mudah. Ia harus melalui seleksi fisik, tes tertulis hingga tahapan lain yang dilakukan sekolah sebelum akhirnya terpilih sebagai peserta.
“Bangga sekali bisa ikut. Dari satu sekolah yang ikut seleksi juga lumayan banyak,” kata Melisa.
Selama lima hari pelatihan, ia mengaku mengalami perubahan terutama dalam kedisiplinan dan kebiasaan sehari-hari. Rutinitas yang dijalani selama program membuatnya lebih teratur dalam mengatur waktu, makan dan menjaga kondisi fisik.
“Kalau di rumah kadang kurang disiplin. Setelah ikut program ini, untuk makan dan kedisiplinan meningkat pesat. Fisik saya juga lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.
Melisa mengaku seluruh rangkaian kegiatan menjadi pengalaman baru baginya. Meski pelatihan fisik menjadi bagian yang cukup menantang, ia menilai kegiatan tersebut tidak terlalu sulit selama peserta memiliki kemauan untuk mengikuti aturan.
Setelah lulus sekolah, Melisa mulai memantapkan keinginan untuk langsung bekerja. Meski belum menentukan perusahaan atau posisi yang dibidik, ia menilai pelatihan tersebut memberi gambaran tentang kesiapan yang dibutuhkan sebelum memasuki dunia industri.
Peserta lain, Rizki Dimas Pradita (17), siswa SMK Negeri 1 Blado, menyebut materi kedisiplinan dan pemahaman tentang dunia kerja menjadi pembelajaran utama yang ia dapatkan selama mengikuti PRIMA.
“Materinya tentang kedisiplinan dan tentang bekerja dalam industri,” katanya.
Rizki mengaku harus bersaing dengan sekitar 1.500 peserta lain untuk bisa mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap pengalaman selama lima hari dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan siap menghadapi masa depan.
“Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih disiplin,” terangnya.
Meski mengikuti pelatihan yang diarahkan pada kesiapan kerja industri, Rizki memiliki cita-cita lain setelah lulus sekolah. Ia ingin melanjutkan langkah untuk bekerja di lingkungan TNI Angkatan Laut.
Dukungan terhadap peserta juga datang dari salah satu keluarga peserta, Evi Sulistiyawati (34), warga Desa Tegalombo, Kecamatan Tersono, mengaku sempat khawatir ketika anaknya mengikuti pelatihan karena memiliki riwayat gangguan asam lambung.
Namun kekhawatiran itu tidak membuatnya menghalangi anaknya untuk mengikuti kegiatan. Ia memilih memberi dukungan agar anaknya berani menjalani proses dan membangun kepercayaan diri.
“Pasti kangen dan sangat bangga. Awalnya memang keberatan, bapaknya juga sempat tidak mengizinkan karena takut dengan kondisi kesehatannya. Tapi sebagai orang tua harus tetap memberi semangat. Saya mendukung sekali,” beber Evi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













