Haedar Nashir: Idul Adha Bukan Ajang Pamer Sapi, Tapi Alarm Moral Bangsa

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir
Foto : Istimewa

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir Foto : Istimewa

YOGYAKARTA, KANALPLUS.ID – Di tengah maraknya unggahan sapi jumbo, foto kurban, hingga konten media sosial bernuansa kemewahan menjelang Idul Adha, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir justru mengingatkan sisi lain yang mulai terlupakan dari Idul Adha: soal krisis moral manusia modern.

Menurut Haedar, Idul Adha tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan yang hanya sibuk pada ukuran sapi, jumlah kambing, atau kemeriahan penyembelihan hewan kurban. Ia menilai, makna terdalam Idul Adha justru terletak pada kemampuan manusia menaklukkan kerakusan, ego, dan hawa nafsu.

“Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia,” ujar Haedar, Selasa (26/5/2026).

Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik halus terhadap fenomena kehidupan modern yang menurutnya makin dipenuhi budaya pamer, kerakusan ekonomi, hingga perilaku saling menjatuhkan, termasuk di media sosial.

Haedar menilai, banyak persoalan bangsa hari ini sebenarnya lahir dari hilangnya spiritualitas takwa dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan sosial, sampai kerusakan lingkungan disebut berakar dari manusia yang gagal mengendalikan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

“Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat,” tegasnya.

Dalam pandangannya, kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita pengorbanan keluarga, melainkan pelajaran tentang keberanian melawan ego pribadi. Ketiganya dianggap menunjukkan bagaimana manusia bisa tetap tunduk pada nilai kebenaran meski harus menghadapi ujian besar.

Haedar menyebut, semangat itulah yang kini justru semakin langka di ruang publik. Ia menyoroti kehidupan digital yang dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, hoaks, hingga budaya saling menyerang demi kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah,” katanya.

Baca Juga :  Pilih Lebak untuk Peringatan Hari Lahir Pancasila, Wamen Fajar Soroti Warisan Multatuli dan Keadilan Sosial

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak budaya instan dan hedonisme yang kini semakin normal dipertontonkan di media sosial. Menurutnya, generasi milenial, generasi Z hingga generasi Alfa harus menjadikan Idul Adha sebagai momentum membangun karakter, bukan sekadar perayaan seremonial.

Haedar berharap anak muda lebih dekat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, etos kerja dan akhlak dibanding sibuk mengejar validasi sosial atau gaya hidup konsumtif.

“Generasi muda jangan terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar pamer kemewahan,” ujarnya.

Di tengah kondisi bangsa yang masih dibayangi kesenjangan sosial dan berbagai persoalan moral, Haedar menilai Idul Adha seharusnya menjadi ‘alarm’ bagi masyarakat untuk kembali membangun kejujuran, kepedulian sosial, dan keberanian hidup sederhana.

Sebab bagi Haedar, ukuran ketakwaan bukan terlihat dari seberapa besar hewan kurban yang disembelih, melainkan seberapa besar manusia mampu menahan kerakusan dirinya sendiri.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Kota di Indonesia dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak
Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal
10 Negara dengan Jumlah Profesor Terbanyak di Dunia, Indonesia Masuk?
Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia
Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal
Sehari Tembus Rp1,18 Miliar, Wastra Pantura Laris di KKI 2026
Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden
Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:10 WIB

10 Kota di Indonesia dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak

Sabtu, 26 September 2026 - 18:39 WIB

Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal

Kamis, 17 September 2026 - 06:10 WIB

10 Negara dengan Jumlah Profesor Terbanyak di Dunia, Indonesia Masuk?

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal

Berita Terbaru

Kesibukan kru dalam produksi film di sebuah studio besar. Foto: Ilustrasi AI

Hiburan

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:10 WIB