Dua Dekade Menemani MPLS di SMPN 1 Pekalongan, Guru Ini Saksikan Perubahan dari Ceramah ke Permainan Interaktif

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Suasana MPLS di SMP 1 Pekalongan yang diisi pemateri dari PWI Goes to School melalui program Jurnalis Mengajar, Selasa (14/7/26).

Suasana MPLS di SMP 1 Pekalongan yang diisi pemateri dari PWI Goes to School melalui program Jurnalis Mengajar, Selasa (14/7/26).

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 1 Pekalongan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Jika dua dekade lalu siswa baru lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas, kini mereka diajak mengenal sekolah melalui permainan, pertunjukan ekstrakurikuler hingga pemanfaatan teknologi digital.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Pekalongan, Musriyatun, yang telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun di sekolah tertua di Kota Pekalongan tersebut.

Menurutnya, substansi MPLS sebenarnya tidak banyak berubah. Materi pokok tetap mengacu pada pedoman Dinas Pendidikan, mulai dari pengenalan lingkungan sekolah, cara belajar, hingga pembentukan karakter siswa.

“Kalau materinya dari dulu tetap mengacu pada yang ditetapkan Dinas Pendidikan. Yang berubah justru cara penyampaiannya agar lebih menarik dan sesuai dengan karakter anak-anak sekarang,” ujarnya kepada kanalplus.id di sela kegiatan jurnalis mengajar dari program PWI Goes to School, Selasa (14/7/2026).

SMPN 1 Pekalongan sendiri memiliki sejarah panjang. Sekolah yang berdiri pada 1 Agustus 1948 itu menempati bangunan bekas Gedung MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah peninggalan era kolonial Belanda, sehingga menjadi salah satu sekolah menengah pertama tertua di Kota Pekalongan.

Musriyatun mengenang, saat pertama kali mengajar, kegiatan MPLS berlangsung sederhana. Guru masuk ke kelas lalu menjelaskan berbagai materi secara lisan dari awal hingga selesai.

MPLS sekarang dibuat menyenangkan. Materi tidak langsung dipaparkan, tetapi dikemas melalui permainan sehingga anak-anak belajar tanpa merasa sedang diberi materi,” katanya.

Baca Juga :  2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi

Ia mencontohkan salah satu permainan menggunakan balon yang pernah diterapkan dalam MPLS. Permainan itu bukan sekadar hiburan, tetapi dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, dan kemampuan siswa mengambil pelajaran dari pengalaman yang mereka alami.

“Di akhir permainan guru bertanya, ‘Sebenarnya kita sedang belajar apa?’ Dari situ anak-anak menyimpulkan sendiri pengalaman yang mereka dapat, baru kemudian guru menguatkan materi pembelajarannya,” jelasnya.

Perubahan serupa juga terjadi dalam pendidikan karakter. Jika dulu dikenal dengan materi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), kini nilai-nilai tersebut tetap diajarkan, tetapi dikemas melalui pendekatan pembelajaran yang lebih aktif.

“Sekarang lebih dikenal sebagai pendidikan karakter. Penyampaiannya juga lewat permainan dan aktivitas, bukan sekadar presentasi di depan kelas,” terangnya.

Transformasi paling mencolok juga terlihat pada pengenalan kegiatan ekstrakurikuler. Dahulu siswa hanya menerima daftar pilihan kegiatan dalam bentuk lembaran kertas untuk diisi.

Kini, setiap organisasi dan ekstrakurikuler justru tampil langsung memperagakan kemampuan mereka di hadapan peserta MPLS.

Kelompok tari menampilkan pertunjukan, tim pencak silat memperagakan jurus, band sekolah memainkan lagu, hingga berbagai ekstrakurikuler lainnya memperlihatkan hasil latihan mereka.

Setelah itu, siswa baru diberi kesempatan mendatangi setiap stan ekstrakurikuler untuk bertanya langsung kepada kakak kelas sebelum menentukan pilihan kegiatan yang diminati.

“Kami menyebutnya seperti window shopping. Anak-anak bisa melihat penampilan kakak kelas, bertanya langsung, lalu memilih ekstrakurikuler berdasarkan pengalaman yang mereka lihat sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Gegara Ninggal Kompor, Pranggok Batik di Medono Pekalongan Nyaris Ludes Terbakar

Menurut Musriyatun, tantangan terbesar saat ini justru datang dari perubahan karakter generasi. Setelah melewati masa pandemi, siswa baru merupakan generasi yang sangat dekat dengan telepon pintar.

Karena itu, sekolah memilih tidak menjauhkan siswa dari teknologi, tetapi mengarahkan penggunaannya untuk kegiatan belajar.

“Kami mengembangkan konsep Smart School. HP tetap digunakan, tetapi untuk pembelajaran yang positif, misalnya melalui Quizizz, Google Classroom, sampai mengunggah karya atau video hasil belajar,” jelasnya.

Guru-guru pun dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi melalui Komunitas Belajar Spensa agar proses pembelajaran tetap menarik sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

Meski metode dan media terus berubah, Musriyatun menegaskan satu hal yang tidak pernah bergeser dari MPLS, yakni pentingnya membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru.

Menurutnya, tanpa proses pengenalan, siswa akan mengalami ‘culture shock’ karena harus beralih dari sistem pembelajaran di SD yang hanya bertemu satu guru kelas menjadi bertemu banyak guru mata pelajaran setiap hari.

“Pengenalan lingkungan sekolah itu wajib. Anak harus tahu ruang kelas, tata usaha, kesiswaan, guru-gurunya, sampai fasilitas sekolah. Dengan begitu mereka tidak mengalami kekagetan saat mulai belajar di SMP,” tuturnya.

Baginya, apa pun nama dan konsepnya, MPLS akan selalu menjadi jembatan penting bagi siswa untuk mengenal lingkungan baru, membangun rasa percaya diri, dan memulai perjalanan belajar dengan semangat yang lebih baik.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus
2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi
Peserta Lomba Hadroh Al-Banjari Tingkat Kota Pekalongan Menurun, Panitia Siapkan Evaluasi
DLH Pekalongan Siapkan Mitigasi Cegah TPA Degayu Terbakar, 47 Persen Zona Pasif Ditutup Geomembran
Dinsos Kota Pekalongan Ungkap 3.280 Penerima Bansos Dicoret dari Daftar Kemensos
TPS 3R Mataram Asri Dioperasikan, Pemkot Pekalongan Mulai Kelola Sampah dari Lingkungan Setda
Data Desil Bansos Masih Bisa Dikoreksi, Wali Kota Pekalongan Minta Warga Laporkan Kalau Tak Sesuai
Lazismu Pekalongan Salurkan Bantuan Peralatan Usaha untuk 16 Pelaku UMKM

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 13:42 WIB

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Rabu, 9 September 2026 - 09:01 WIB

2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi

Selasa, 8 September 2026 - 09:55 WIB

Peserta Lomba Hadroh Al-Banjari Tingkat Kota Pekalongan Menurun, Panitia Siapkan Evaluasi

Sabtu, 5 September 2026 - 09:55 WIB

DLH Pekalongan Siapkan Mitigasi Cegah TPA Degayu Terbakar, 47 Persen Zona Pasif Ditutup Geomembran

Jumat, 4 September 2026 - 10:29 WIB

Dinsos Kota Pekalongan Ungkap 3.280 Penerima Bansos Dicoret dari Daftar Kemensos

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB