Dari Kisah Bahtera Nabi Nuh hingga Diusulkan Jadi Warisan Budaya, Begini Sejarah Bubur Suro Krapyak Pekalongan

Sabtu, 11 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penampakan Bubur Suro khas warga Kelurahan Krapyak Kota Pekalongan yang dipenuhi setidaknya tujuh toping berbeda dan hanya bisa ditemui keberadaanya saat peringatan Tahun Baru Islam. Foto : Istimewa

Penampakan Bubur Suro khas warga Kelurahan Krapyak Kota Pekalongan yang dipenuhi setidaknya tujuh toping berbeda dan hanya bisa ditemui keberadaanya saat peringatan Tahun Baru Islam. Foto : Istimewa

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah ramainya Festival Bubur Suro 2026 di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, tidak banyak yang mengetahui bahwa kuliner tekstur lembut berwarna kuning dengan aneka topping itu menyimpan sejarah panjang yang diwariskan turun-temurun. Bagi warga Krapyak, Bubur Suro bukan sekadar makanan, melainkan simbol syukur, gotong royong sekaligus identitas budaya yang sempat berada di ambang kepunahan.

Ketua Panitia Festival Bubur Suro, Muhammad Iskandar (42), mengatakan tradisi memasak Bubur Suro telah berlangsung sejak lama dan selalu hadir setiap datangnya bulan Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, Bubur Suro berawal dari kisah Nabi Nuh AS setelah banjir besar surut. Saat itu, seluruh bahan makanan yang tersisa di dalam bahtera dikumpulkan, dimasak bersama, lalu disantap sebagai ungkapan rasa syukur.

“Yang saya tahu, Bubur Suro adalah makanan perayaan sebagai wujud syukur. Ceritanya berasal dari bahtera Nabi Nuh ketika banjir sudah surut, kemudian seluruh bekal yang tersisa dicampur menjadi satu hingga jadilah Bubur Suro,” kata Iskandar.

Ia menyebut kisah serupa ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di sejumlah negara di kawasan Eropa Timur juga dikenal hidangan bernama Noah’s Pudding atau Aşure, yang memiliki filosofi hampir sama, yakni memanfaatkan bahan pangan yang tersisa sebagai simbol keselamatan dan kebersamaan.

Namun demikian, Bubur Suro Krapyak memiliki ciri khas yang tidak dijumpai di daerah lain.

“Kalau di daerah lain Bubur Suro umumnya berwarna putih seperti bubur biasa. Di Krapyak berbeda karena dimasak memakai bumbu kari dan rempah-rempah sehingga warnanya kuning. Ini dipengaruhi budaya kuliner Gujarat dan India yang sejak lama masuk ke Pekalongan,” ujarnya.

Selain warna yang khas, Bubur Suro Krapyak juga memiliki komposisi yang menjadi pakem. Bubur berbahan dasar beras dimasak bersama daging sapi atau ayam, kemudian disajikan dengan sedikitnya tujuh pelengkap antara lain udang goreng, telur dadar iris, tempe, petis tempe, jeruk bali, daun kemangi, abon serta perkedel.

Baca Juga :  Perluas Investasi Ritel dan Buka Peluang Kerja Lokal, SELMA Resmikan Gerai Ke-45 di Kota Pekalongan,

Proses memasaknya pun tidak sederhana. Untuk menghasilkan cita rasa khas, bubur harus terus diaduk selama kurang lebih lima jam agar bumbu kari meresap sempurna.

“Yang membuat berbeda bukan hanya resepnya, tetapi proses memasaknya. Karena ada campuran daging dan rempah, mengaduk buburnya bisa sampai lima jam,” jelasnya.

Di Krapyak, Bubur Suro selalu dimasak menjelang malam 10 Muharram atau malam Asyura.

Sejak sore hari, warga bergotong royong mengumpulkan beras, daging, bumbu hingga kebutuhan memasak melalui swadaya masyarakat. Setelah matang, Bubur Suro dibawa ke musala untuk didoakan bersama usai salat Magrib sebelum akhirnya dibagikan kepada seluruh warga.

“Tradisinya memang memasak bersama, lalu setelah doa bersama di musala, bubur dibagikan lagi kepada masyarakat supaya semuanya bisa menikmati,” tutur Iskandar.

Tradisi tersebut menjadi sarana mempererat hubungan antar warga karena seluruh proses dilakukan secara gotong royong tanpa membedakan latar belakang masyarakat.

Meski telah diwariskan turun-temurun, Iskandar mengakui tradisi Bubur Suro sempat mengalami masa sulit. Beberapa tahun lalu, jumlah warga yang masih memasak Bubur Suro terus berkurang hingga dikhawatirkan tradisi tersebut akan hilang.

Kondisi itu mendorong sejumlah komunitas di Krapyak menggagas Festival Bubur Suro pada 2019.

Awalnya, festival tersebut bukan semata-mata agenda wisata. Iskandar bercerita, warga saat itu baru saja berjuang menghadapi banjir rob yang hampir setiap hari merendam kawasan Krapyak. Setelah berhasil bergotong royong membangun tanggul dan memperjuangkan peninggian jalan, muncul gagasan untuk mengangkat potensi budaya sebagai identitas baru kampung.

“Dulu kami berpikir, setelah persoalan rob mulai teratasi, apa yang bisa membuat Krapyak dikenal. Akhirnya kami melihat banyak tradisi kuliner yang masih hidup, seperti Lopis Syawalan, Bubur Suro, sampai Kue Coro. Bubur Suro kemudian kami angkat menjadi festival agar budaya ini tetap lestari sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” terangnya.

Baca Juga :  Kue Bapel Grogolan, Legenda Kuliner Pekalongan yang Bertahan Sejak 1960

Jika dahulu Bubur Suro hanya dibuat satu hingga dua hari menjelang Asyura, kini para juru masak yang oleh warga disebut ‘jedot’ menerima pesanan hampir sepanjang bulan Muharram.

“Sebelum ada festival, pesanan hanya satu dua hari. Sekarang setelah viral dan dikenal luas, ada yang menerima pesanan sampai satu bulan penuh,” ungkapnya.

Saat ini terdapat sekitar 15 juru masak Bubur Suro di Krapyak yang rutin membuka pesanan setiap musim Muharram. Harga satu porsi Bubur Suro dijual sekitar Rp20 ribu, dengan sebagian besar pembeli berasal dari wilayah Pekalongan dan sekitarnya karena makanan tersebut tidak dapat bertahan lama.

Festival Bubur Suro kini telah memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh dan empat tahun terakhir mendapat dukungan Pemerintah Kota Pekalongan. Tahun ini penyelenggaraan juga berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal sehingga skala festival semakin besar.

Menurut Iskandar, dukungan tersebut membuka peluang agar Bubur Suro dikenal lebih luas sebagai destinasi wisata budaya.

“Tahun ini kami berkolaborasi dengan Bank Indonesia sehingga festival menjadi lebih besar. Harapan kami ke depan bisa menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat Krapyak,” tuturnya.

Tak hanya itu, Pemerintah Kota Pekalongan bersama masyarakat kini tengah mengupayakan agar Bubur Suro Krapyak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

“Kalau nanti sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, tentu Bubur Suro Krapyak akan semakin dikenal luas. Kami berharap suatu saat bisa menjadi ikon kuliner Kota Pekalongan seperti halnya Lopis Raksasa saat Syawalan,” tutupnya

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Berita Terkait

Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan
Peyek Udang Jumbo Seukuran Piring Makan di Kota Pekalongan Jadi Buruan, Dijual Rp10 Ribu per Lembar
Soto Apang, Warisan Kuliner Sejak 1970-an yang Tetap Bertahan Berkat Soto Tahu Tempe Rp8.000
Baru Sepekan Buka, Seafood Gerobak di Tengah Kampung Bojong Ini Usung Konsep Live Cooking dan Sajikan Cita Rasa Pesisir
Sop Iga Pondok Makan Mas Pri, Andalan Kuliner Pagi hingga Siang di Jalan Veteran Pekalongan
Hasil Tes DNA Tak Identik, Kuasa Hukum Pimpinan Padepokan Padang Ati Pekalongan Ajukan Penangguhan Penahanan
Dari Rumah Tua ke Ruang Ngopi, Bumi Suja Tawarkan Kopi Roastery dan Suasana Hening di Tengah Kota Pekalongan
Di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Serabi Legendaris Tambakboyo Batang Kembali Menyala dari Tungku Tradisional

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:32

Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan

Selasa, 21 Juli 2026 - 13:30

Peyek Udang Jumbo Seukuran Piring Makan di Kota Pekalongan Jadi Buruan, Dijual Rp10 Ribu per Lembar

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:01

Soto Apang, Warisan Kuliner Sejak 1970-an yang Tetap Bertahan Berkat Soto Tahu Tempe Rp8.000

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:20

Baru Sepekan Buka, Seafood Gerobak di Tengah Kampung Bojong Ini Usung Konsep Live Cooking dan Sajikan Cita Rasa Pesisir

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:35

Dari Kisah Bahtera Nabi Nuh hingga Diusulkan Jadi Warisan Budaya, Begini Sejarah Bubur Suro Krapyak Pekalongan

Berita Terbaru

Ribuan pelari mengikuti ajang UMPP Fun Run 2026 yang digelar, Sabtu (25/7/26). Foto : Istimewa

Olahraga

Target 400 Peserta, UMPP Fun Run Diserbu 1.013 Pelari

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:01