KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Komandan Kodim 0710 Pekalongan Letkol Inf Muhammad Nurul Chabibi mengajak wartawan di Kota dan Kabupaten Pekalongan memperkuat komunikasi serta budaya klarifikasi sebelum mempublikasikan informasi kepada masyarakat.
Ajakan itu disampaikan dalam pertemuan silaturahmi dan perkenalan bersama wartawan setempat. Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda awal Letkol Inf Muhammad Nurul Chabibi setelah menjabat sebagai Dandim 0710 Pekalongan.
Menurutnya, Kodim 0710 Pekalongan membawahi dua wilayah dengan dinamika yang berbeda, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Karena itu, peran media dinilai penting dalam menjaga suasana tetap kondusif melalui penyajian informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau ada informasi, mari kita saling berbagi dan saling klarifikasi sebelum dipublikasikan. Supaya berita yang menjadi konsumsi masyarakat dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan,” kata Nurul Chabibi dihadapan puluhan wartawan yang hadir, Jumat (3/7/2026) malam.
Ia menilai perkembangan media sosial telah membawa dua sisi. Di satu sisi, media sosial membantu masyarakat memperoleh informasi secara cepat. Namun di sisi lain, ruang digital juga berpotensi menjadi saluran penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, informasi yang tidak valid, judul yang berlebihan, maupun narasi yang dipotong tanpa konteks dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Situasi itu, kata dia, perlu diantisipasi bersama agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
“Jangan sampai Kota Pekalongan maupun Kabupaten Pekalongan dirusak oleh orang-orang yang punya kepentingan kelompok. Dampaknya bisa berupa kerugian materiil, bahkan membuat suasana masyarakat menjadi takut,” ujarnya.
Dandim mengajak organisasi wartawan, termasuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota dan Kabupaten Pekalongan, untuk membangun sinergi yang sehat dengan Kodim. Sinergi tersebut, menurutnya, bukan untuk membatasi kerja jurnalistik, melainkan membuka ruang konfirmasi agar informasi yang beredar tidak keliru.
Ia menyebut prinsip tabayun atau klarifikasi penting diterapkan, terutama ketika muncul informasi yang berpotensi memicu keresahan. Media tetap memiliki kebebasan menjalankan fungsi kontrol sosial, namun perlu mempertimbangkan dampak jangka menengah dan panjang dari sebuah pemberitaan.
“Kalau ada yang kurang atau menyimpang, silakan diingatkan. Tetapi perlu diklarifikasi dulu. Jangan sedikit-sedikit viral, karena itu bisa membuat kondisi psikologis masyarakat tidak baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul Chabibi juga memperkenalkan latar belakang perjalanan dinasnya. Perwira kelahiran Magelang itu mengaku tidak asing dengan Jawa Tengah karena pernah berdinas di Salatiga dan Jepara, selain memiliki pengalaman penugasan di sejumlah wilayah luar Jawa.
Ia pernah menjalani penugasan awal di Merauke, Papua, pada 2006. Selama sembilan tahun bertugas di Papua, ia menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas dan akses wilayah. Setelah itu, ia melanjutkan penugasan di Salatiga, Jepara, Muara Enim, Palembang, hingga Halmahera Barat, Maluku Utara.
Nurul Chabibi juga pernah mendapat amanah memimpin satuan dalam tugas operasi di Papua Pegunungan. Dari pengalaman tersebut, ia menilai keamanan dan kondusivitas wilayah tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan aparat, melainkan membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, tokoh lokal, serta media.
“Esensinya, TNI hadir untuk menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah. Itu tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama-sama dengan semua elemen,” ucapnya.
Ia berharap pertemuan dengan wartawan tidak berhenti pada agenda seremonial. Kodim 0710 Pekalongan, kata dia, ingin membuka ruang komunikasi yang lebih rutin dengan insan pers agar setiap persoalan yang muncul di lapangan dapat dipahami secara utuh dan disampaikan kepada publik secara proporsional.
“Sudah lama kita tidak kumpul dan ngopi bersama wartawan. Mudah-mudahan setelah ini komunikasi dan kolaborasi bisa lebih sering dilakukan,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













