YOGYAKARTA, KANALPLUS.ID – Di tengah maraknya unggahan sapi jumbo, foto kurban, hingga konten media sosial bernuansa kemewahan menjelang Idul Adha, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir justru mengingatkan sisi lain yang mulai terlupakan dari Idul Adha: soal krisis moral manusia modern.
Menurut Haedar, Idul Adha tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan yang hanya sibuk pada ukuran sapi, jumlah kambing, atau kemeriahan penyembelihan hewan kurban. Ia menilai, makna terdalam Idul Adha justru terletak pada kemampuan manusia menaklukkan kerakusan, ego, dan hawa nafsu.
“Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia,” ujar Haedar, Selasa (26/5/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik halus terhadap fenomena kehidupan modern yang menurutnya makin dipenuhi budaya pamer, kerakusan ekonomi, hingga perilaku saling menjatuhkan, termasuk di media sosial.
Haedar menilai, banyak persoalan bangsa hari ini sebenarnya lahir dari hilangnya spiritualitas takwa dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan sosial, sampai kerusakan lingkungan disebut berakar dari manusia yang gagal mengendalikan dirinya sendiri.
“Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat,” tegasnya.
Dalam pandangannya, kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita pengorbanan keluarga, melainkan pelajaran tentang keberanian melawan ego pribadi. Ketiganya dianggap menunjukkan bagaimana manusia bisa tetap tunduk pada nilai kebenaran meski harus menghadapi ujian besar.
Haedar menyebut, semangat itulah yang kini justru semakin langka di ruang publik. Ia menyoroti kehidupan digital yang dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, hoaks, hingga budaya saling menyerang demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah,” katanya.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak budaya instan dan hedonisme yang kini semakin normal dipertontonkan di media sosial. Menurutnya, generasi milenial, generasi Z hingga generasi Alfa harus menjadikan Idul Adha sebagai momentum membangun karakter, bukan sekadar perayaan seremonial.
Haedar berharap anak muda lebih dekat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, etos kerja dan akhlak dibanding sibuk mengejar validasi sosial atau gaya hidup konsumtif.
“Generasi muda jangan terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar pamer kemewahan,” ujarnya.
Di tengah kondisi bangsa yang masih dibayangi kesenjangan sosial dan berbagai persoalan moral, Haedar menilai Idul Adha seharusnya menjadi ‘alarm’ bagi masyarakat untuk kembali membangun kejujuran, kepedulian sosial, dan keberanian hidup sederhana.
Sebab bagi Haedar, ukuran ketakwaan bukan terlihat dari seberapa besar hewan kurban yang disembelih, melainkan seberapa besar manusia mampu menahan kerakusan dirinya sendiri.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












