Kasus Keracunan MBG Jadi Sorotan, Pengelola SPPG di Kota Pekalongan Minta Evaluasi Menyeluruh

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 06:35 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pemilik SPPG di Poncol Kota Pekalongan, Erick Sunardi berpendapat persoalan maraknya kasus keracunan yang dikaitkan dengan MBG perlu adanya evaluasi menyeluruh, Rabu (16/9/26). Foto: Istimewa

Pemilik SPPG di Poncol Kota Pekalongan, Erick Sunardi berpendapat persoalan maraknya kasus keracunan yang dikaitkan dengan MBG perlu adanya evaluasi menyeluruh, Rabu (16/9/26). Foto: Istimewa

KANAL KOTA — Berbagai kasus keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan terhadap keamanan pangan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pemilik SPPG Teratai Poncol 2 Kota Pekalongan, Erick Sunardi, menilai persoalan tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan hasil akhirnya. Pemeriksaan, kata dia, harus mencakup bahan baku, penerapan SOP, kompetensi tenaga kerja, proses pengolahan hingga distribusi makanan.

“Kalau ada kejadian keracunan, tentu itu harus menjadi bahan evaluasi. Tetapi kita juga harus melihat bahwa ada banyak SPPG yang berjalan dan melayani masyarakat dengan baik,” kata Erick, Rabu (16/9/2026).

Menurut dia, kasus di lapangan bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk SOP yang tidak dijalankan secara konsisten. Karena itu, penyebab setiap kejadian harus dibuktikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.

“Kalau memang SOP tidak dijalankan, tentu harus ada perbaikan dan sanksi. Tetapi kalau ada dugaan faktor lain, itu juga harus dibuktikan. Kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan,” ujarnya.

Erick mengatakan SPPG yang dikelolanya telah berjalan hampir tiga bulan. Pengawasan keamanan pangan diterapkan sejak bahan baku tiba di dapur, termasuk pengaturan waktu kedatangan dan penanganan bahan yang membutuhkan pengendalian suhu.

Baca Juga :  Food Bank Pekalongan Bidik Distribusi 2.000 Porsi Makanan per Hari untuk Warga Rentan

Pengecekan dilakukan berulang pada tahapan pengolahan hingga pemorsian. Makanan juga melalui test food sebelum didistribusikan.

“Pengecekan dilakukan sejak bahan baku datang. Setelah masuk tahap persiapan, makanan dicoba lagi. Sebelum pemorsian ada pengecekan oleh chef, kemudian saat pemorsian juga ada pemeriksaan oleh koordinator dan ahli gizi,” urainya.

Dia menegaskan menu MBG tidak semestinya hanya mengejar rasa, tetapi harus memenuhi kebutuhan gizi. Variasi menu tetap diperlukan agar makanan diterima anak-anak.

“Prinsipnya bukan enak dulu baru bergizi. Justru gizinya harus terpenuhi lebih dahulu, kemudian kita upayakan rasanya juga disukai anak-anak,” terangnya.

Menurut Erick, keberadaan SPPG juga menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sekitar 30-50 persen pekerja diupayakan berasal dari lingkungan sekitar, sementara posisi yang membutuhkan keahlian seperti ahli gizi dan akuntan tetap harus diisi berdasarkan kompetensi.

Petani dan pemasok lokal juga dapat dilibatkan dalam rantai pasok selama memenuhi standar yang ditetapkan.

“Program ini bukan hanya soal makanan untuk anak. Ada perputaran ekonomi di belakangnya. Ada pekerja, pemasok, petani dan pelaku usaha lokal yang ikut bergerak,” bebernya.

Baca Juga :  Wabup Batang Suyono Ingatkan SPPG Dekat Kandang Ayam Harus Pindah, Jangan Langgar Standar Kesehatan

Di sisi lain, Erick mendorong profesionalisasi pengelolaan SPPG, termasuk sertifikasi bagi tenaga pengolahan makanan. Pihaknya juga mengupayakan pemenuhan sertifikasi laik higiene sanitasi (SLHS), sertifikasi halal, serta mempersiapkan penerapan sistem keamanan pangan HACCP.

Mengenai wacana MBG diganti bantuan uang tunai, Erick mengatakan pilihan tersebut perlu dikaji berdasarkan tujuan awal program.

“Kalau program ini tujuannya memastikan anak mendapatkan makanan bergizi, maka yang harus kita pastikan adalah makanan bergizinya benar-benar sampai kepada anak. Apakah mekanismenya nanti diperbaiki atau ada perubahan kebijakan, itu menjadi kewenangan pemerintah,” jelasnya.

Dia menilai perdebatan seharusnya tidak berhenti pada pilihan makanan atau uang, tetapi bagaimana tujuan pemenuhan gizi tercapai dengan tetap menjaga keamanan pangan, kualitas makanan dan efisiensi anggaran negara.

“Setiap kejadian harus membuat kami semakin berhati-hati. Jangan sampai kejadian di tempat lain dianggap sebagai masalah orang lain. Bagi kami, itu harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki SOP di dapur sendiri,” tutup Erick.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Puluhan Pasangan Nikah Maulid di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan
Rizal Bawazier Buka Jalur CSR BUMN untuk Realisasikan Usulan Warga Kota Pekalongan
Temui Ketua RW di Pekalongan Utara, Rizal Bawazier Bicara Soal Giant Sea Wall
Rizal Bawazier Temui Warga Pekalongan Utara Tawarkan Solusi Darurat Penanganan Banjir dan Rob
Pesantren di Kota Pekalongan Mulai Jadi Sasaran Pengelolaan Sampah Mandiri, Santri Diminta Mulai dari Kamar Sendiri
OJK Tegal Akui Laporan Scam dan Pinjol Hampir Tiap Hari
Kapolres Ungkap Panitia Karnaval di Pekalongan Mengaku Banyak Diteror Usai Aksi Teatrikal Mirip Ritual Satanic Viral
Kapolres Pekalongan Kota Tak Sempat Lihat Aksi Teatrikal yang Viral, Pilih Turun Urai Kemacetan

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 14:51 WIB

Puluhan Pasangan Nikah Maulid di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan

Kamis, 17 September 2026 - 18:04 WIB

Rizal Bawazier Buka Jalur CSR BUMN untuk Realisasikan Usulan Warga Kota Pekalongan

Kamis, 17 September 2026 - 17:39 WIB

Temui Ketua RW di Pekalongan Utara, Rizal Bawazier Bicara Soal Giant Sea Wall

Kamis, 17 September 2026 - 17:14 WIB

Rizal Bawazier Temui Warga Pekalongan Utara Tawarkan Solusi Darurat Penanganan Banjir dan Rob

Kamis, 17 September 2026 - 15:29 WIB

Pesantren di Kota Pekalongan Mulai Jadi Sasaran Pengelolaan Sampah Mandiri, Santri Diminta Mulai dari Kamar Sendiri

Berita Terbaru

Sebanyak 21 pasangan melangsungkan nikah massal di Gedung Kanzus Sholawat Kota Pekalongan, Sabtu (19/9/26). Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

Kota Pekalongan

Puluhan Pasangan Nikah Maulid di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan

Sabtu, 19 Sep 2026 - 14:51 WIB