KANAL KOTA – Lima kapal nelayan yang melaut dari Kota Pekalongan memilih kembali ke daratan setelah cuaca berubah dan angin mulai menguat, Sabtu (12/9/2026) malam. Namun, saat memasuki muara, dua kapal dihantam ombak hingga mengalami kerusakan.
Salah satu kapal, KM Surya A yang membawa Muhayat dan Budi Riyanto, bahkan pecah setelah terbawa ombak dan menghantam tumpukan batu. Muhayat meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Nelayan yang berada di belakang kapal korban, Sodik Haryanto, mengatakan lima kapal tersebut berangkat dari TPI sekitar pukul 17.00 WIB.
Mereka semula melaut dalam kondisi cuaca yang relatif normal. Setelah beberapa jam mencari ikan, rombongan menarik jaring dan memutuskan pulang karena melihat cuaca mulai berubah.
“Saat itu angin mulai kencang dan ombak juga mulai tinggi, jadi langsung jaring ditarik semua,” ungkap Sodik.
Menurut Sodik perubahan cuaca terjadi cukup mendadak. Saat rombongan mendekati pintu masuk muara, ombak justru semakin besar.
Kapal Muhayat yang berada di depan rombongan dihantam ombak dari arah timur. Kapal kemudian miring dan kembali dihantam ombak hingga akhirnya karam dan membentur batu.
Sodik yang berada sekitar 25 meter di belakang kapal korban menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Selain KM Surya A, satu kapal lainnya juga mengalami masalah setelah terkena batu. Sementara kapal-kapal lain berhasil melewati kawasan muara.
Budi Riyanto, nelayan yang berada satu kapal dengan Muhayat, mengatakan mesin perahu mereka sebenarnya masih menyala ketika kejadian. Namun, derasnya arus dan besarnya ombak membuat kapal tidak lagi dapat dikendalikan.
Budi memperkirakan ketinggian ombak saat itu mencapai lebih dari dua meter datang bertubi-tubi menghantam kapal, lalu menyeret ke arah barat menghantam batu tanggul.
Sementara itu, Kasat Polairud Polres Pekalongan Kota Iptu Ponco Budiarto menyebut kondisi perairan saat ini dipengaruhi musim timuran sehingga ombak cukup tinggi.
Menurut Ponco, kondisi cuaca tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kapal tidak berhasil masuk ke jalur muara dan akhirnya terbawa arus hingga membentur batu.
“Musim saat ini karena musim timuran, ombak terlalu tinggi,” jelas Ponco.
Ponco menyebut ketinggian ombak berdasarkan informasi yang diterimanya rata-rata sekitar 1,5 meter.
Polisi juga mengatakan informasi mengenai kondisi gelombang telah disampaikan kepada nelayan melalui pihak terkait di kawasan pelabuhan.
“Setiap kali ada prediksi daripada BMKG ombak besar itu dari pihak PPNP maupun Satpolairud memberikan informasi kepada para nelayan,” cetus Ponco.
Meski demikian, menurut Ponco, sebagian nelayan tetap melaut karena harus mencari nafkah.
Peristiwa di muara tersebut menjadi pengingat bagi nelayan untuk mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berangkat maupun saat memutuskan kembali ke daratan, terutama ketika gelombang mulai meningkat.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













