PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Berbeda dari kebanyakan lomba burung berkicau, Kicau Mania Piala SBS (Syafaat Bubur Suro) 2026 menghadirkan konsep yang memadukan kompetisi dengan aksi sosial. Seluruh biaya pendaftaran peserta pada perlombaan yang merupakan bagian dari Syafaat Festival Bubur Suro 2026 hasil kolaborasi dengan Bank Indonesia Tegal disalurkan sebagai dana wakaf untuk membantu masyarakat.
Koordinator lomba, Erik Kantona, mengatakan seluruh uang yang masuk dari biaya pendaftaran peserta tidak digunakan sebagai keuntungan penyelenggara, melainkan disumbangkan kepada Yayasan Wakaf Kaum Dhuafa.
“Jadi semua uang pendaftaran kami wakafkan. Para pemain atau peserta lomba tetap dapat hadiahnya dan sedekahnya juga dapat,” kata Erik kepada kanalplus.id di sela kegiatan lomba, Minggu (12/7/2026).
Erik menyebut dana yang berhasil dihimpun dari ratusan peserta diperkirakan mencapai Rp25 juta hingga Rp27 juta. Seluruhnya akan dimanfaatkan yayasan untuk program penyediaan bibit pangan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.
“Semua disumbangkan ke Yayasan Wakaf Kaum Dhuafa untuk bibit pangan,” ujarnya.
Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat gelaran Piala SBS mendapat sambutan luar biasa dari komunitas kicau mania. Selain berkesempatan membawa pulang hadiah, peserta juga merasa ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial.
Antusiasme peserta terlihat dari hampir seluruh kelas perlombaan yang terisi penuh. Bahkan panitia mengaku masih banyak penghobi burung yang ingin mendaftar, namun tidak lagi membuka kelas tambahan.
“Per kelas hampir semuanya penuh. Bahkan masih banyak yang mencari tiket, tetapi kami tidak membuka kelas tambahan lagi,” katanya.
Piala SBS 2026 sendiri mempertandingkan 12 kelas, mulai dari Murai Batu, Murai Muda, Cucak Ijo, Kacer hingga Cendet. Dalam setiap sesi, arena diisi sekitar 200 burung yang berasal dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Batang, Pemalang, Tegal hingga Semarang.
Untuk mengikuti perlombaan, panitia menyediakan tiket dengan harga yang relatif terjangkau. Kelas termurah dibanderol Rp30 ribu, sedangkan kelas utama Murai Batu dikenakan biaya Rp350 ribu.
Meski harga tiket tergolong ekonomis, hadiah yang diperebutkan cukup menggiurkan. Total hadiah mencapai sekitar Rp25 juta dalam bentuk uang tunai, trofi eksklusif dan piagam penghargaan.
Khusus kelas utama Murai Batu Rp350 ribu, juara pertama memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp3 juta, trofi eksklusif, serta bonus kepala Manyung yang menjadi ciri khas perlombaan tersebut.
“Untuk kelas utama kita memang konsepnya paket hemat, tetapi hadiahnya mewah,” ujar Erik.
Menurutnya, trofi eksklusif juga menjadi magnet tersendiri. Sebab, Piala SBS hanya digelar dalam rangka Syafaat Festival Bubur Suro sehingga memiliki nilai prestise bagi para penghobi burung.
“Trofinya eksklusif dan tidak setiap bulan ada. Itu yang membuat peserta antusias,” terangnya.
Persaingan pun berlangsung ketat. Sejumlah peserta bahkan membeli tiket hampir di seluruh kelas untuk menambah peluang meraih prestasi. Tak sedikit pula burung yang mampu menyabet gelar juara lebih dari satu kategori karena memiliki performa stabil.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Edi Budiarso asal Kajen, Kabupaten Pekalongan. Bersama Murai Batu andalannya bernama Kingdom, ia berhasil memborong kemenangan di tiga dari empat kelas yang diikuti.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













