MENEGUHKAN KEMBALI RUH PANCASILA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 11:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Foto : Penulis

Foto : Penulis

Setiap memasuki bulan Juni, bangsa Indonesia kembali diajak menengok akar terdalam kehidupan kebangsaan. Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum reflektif untuk menilai kembali kualitas penghayatan terhadap dasar negara. Pertanyaan penting yang perlu diajukan bukan hanya apakah lima sila masih dihafal, melainkan sejauh mana nilai-nilai luhur tersebut hadir dalam pikiran, sikap, kebijakan, dan tindakan sehari-hari.

Sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, Pancasila tidak cukup ditempatkan sebagai simbol formal kenegaraan. Dasar filosofis tersebut harus bekerja dalam kehidupan nyata. Nilai yang terkandung dalam lima sila perlu menjadi dasar etis dalam mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan sosial, mengelola perbedaan, serta membangun masa depan bangsa yang adil dan bermartabat. Tanpa pengamalan nyata, dasar negara dapat kehilangan daya hidup dalam praktik sosial.

Dalam konteks tersebut, pengamalan nilai kebangsaan perlu dipahami secara implikatif dan kreatif. Implikatif berarti setiap nilai dasar harus memiliki akibat nyata dalam kehidupan publik. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial perlu tampak dalam perilaku warga negara, tata kelola pemerintahan, praktik pendidikan, dunia usaha, ruang digital, serta hubungan sosial. Nilai luhur tidak boleh berhenti sebagai rumusan normatif, tetapi harus menjelma menjadi sikap dan kebijakan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, kreatif berarti pengamalan nilai-nilai tersebut tidak boleh kaku, mekanis, atau berhenti pada pola lama. Setiap zaman menghadirkan tantangan yang berbeda. Generasi hari ini hidup dalam realitas yang ditandai oleh teknologi digital, kecerdasan buatan, disrupsi pekerjaan, polarisasi media sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, dan perubahan budaya yang cepat. Karena itu, ruh Pancasila perlu diteguhkan kembali dengan cara yang segar, relevan, dan membumi.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak hanya mengandung pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Nilai ini juga membawa pesan moral agar kehidupan beragama melahirkan akhlak sosial. Keimanan semestinya berbuah pada kejujuran, kesantunan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam masyarakat majemuk, kehidupan beragama perlu menghadirkan kedewasaan, bukan sikap yang mudah mencurigai, merendahkan, atau menyingkirkan pihak lain.

Baca Juga :  Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate

Nilai kemanusiaan menuntut kepekaan terhadap martabat manusia. Ukuran pengamalannya dapat dilihat dari cara masyarakat memperlakukan kelompok rentan, seperti warga miskin, penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, korban kekerasan, serta kelompok yang belum memperoleh akses pendidikan dan kesehatan secara layak. Dalam ruang digital, nilai kemanusiaan memiliki makna semakin penting karena menuntut penolakan terhadap perundungan, ujaran kebencian, fitnah, dan penyebaran informasi yang merusak martabat manusia.

Persatuan Indonesia menjadi semakin relevan ketika ruang sosial mudah terbelah oleh perbedaan politik, agama, identitas, dan kepentingan ekonomi. Persatuan tidak berarti menyeragamkan pandangan. Sebaliknya, persatuan menuntut kedewasaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Perbedaan pilihan politik tidak boleh merusak persaudaraan kebangsaan. Perbedaan identitas juga tidak boleh dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Dalam hal ini, dasar negara berfungsi sebagai rumah bersama yang menjaga keberagaman tetap berada dalam ikatan kebangsaan.

Nilai kerakyatan mengajarkan pentingnya demokrasi yang beradab. Demokrasi tidak cukup dipahami sebagai mekanisme menang dan kalah dalam kontestasi politik. Demokrasi harus ditopang oleh musyawarah, kebijaksanaan, etika publik, dan kesediaan mendengar suara rakyat. Di tengah derasnya komunikasi digital, nilai kerakyatan perlu diwujudkan melalui budaya berdialog, bukan sekadar berdebat. Kritik tetap penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus disampaikan dengan argumentasi yang sehat, santun, dan bertanggung jawab.

Adapun keadilan sosial menjadi ukuran penting keberhasilan pembangunan. Kemajuan bangsa tidak boleh hanya dinilai dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur. Pembangunan harus dilihat dari kemampuan negara dan masyarakat dalam mengurangi ketimpangan, membuka akses pendidikan, memperluas kesempatan kerja, menjaga lingkungan hidup, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Keadilan sosial menuntut kehadiran negara secara nyata, sekaligus menuntut kepedulian warga terhadap kehidupan bersama.

Pengamalan nilai kebangsaan secara kreatif dapat dimulai dari ruang-ruang kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai materi pelajaran atau mata kuliah. Nilai dasar bangsa tersebut perlu tumbuh sebagai budaya akademik yang menumbuhkan nalar kritis, etika ilmiah, toleransi, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan. Pendidikan tinggi juga perlu menghadirkan proyek sosial, inovasi masyarakat, pengabdian berbasis kebutuhan lokal, serta kegiatan yang memperkuat empati dan tanggung jawab publik.

Baca Juga :  Haedar Nashir: Jangan Sampai Pancasila Hanya Jadi Slogan, Kaya Retorika tapi Miskin Praktik

Dalam lingkungan keluarga, nilai-nilai luhur bangsa dapat dihidupkan melalui pendidikan karakter yang sederhana. Anak-anak belajar tentang ketuhanan melalui ibadah, kejujuran, dan keteladanan orang tua. Pelajaran tentang kemanusiaan diperoleh dari cara keluarga memperlakukan tetangga, pekerja rumah tangga, dan orang yang berbeda. Nilai persatuan dan musyawarah tumbuh dari kebersamaan, dialog, serta suasana rumah yang menghargai pendapat. Keadilan juga dapat diperkenalkan melalui pembagian tanggung jawab yang seimbang.

Di tengah masyarakat, pengamalan nilai kebangsaan hadir melalui gotong royong, kepedulian terhadap tetangga, penyelesaian konflik secara damai, penguatan ekonomi lokal, dan kesediaan menjaga fasilitas umum. Pada titik ini, Pancasila tidak lagi tampak sebagai konsep besar yang jauh dari kehidupan. Dasar negara tersebut menjadi laku sederhana yang memberi dampak nyata. Dari tindakan kecil semacam itu, ruh kebangsaan dapat terus dirawat dan diperkuat.

Tantangan hari ini bukan semata-mata kurangnya pengetahuan tentang lima sila. Tantangan yang lebih mendasar terletak pada upaya menjadikan nilai dasar bangsa sebagai kesadaran yang hidup. Banyak warga dapat menyebutkan rumusan sila dengan baik, tetapi belum tentu mampu menerjemahkan nilai tersebut dalam tindakan. Banyak lembaga memasang lambang negara, tetapi belum tentu seluruh kebijakan mencerminkan keadilan, kemanusiaan, musyawarah, dan kepedulian sosial.

Pada akhirnya, merayakan Hari Lahir Pancasila bukan hanya mengenang sejarah semata. Lebih dari itu, dasar negara harus terus dihidupkan dalam pendidikan, kebijakan publik, ekonomi, teknologi, budaya, dan kehidupan digital. Pancasila tidak boleh menjadi teks yang diam. Falsafah bangsa tersebut perlu menjadi energi moral yang menggerakkan kehidupan nasional dalam menghadapi perubahan dengan kejernihan berpikir, keterbukaan sikap, dan tanggung jawab sosial. Indonesia membutuhkan nilai yang meneguhkan, menyatukan, dan memberi arah. Ruh Pancasila akan tetap kuat apabila diamalkan dengan kesadaran, ketulusan, dan kreativitas.

Penulis : Prof. Moh. Muslih, Ph.D. dan Lita Dwi Ariyanti, M.Pd. Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 06:49 WIB

Magang Nasional: Ketika Negara Membangun Jembatan bagi Fresh Graduate

Senin, 1 Juni 2026 - 11:36 WIB

MENEGUHKAN KEMBALI RUH PANCASILA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Berita Terbaru