BATANG, KANALPLUS.ID – Pernyataan Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat melantik Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) periode 2026–2031 menjadi tamparan keras bagi birokrasi di lingkungan Pemkab Batang. Di hadapan para pejabat, Faiz secara terbuka menilai kreativitas aparatur sipil negara (ASN) kerap tumpul karena terlena dengan kenyamanan status dan penghasilan yang diterima setiap bulan.
Menurutnya, kepastian gaji dan tunjangan justru membuat sebagian PNS enggan berpikir lebih keras untuk menghasilkan terobosan baru.
“Orang kalau sudah jadi PNS itu, mohon maaf, kreativitasnya biasanya menurun. Karena sudah berada di zona nyaman. Mau mikir kenceng atau mikir biasa, gajinya tetap sama. Akhirnya yang dipilih ya yang aman-aman saja,” ujar Faiz di Aula Kantor Bupati Batang, Kamis (11/6/2026).
Sindiran itu tidak berhenti di situ. Faiz juga mengkritik pola kerja sejumlah organisasi perangkat daerah yang dinilainya masih ingin mengerjakan semua hal sendiri, termasuk pekerjaan yang membutuhkan sentuhan kreativitas.
Akibatnya, berbagai program pemerintah hanya berputar pada konsep lama dengan kemasan yang nyaris tidak berubah setiap tahun.
“Output-nya monoton, dari tahun ke tahun tampilannya begitu-begitu saja. Penyebabnya sederhana, ide dan gagasannya terbatas karena semuanya ingin dikerjakan sendiri oleh dinas,” katanya.
Faiz menegaskan bahwa dinas bukanlah rumah produksi kreatif. Peran birokrasi seharusnya menjadi fasilitator yang menyiapkan regulasi, anggaran, pendampingan, dan pengawasan, bukan memonopoli proses kreatif yang justru membutuhkan perspektif baru.
Ia bahkan secara terbuka meminta seluruh dinas mulai melibatkan Komite Ekonomi Kreatif dalam berbagai kegiatan pemerintah daerah, terutama penyelenggaraan event.
Menurutnya, pelaku ekonomi kreatif memiliki semangat, energi, dan keberanian berpikir di luar kebiasaan yang belum tentu dimiliki birokrasi.
“Yang kreatif-kreatif ini serahkan kepada anak-anak muda dan teman-teman Komite Ekraf. Mereka punya passion, punya energi, dan ide-ide yang out of the box,” tegasnya.
Bupati berharap dinas cukup memberikan koridor kebijakan dan dukungan anggaran, sementara konsep serta pelaksanaan dipercayakan kepada pihak yang memang bergerak di bidang kreatif.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap budaya birokrasi yang selama ini dinilai terlalu nyaman dengan rutinitas, sehingga inovasi sering kali hanya menjadi slogan di atas kertas. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin dinamis, Faiz mengingatkan bahwa mempertahankan cara lama bukan lagi pilihan jika pemerintah ingin tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pesan yang disampaikan pun cukup jelas yakni, jika kreativitas birokrasi mulai kalah oleh zona nyaman, maka sudah saatnya memberi ruang bagi mereka yang berani menghadirkan ide-ide baru.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









