SILPA Batang Tembus Rp196 Miliar, Pemkab Sebut Dana Guru dan Efisiensi Belanja Jadi Penyebab Utama

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 15:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

SILPA Batang Tembus Rp196 Miliar, Pemkab Sebut Dana Guru dan Efisiensi Belanja Jadi Penyebab Utama dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Batang, Senin (22/6/26). Foto : Ilustrasi AI

SILPA Batang Tembus Rp196 Miliar, Pemkab Sebut Dana Guru dan Efisiensi Belanja Jadi Penyebab Utama dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Batang, Senin (22/6/26). Foto : Ilustrasi AI

BATANG, KANALPLUS.ID – Besarnya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2025 yang mencapai Rp196,33 miliar menjadi salah satu sorotan dalam pembahasan pertanggungjawaban APBD. Angka yang nilainya mendekati seperlima triliun rupiah itu memunculkan pertanyaan mengenai penyebab masih mengendapnya dana di kas daerah.

Menjawab sorotan tersebut, Pemerintah Kabupaten Batang menyebut SILPA yang terbentuk bukan semata-mata akibat program yang tidak berjalan, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis dan kebijakan efisiensi anggaran.

Wakil Bupati Batang Suyono saat membacakan jawaban Bupati atas pandangan umum fraksi-fraksi DPRD menjelaskan bahwa SILPA Rp196,33 miliar terdiri dari SILPA terikat sebesar Rp75,7 miliar dan SILPA bebas sebesar Rp120,63 miliar.

Menurutnya, salah satu penyumbang terbesar berasal dari dana transfer pemerintah pusat untuk pembayaran guru Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru masuk ke rekening kas daerah pada penghujung Desember 2025.

Baca Juga :  Batang Jadi Mesin Investasi Eks Karesidenan Pekalongan, Komitmen Investor Tembus Rp55 Triliun

Karena diterima menjelang tutup buku anggaran, dana tersebut tidak dapat direalisasikan pada tahun berjalan dan otomatis menjadi bagian dari SILPA.

Selain faktor transfer pusat yang terlambat masuk, pemerintah juga mengaitkan besarnya SILPA dengan kebijakan efisiensi belanja yang dilakukan selama tahun anggaran 2025.

Penjelasan tersebut disampaikan sebagai respons atas pertanyaan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Batang yang menyoroti tingginya saldo dana yang tersisa di akhir tahun.

Meski demikian, besarnya SILPA tetap menjadi perhatian karena pada sisi lain masih terdapat sejumlah kebutuhan pembangunan daerah yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Pemerintah Kabupaten Batang memastikan dana SILPA bebas sebesar Rp120,63 miliar tidak akan dibiarkan mengendap terlalu lama. Dana tersebut direncanakan masuk dalam skema pembiayaan pada APBD Perubahan 2026.

“Pemerintah Kabupaten Batang akan berupaya merencanakan dan mengelola SILPA tersebut dengan sebaik-baiknya pada Perubahan APBD 2026 sesuai prioritas pembangunan yang ada baik di sektor infrastruktur, kesehatan maupun pendidikan,” kata Suyono, senin (22/6/2026).

Baca Juga :  Warga Desa Penyangga Datangi Kantor KITB, Tagih Janji yang Dinilai Mandek Sejak Awal Pembangunan Kawasan

Selain menjelaskan soal SILPA, pemerintah daerah juga menanggapi kritik terkait pola realisasi anggaran yang sering menumpuk pada akhir tahun. Fenomena yang kerap disebut ‘belanja dikebut’ itu diakui menjadi perhatian tersendiri dan akan diantisipasi melalui pemantauan pelaksanaan program secara berkala setiap triwulan.

Di hadapan DPRD, Pemkab Batang juga menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari tingginya angka serapan anggaran, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Namun demikian, besarnya SILPA 2025 tetap menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah daerah. Sebab, semakin besar dana yang tersisa di akhir tahun, semakin besar pula pertanyaan publik mengenai efektivitas perencanaan dan kecepatan pelaksanaan program pembangunan yang telah dianggarkan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan
Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado
Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir
Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji
Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta
BPI dan DLHK Jateng Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Batang
Kejari Batang Musnahkan Ratusan Barang Bukti dan Ajak Pelajar-Santri Deklarasi Perundungan
Kurangi Biaya Operasional Melaut, Puluhan Nelayan Roban Barat Batang Dilatih Perbaiki Mesin Perahu

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Tanam 2.500 Bibit Aren, KEK Industropolis Batang Jadi Titik Awal Ekosistem Energi Hijau dan Kemandirian Pangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sampah Menumpuk dan Insentif RT di Batang Jadi Isu Utama Warga Blado

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Jembatan Kalibelo Kembali Beroperasi, Batang Fokus Percepat Pemulihan Infrastruktur Pasca Banjir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bupati Batang Tantang Pesantren Jadi Laboratorium Solusi, Bukan Hanya Tempat Mengaji

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Sri Sultan dan Pemkab Batang Perkuat Jejak Sejarah Batang–Yogyakarta

Berita Terbaru