Mengulik Asal Muasal Nama Sampangan di Kota Pekalongan, Dari Arsip Kolonial Hingga Legenda Wali Sampang

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Salah satu sudut gang di daerah Sampangan yang diyakini menjadi asal muasal eks Kelurahan Sampangan yang juga menjadi lokasi makam Wali Sampang.

Salah satu sudut gang di daerah Sampangan yang diyakini menjadi asal muasal eks Kelurahan Sampangan yang juga menjadi lokasi makam Wali Sampang.

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID  – Dari mana sebenarnya asal-usul nama Sampangan yang merupakan eks kelurahan di Kota Pekalongan? Pertanyaan itu kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul berbagai versi yang mengaitkannya dengan Kabupaten Sampang di Madura.

Penelusuran terhadap sejumlah tokoh masyarakat, pemerintah kelurahan, pemerhati sejarah hingga keluarga pemilik lahan tempat yang diyakini sebagai makam Wali Sampang menunjukkan bahwa asal-usul nama Sampangan hingga kini belum memiliki jawaban tunggal. Sejarah tertulis dan cerita tutur masyarakat justru berjalan berdampingan.

Lurah Kauman, Mustofa Hadi, menjelaskan bahwa Sampangan dahulu merupakan kelurahan tersendiri sebelum akhirnya digabung bersama Kauman, Keputran dan Sugihwaras pada 1 Januari 2015 sebagai bagian dari kebijakan efisiensi pemerintahan.

Wilayah bekas Kelurahan Sampangan berada di sisi barat laut kawasan Kauman saat ini, meliputi kawasan Jalan Hasanuddin hingga sekitar Jalan Sultan Agung dan sebagian Jalan Salak atau Pecinan sebelum akhirnya dilebur menjadi satu kekurahan. Sampangan memiliki lima RW, 32 RT dan 11 gang.

“Nama yang dipakai untuk membentuk kelurahan baru akhirnya Kauman karena dianggap paling kuat dibanding tiga kelurahan lainnya,” kata Mustofa di kantornya, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, kawasan Sampangan sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi Kota Pekalongan karena berdekatan dengan Pasar Banjarsari dan dihuni masyarakat multietnis, didominasi Jawa, Arab dan Tionghoa.

Namun satu penanda sejarah yang masih bertahan hingga kini adalah keberadaan Makam Wali Sampang di Gang 5. Bagi warga Sampangan, keberadaan makam tersebut sudah dikenal turun-temurun.

Tokoh masyarakat Sampangan, Mohammad Subirin Jibril (52), mengatakan masyarakat menghormati sosok yang disebut sebagai Wali Sampang, meski riwayat hidupnya tidak lagi diketahui secara pasti. Ia menyebut makam itu berada di lahan pekarangan milik keluarga keturunan Lie Tek Lok dan hingga kini masih ada.

“Dulu setiap Jumat Kliwon terutama setelah salat Jumat banyak orang datang berziarah ke makam Wali Sampang yang lokasinya ada di balik tembok pekarangan belakang rumah milik Lie Tek Lok, juragan roti legendaris Pekalongan di masa itu,” ujarnya.

Dari cerita orang tua terdahulu, makam Wali Sampang dirawat oleh Lie Tek Lok namun setelahnya tidak ada lagi yang mengurus. Meski berbeda keyakinan, generasi berikutnya masih mengizinkan warga untuk berziarah.

Baca Juga :  Tak Sekadar Adu Kicau, Piala SBS 2026 Wakafkan Seluruh Uang Pendaftaran Peserta untuk Kaum Dhuafa

“Jadi dulu sempat tiap Jumat Kliwon pintu samping rumah Lie Tek Lok selalu dibuka untuk memberikan kesempatan warga berziarah karena memang letak makam Wali Sampang ada di bagian belakang rumah yang dikelilingi tembok tinggi,” jelas Jibril.

Berbeda dengan versi tersebut, tokoh pemuda Sampangan sekaligus Ketua LPM Kelurahan Kauman, Muhammad Syakir Ilmi (43), menceritakan kisah yang berkembang di kalangan para sesepuh dan ulama setempat.

Menurut cerita turun-temurun, sosok yang dimakamkan diyakini bernama Habib Abdullah Syamsuddin, seorang ulama yang berasal dari Yaman, kemudian singgah di Madura sebelum berlayar menuju Pekalongan menggunakan perahu sampan yang didayung.

Konon, perahu itu berlabuh di kawasan Kali Loji yang pada masa lalu menjadi pusat perdagangan penting di Kota Pekalongan. Menurutnya Kali Loji hingga kini masih berdekatan dengan pemukiman yang sekarang disebut Sampangan.

“Dari kata sampan itulah kemudian muncul nama Sampangan, yakni tempat beliau bermukim dan berdakwah. Karena berasal dari Sampang Madura, masyarakat kemudian menyebut beliau sebagai Wali Sampang,” tutur Syakir.

Cerita lain yang masih hidup di masyarakat juga menyebut sejumlah sesepuh pernah melihat sosok berjubah putih menunggang kuda memasuki lokasi yang kini diyakini sebagai makam tersebut.

Menurut Syakir, kisah itulah yang kemudian mendorong para tokoh agama setempat melakukan penelusuran hingga akhirnya tradisi ziarah kembali dihidupkan setelah era Reformasi.

Ia menyebut almarhum KH Hasanuddin Subkhi, seorang ulama besar yang bermukim di Sampangan menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai ziarah rutin ke makam setiap selesai Salat Jumat bersama para santrinya.

“Tradisi itu kemudian berhenti setelah sang kiai wafat. Selain itu, rumah peninggalan Lie Tek Lok juga sempat kosong tidak dihuni selama puluhan tahun. Hanya ada satu cucu yang tinggal di rumah besar tempat lokasi makam Wali Sampang berada,” jelasnya.

Meski cerita rakyat berkembang luas, sejarawan Pekalongan Mohammad Dirhamsyah mengingatkan bahwa hingga kini belum ditemukan manuskrip atau sumber primer yang menjelaskan asal-usul nama Sampangan maupun sosok Wali Sampang.

Menurutnya, penelusuran melalui peta VOC tahun 1753, peta era Inggris sekitar 1815 hingga peta Karesidenan Pekalongan tahun 1854 belum menemukan nama Sampangan.

Baca Juga :  Dari Kawasan Industri Menjadi Rumah Satwa, Buku Biodiversitas PLTU Batang Ungkap Hasil Penelitian Ekologi 13 Tahun

Nama itu justru pertama kali ditemukan dalam surat kabar Javasche Courant tahun 1853 yang memuat pengumuman penjualan sebuah rumah di Desa Sampangan.

“Itu menjadi dokumen tertulis paling awal yang menyebut nama Sampangan. Baru pada peta Belanda tahun 1912 nama Sampangan muncul secara administratif,” bebernya.

Ia menduga kawasan tersebut sebenarnya sudah ada sebelumnya, tetapi jumlah penduduknya belum cukup besar sehingga belum dicatat sebagai satuan administrasi dalam peta kolonial.

Dirhamsyah juga menilai cerita mengenai Wali Sampang masih berada dalam ranah folklor atau tradisi lisan dan penuturan secara turun temurun yang belum lengkap atau utuh sehingga ada banyak versi berbeda dari literatur penyebutan nama Sampangan.

“Dalam metodologi sejarah, cerita rakyat tetap penting, tetapi nilainya belum sekuat sumber primer seperti arsip, koran, peta atau manuskrip,” terangnya.

Ia berharap suatu saat ditemukan naskah Arab Pegon atau manuskrip milik para ulama di kawasan Sampangan yang dapat memperjelas sejarah wilayah tersebut.

Cerita mengenai Wali Sampang juga berkaitan dengan rumah tua milik keluarga Lie Tek Lok, seorang pengusaha roti terkenal sekaligus Kapitan bagi warga keturunan pada masa kolonial di awal abad 20.

Bambang Wijaya (66), cucu Lie Tek Lok, mengatakan keluarganya memang mengetahui adanya satu petilasan atau makam di dalam area rumah. Namun keluarganya tidak pernah memperoleh cerita rinci mengenai siapa sebenarnya sosok yang dimakamkan di sana.

“Orang tua hanya bilang ada satu petilasan. Kalau soal siapa Wali Sampang, saya juga tidak begitu tahu,” ujarnya.

Ia juga membenarkan bahwa tradisi ziarah baru ramai setelah era Reformasi. Sebelumnya, ketika masih masa Orde Baru, hampir tidak ada aktivitas ziarah di lokasi tersebut.

Hingga kini, asal-usul nama Sampangan masih menyisakan pertanyaan untuk penelitian lebih lanjut.

Di satu sisi, masyarakat masih memegang kuat cerita mengenai Wali Sampang dan legenda perahu sampan yang diyakini menjadi asal penamaan kawasan tersebut. Di sisi lain, kalangan sejarawan menilai kisah tersebut masih membutuhkan dukungan bukti primer agar dapat dipastikan sebagai bagian dari sejarah Pekalongan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru

Kesibukan kru dalam produksi film di sebuah studio besar. Foto: Ilustrasi AI

Hiburan

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:10 WIB