KARANGANYAR, KANALPLUS.ID – Dakwah tidak boleh berhenti di atas mimbar. Di tengah beragam persoalan yang dihadapi masyarakat, dakwah harus mampu hadir sebagai solusi nyata yang mendampingi keluarga, memberdayakan perempuan, hingga menguatkan masyarakat dari tingkat desa.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, saat menghadiri Jambore Dakwah Kemanusiaan yang digelar Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah di Wonder Park, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (27/6/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 670 mubalighat dan pendamping keluarga dari berbagai daerah di Jawa Tengah itu, Salmah menegaskan bahwa dakwah yang dilakukan organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Dakwah harus dilakukan dengan hikmah, kasih sayang, dan menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat,” ujar Salmah.
Menurutnya, keluarga menjadi titik awal lahirnya masyarakat yang kuat. Karena itu, pendampingan kepada keluarga memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang berkarakter sekaligus memperkuat ketahanan sosial.
Ia menilai dakwah tidak cukup hanya melalui ceramah atau penyampaian materi keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui keteladanan, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
“Jawa Tengah menunjukkan bahwa dakwah yang paling utama dimulai dari keluarga. Keluarga merupakan pilar utama lahirnya masyarakat yang sejahtera dan peradaban yang maju,” katanya.
Salmah menjelaskan, sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, ‘Aisyiyah terus menjalankan dakwah kemanusiaan melalui berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, pemberdayaan ekonomi, koperasi, hingga layanan bantuan hukum.
Menurutnya, model dakwah seperti inilah yang perlu terus diperkuat karena mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan konsep Qaryah Thayyibah sebagai fondasi pembangunan masyarakat berbasis keluarga. Konsep tersebut tidak hanya bertujuan membentuk keluarga sakinah, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang religius, sehat, damai, mandiri secara ekonomi, memiliki kesadaran politik, serta bebas dari kemiskinan melalui semangat gotong royong.
Program tersebut kini terus diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sejumlah mitra strategis dalam pengembangan desa berbasis Qaryah Thayyibah.
Salmah mengapresiasi inisiatif PWA Jawa Tengah yang menggelar Jambore Dakwah Kemanusiaan sebagai ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat jejaring para mubalighat dan pendamping keluarga.
Ia berharap semakin banyak praktik baik lahir dari tingkat cabang, ranting, hingga desa sehingga dakwah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di akhir sambutannya, Salmah mengajak seluruh kader ‘Aisyiyah untuk terus mendampingi keluarga, memperkuat perempuan, anak, serta kelompok rentan sebagai bagian dari kontribusi organisasi dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
“Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan keikhlasan kita, dan menerima seluruh amal dakwah yang kita lakukan,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












