Beda Usia 28 Tahun Tak Menghalangi Cinta, Buruh Pabrik 22 Tahun Ini Mantap Nikahi Janda Dua Anak Lewat Nikah Massal di Pemalang

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Senyum bahagia Fajri (22) dan Mutmaimah (50) setelah resmi menjadi pasangan suami istri memperlihatkan buku nikah yang menjadi bukti keteguhan cinta mereka di hadapan penghulu di Kantor Kemenag Kabupaten Pemalang, Jumat (26/6/26).

Senyum bahagia Fajri (22) dan Mutmaimah (50) setelah resmi menjadi pasangan suami istri memperlihatkan buku nikah yang menjadi bukti keteguhan cinta mereka di hadapan penghulu di Kantor Kemenag Kabupaten Pemalang, Jumat (26/6/26).

Setelah tiga tahun saling mengenal, Fajri memilih menikahi Mutmaimah yang terpaut usia 28 tahun. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka menemukan jalan menuju halal lewat program nikah massal Kementerian Agama.

PEMALANG, KANALPLUS.ID – Di antara puluhan pasangan yang mengikuti program nikah massal Kementerian Agama (Kemenag) RI di Kantor Kemenag Kabupaten Pemalang, ada satu pasangan tak banyak menjadi perhatian orang. Bukan karena balutan pakaian pengantinnya yang tak mewah, melainkan karena kisah cinta mereka yang tak biasa.

Fajri Rofiq Subkhi, seorang buruh pabrik berusia 22 tahun asal Desa Serang, Kecamatan Bantarbolang, mantap mempersunting Mutmaimah, perempuan berusia 50 tahun yang telah lebih dulu menjalani kehidupan sebagai janda selama bertahun-tahun dan memiliki dua orang anak.

Perbedaan usia yang mencapai 28 tahun ternyata bukan penghalang bagi keduanya untuk membangun rumah tangga.

Bagi Fajri, keputusan menikah bukan didasarkan pada usia, melainkan keyakinan bahwa mereka telah saling mengenal dan siap menjalani kehidupan bersama.

Hubungan keduanya telah terjalin selama lebih dari tiga tahun. Selama itu pula mereka saling mengenal karakter masing-masing hingga akhirnya memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan.

“Kalau menikah sendiri biayanya besar. Sekarang ekonomi juga masih sulit. Jadi kami sepakat ikut nikah massal,” kata Fajri kepada kanalplus.id, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga :  Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Sebagai buruh pabrik, Fajri mengaku belum memiliki kemampuan finansial untuk menggelar pesta pernikahan seperti kebanyakan orang. Informasi mengenai program nikah massal diperoleh dari Kantor Urusan Agama (KUA) Bantarbolang.

Tanpa ragu, ia dan calon istrinya sepakat mengikuti program tersebut karena dinilai menjadi solusi untuk mewujudkan impian mereka membangun keluarga.

Di sisi lain, Mutmaimah mengaku tidak pernah menyangka akan kembali menemukan pendamping hidup.

Sepuluh tahun menjalani hidup sebagai janda membuatnya memilih tidak mencari pasangan. Baginya, jika Tuhan masih memberikan jodoh, maka itulah takdir yang akan diterimanya.

“Saya dari dulu prinsipnya tidak mencari. Kalau Allah masih memberi jodoh, saya terima,” ujarnya.

Pertemuan dengan Fajri perlahan mengubah perjalanan hidupnya. Meski terpaut usia cukup jauh, ia memilih tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Selama tiga tahun keduanya menjalani proses saling mengenal sebelum akhirnya yakin melangkah ke pelaminan.

Menurut Mutmaimah, usia bukan ukuran utama dalam membangun rumah tangga.

“Umur bukan ukuran kedewasaan. Banyak yang usianya lebih muda tetapi justru lebih dewasa dalam berpikir,” tuturnya.

Baca Juga :  Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan

Ia menilai Fajri mampu menjadi pasangan yang bisa mengimbanginya dalam cara berpikir maupun menjalani kehidupan sehari-hari.

Keputusan mereka menikah juga mendapat restu keluarga. Bahkan anak-anak Mutmaimah memberikan dukungan penuh.

“‘Terserah Mama, yang penting Mama bahagia,’ begitu kata anak-anak saya,” ucapnya sambil tersenyum.

Putri sulungnya bahkan telah menikah lebih dulu, sedangkan anak keduanya baru akan memasuki bangku SMP.

Mutmaimah mengaku suasana nikah massal justru menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

“Bahagia, ramai-ramai seperti ini,” katanya singkat.

Pasangan ini menjadi salah satu peserta program nikah massal yang digagas Kementerian Agama RI dan diluncurkan secara nasional dari Kabupaten Pemalang. Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat yang telah memenuhi syarat menikah namun terkendala biaya, sehingga seluruh proses pencatatan hingga administrasi difasilitasi secara gratis oleh negara.

Di balik sederet pasangan yang mengucap ijab kabul hari itu, kisah Fajri dan Mutmaimah menjadi inspirasi kekuatan cinta yang mereka yakini.

Kedua mempelai juga meyakini bahwa cinta tidak selalu mengikuti hitungan usia. Bagi mereka, yang terpenting bukan berapa tahun jarak yang memisahkan, melainkan keyakinan untuk saling menerima, saling menguatkan, dan memulai lembaran baru kehidupan bersama.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru

Kesibukan kru dalam produksi film di sebuah studio besar. Foto: Ilustrasi AI

Hiburan

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:10 WIB