PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di sudut Desa Pedawang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, hidup keluarga Kusmono (49) dalam kondisi yang memprihatinkan. Bersama istri dan anak-anaknya, ia bertahan di rumah sempit berukuran sekitar 4×7 meter yang kondisinya jauh dari kata layak huni. Ironisnya, meski masuk kategori warga miskin ekstrem dalam database desil 1, bantuan bedah rumah yang diharapkan tak kunjung datang.
Rumah yang kini ditempati Kusmono bahkan bukan miliknya sendiri. Ia hanya menumpang di lahan milik kerabat. Kondisi itu menjadi salah satu kendala utama mengapa bantuan rumah layak huni belum bisa direalisasikan.
Kepada wartawan, Kusmono mengungkapkan kekecewaannya karena selama bertahun-tahun dirinya hanya menjadi ‘penonton’ berbagai program bantuan pemerintah pusat maupun daerah.
“Seperti bantuan PKH, saya memang belum merasakan sama sekali,” ujar Kusmono sambungan telepon, Senin (11/5/2026).
Ia mengaku pernah diberi tanda sebagai keluarga miskin dengan tulisan di dinding kayu rumahnya. Namun, karena merasa tidak pernah mendapatkan bantuan nyata, tulisan itu akhirnya ia hapus sendiri.
“Saya pernah dikasih tulisan keluarga miskin, tapi tidak dapat bantuan itu bagaimana. Ya lebih baik saya kelupas saja,” bebernya.
Menurut Kusmono, kondisi kemiskinannya sebenarnya sudah sangat terlihat tanpa perlu diberi penanda khusus. Namun bantuan nyata yang diharapkan memang belum pernah terealisasikan.
“Jadi tidak ditulis pun orang lewat saja sudah bisa tahu kalau saya ini keluarga miskin,” ucapnya memelas.
Harapan sempat muncul ketika suami dari Bupati Pekalongan, datang langsung mengunjungi rumahnya beberapa waktu lalu. Saat itu, Kusmono mengaku mendapat janji bahwa rumahnya akan dibantu melalui program bedah rumah.
“Pak Asraf sudah bilang waktu itu, bedah rumah itu memang tidak bisa langsung jadi. Katanya tidak sampai tiga bulan nanti ada tindak lanjut,” tutur Kusmono.
Kunjungan tersebut bahkan sempat dipublikasikan melalui media sosial dan dokumentasi resmi. Namun hingga kini, janji tersebut belum terealisasi. Bedah rumah yang ditunggu seperti berlalu begitu saja.
“Saya tunggu-tunggu sampai sekarang malah belum ada kabar lagi,” katanya pasrah.
Kondisi rumah yang ditinggali keluarga Kusmono memang sangat memprihatinkan. Bangunan kecil itu dihuni enam orang sekaligus. Dengan ruang terbatas, keluarga tersebut harus berbagi tempat tidur dan menjalani aktivitas sehari-hari dalam kondisi serba kekurangan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kusmono bekerja serabutan. Kadang ia mencari kayu bakar atau menerima pekerjaan kasar apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk dibawa pulang.
“Saya ikut kerja serabutan lah, cari kayu dan pekerjaan apa saja yang bisa didapat,” ujarnya.
Sementara istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak mereka. Kemiskinan yang dialami keluarga ini juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya sempat bersekolah, namun akhirnya berhenti.
“Saya tidak memaksa anak kalau memang sudah enggak kuat sekolah. Takutnya malah merepotkan,” kata Kusmono.
Pemerintah desa sebenarnya sudah mencoba membantu, termasuk mengusulkan anak Kusmono mengikuti program pendidikan kejar paket. Namun upaya itu juga tidak berjalan lancar.
Kepala Desa Pedawang, Suyono, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami warganya tersebut. Ia mengatakan pemerintah desa sebenarnya sudah beberapa kali berupaya mengusulkan bantuan bedah rumah.
“Sebetulnya kami sudah pernah ada program bedah rumah. Tapi waktu itu terkendala status tanah dan ada persoalan keluarga yang tidak mengizinkan rumah dibangun permanen,” jelas Suyono.
Menurutnya, rumah yang kini ditempati Kusmono berdiri di tanah milik keluarga lain sehingga desa tidak berani mengalokasikan anggaran pembangunan permanen.
“Dulu bahkan pernah ada keluarga yang datang ke balai desa meminta supaya rumah itu jangan dibangun permanen,” katanya.
Suyono mengungkapkan, pihak desa sebenarnya sempat lega ketika rumah Kusmono dikunjungi langsung oleh suami dari Bupati Pekalongan bersama sejumlah tim dari dinas terkait. Rumah tersebut bahkan sudah disurvei untuk program bantuan.
“Sudah disurvei, bahkan dijanjikan dalam waktu dekat akan digarap supaya jadi rumah layak,” ungkap Kusmono.
Namun karena sudah ada intervensi dari tingkat kabupaten, pemerintah desa memilih menunggu dan tidak berani lagi mengusulkan bantuan serupa melalui anggaran desa.
“Kami takut tumpang tindih. Kami menunggu kepastian. Kalau memang tidak jadi ya sampaikan tidak jadi, supaya desa bisa bergerak,” tegasnya.
Suyono mengaku kondisi tersebut membuat pemerintah desa serba salah di mata masyarakat.
“Yang lain rumahnya sudah layak, kok yang ini satu belum. Kami juga jadi enggak enak,” jelas Kades Suyono.
Meski terkendala status lahan yang sekarang ditempati, secercah harapan sebenarnya masih ada. Keluarga pihak istri Kusmono disebut telah memberikan sebidang tanah yang bisa digunakan untuk membangun rumah baru secara permanen. Pemerintah desa bersama perangkat dan RT bahkan sudah melakukan pengukuran lokasi tersebut.
“Tanah untuk istrinya Pak Kusmono itu sudah ada dan sudah kami ukur. Jadi kalau nanti turun bantuan, rencananya dibangun di situ,” terang Suyono.
Selama ini, pemerintah desa juga mengaku beberapa kali membantu secara swadaya. Bantuan kecil seperti material bangunan hingga kebutuhan sehari-hari pernah diberikan, meski sifatnya sementara.
“Kalau ada bantuan kecil-kecilan seperti beli kayu atau genteng ya kami bantu sebisanya,” paparnya.
Selain itu, bantuan sembako, tempat tidur, perlengkapan sekolah hingga sejumlah kebutuhan rumah tangga juga pernah diberikan saat kunjungan dari tim kabupaten.
Namun bagi keluarga Kusmono, semua bantuan itu belum mampu menjawab persoalan utama yakni tempat tinggal yang aman dan layak bagi anak-anak mereka.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













