PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah beragamnya kuliner soto dan tauto khas Pekalongan, ada satu menu ekstrem yang hanya bisa ditemukan di satu tempat, namanya Soto KTL Bu Iru di mana KTL adalah singkatan dari kontol sapi, bagian daging yang jarang diolah dan bahkan tak laku dijual di pasar. Namun sejak 1985, justru potongan unik inilah yang mengantarkan nama Rukiyah (73) atau yang akrab disapa Bu Iru, menjadi salah satu legenda kuliner Kabupaten Pekalongan.
Lokasi warung Soto KTL berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Wiradesa, warung sederhana ini tidak pernah sepi. Aroma tauco fermentasi khas tauto berpadu rasa gurih daging khas KTL menjadi ciri yang tak ditemukan di daerah lain, bahkan di seluruh Indonesia.
Bu Iru mengenang, ide menjual Soto KTL muncul saat bagian daging tersebut dulu berlimpah dan tak ada yang membeli alias tidak laku.
“Itu kan di pasar nggak laku. Terus saya ambil, nyoba-nyoba. Kok enak. Banyak yang suka,” kata Bu Iru saat ditemui di warungnya yang sederhana, Kamis (23/4/2026).
Sejak itu, Soto KTL Bu Iru langsung mencuri perhatian dan laris manis. Pada masa jayanya, dalam sehari ia bisa menghabiskan 5–6 kilogram daging KTL.
Kini, pasokan tak lagi mudah. Ia harus pesan ke luar daerah, terkadang hanya mendapat satu atau dua potong sehari. Bahkan bisa nihil. Jika sedang beruntung, bisa memperoleh maksimal enam potong.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, daging KTL kini sering dicampur daging sapi biasa. Jumlah penjualan harian pun turun menjadi sekitar 3 kilogram atau 60 porsi lebih.
Namun meski pasokan tipis, satu hal yang tak berubah sejak dahulu, selalu ludes sebelum jam 1 siang. Padahal warung buka tiap pukul 09.00 WIB.
Bu Iru mengungkap, kenaikan harga mengikuti melambungnya harga daging sehingga harga jual per satu porsinya juga bertambah dari awal jualan Rp1500 hingga kini Rp20 ribu per porsi.
“Dulu harga dagingnya masih murah. Sekarang harga daging Rp130 ribu per kilo,” katanya.
Meski begitu, tak mengurangi antusiasme pembeli yang datang dari kantor-kantor sekitar hingga wilayah kota dan kabupaten.
Fandi (50), pelanggan yang mengaku sudah makan Soto KTL sejak puluhan tahun lalu, mengatakan cita rasa daging KTL tak bisa dibandingkan dengan daging sapi biasa.
“Jasi dagingnya itu selalu fresh, manis. Teksturnya lembut. Rasanya enak dan unik. Jarang ada, yang jual, hanya di sini tempatnya” ujarnya.
Ia bahkan datang seminggu dua kali hanya untuk menyantap menu yang menurutnya tidak tergantikan.
Siti (40), warga Wonokerto, sudah menikmati Soto KTL sejak SMA. Baru-baru ini ia kembali datang setelah menu tersebut viral di TikTok.
“Saya pesan yang KTL. Rasanya pedas-pedas enak, masih sama kayak dulu dan harganya cukup worth it, hanya Rp20 ribu per porsi,” katanya.
Meski kini sudah berkeluarga, ia mengaku masih kerap datang bersama para sahabatnya untuk menikmati kuliner yang sudah ada ketika dirinya masih sekolah.
Hal senada juga diungkapkan Gina (49), warga Tirto, yang sudah 15 tahun menjadi pelanggan. Ia selalu membeli dua porsi untuk dibawa pulang.
“Rasanya enak. Yang membedakan ya KTL-nya. Di tempat lain nggak ada,” ucapnya.
Gina mengingat kalau dahulu harga per porsi hanya Rp7.000–Rp13.000. Kini sudah Rp20.000. Namun menurut para pelanggan lainnya, harga tersebut masih sangat terjangkau untuk rasa seunik itu.
Bagi yang belum pernah mencoba, soto “KTL” mungkin terdengar ekstrem. Namun bagi warga Pekalongan, menu ini justru menjadi ikon unik yang terus diburu.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









