KANAL PEKALONGAN – Perumdam Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan mewacanakan penerapan sistem genap ganjil dalam distribusi air bersih untuk menjaga pemerataan aliran kepada pelanggan di tengah penurunan debit pasokan dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Petanglong.
Namun, wacana tersebut belum menjadi usulan resmi dan masih perlu dibicarakan lebih lanjut dengan pengelola SPAM Regional Petanglong. Kajian teknis juga diperlukan untuk memastikan skema tersebut bisa diterapkan tanpa menimbulkan persoalan baru pada jaringan perpipaan.
Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Kajen, Ary Widiyanto, mengatakan keterbatasan debit air saat ini membuat pasokan untuk wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan belum bisa maksimal.
Menurut Ary, kapasitas pasokan SPAM Regional Petanglong yang dalam kondisi normal mencapai sekitar 200 liter per detik, kini diperkirakan hanya berkisar 80-90 liter per detik.
Kondisi tersebut membuat pembagian air ke dua wilayah menjadi tantangan, terutama untuk menjangkau pelanggan yang berada di ujung jaringan perpipaan.
“Kapasitas sumber yang ada di Krompeng ataupun di SPAM Regional Petanglong itu tidak bisa untuk memberikan suplai maksimal kepada dua wilayah, Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan,” kata Ary kepada kanalplus.id, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, sistem genap ganjil menjadi salah satu wacana yang muncul dalam pembicaraan internal untuk mencari cara agar pelanggan di masing-masing wilayah bisa mendapatkan pasokan air dengan tekanan yang lebih baik.
Melalui skema tersebut, pasokan air diharapkan dapat difokuskan secara bergantian ke salah satu wilayah, sehingga debit yang tersedia bisa dimanfaatkan secara maksimal sebelum dialihkan ke wilayah lainnya.
Meski demikian, Ary menegaskan, wacana itu belum menjadi keputusan ataupun usulan resmi yang siap diterapkan. Pembahasannya masih memerlukan kajian dari pengelola SPAM Regional Petanglong, termasuk menghitung dampak teknis jika aliran air dihentikan sementara selama 24 jam di salah satu wilayah.
Salah satu risiko yang perlu diperhitungkan adalah kemungkinan terbentuknya jebakan udara di dalam pipa ketika tidak ada aliran air. Kondisi tersebut berpotensi menghambat distribusi air ketika pasokan kembali dialirkan.
“Di saat off 24 jam itu pipa pasti tidak ada aliran. Itu akan berisiko terhadap potensi jebakan udara. Itu harus dihitung, recovery-nya seperti apa,” ujarnya.
Karena itu, menurut Ary, penerapan sistem genap ganjil tidak bisa dilakukan hanya dengan mempertimbangkan ketersediaan debit air. Pengelola SPAM Regional perlu menghitung risiko terhadap jaringan perpipaan sekaligus memastikan pemulihan aliran setelah pasokan kembali dibuka.
Ary mengatakan, salah satu tujuan yang ingin dicapai melalui wacana tersebut adalah memperbaiki pelayanan bagi pelanggan yang berada di titik terjauh jaringan distribusi.
Selama pasokan air terbatas dan harus dibagi untuk dua wilayah, tekanan air dinilai belum cukup untuk menjangkau seluruh pelanggan secara merata. Akibatnya, pelanggan yang berada di ujung jaringan berpotensi mengalami kesulitan mendapatkan aliran air.
Jika nantinya skema genap ganjil dinilai layak dan disetujui, pemusatan pasokan ke satu wilayah diharapkan bisa meningkatkan tekanan air sehingga pelanggan di titik terjauh turut mendapatkan aliran yang lebih baik.
“Yang jelas, dengan kapasitas maksimal, masyarakat pelanggan di titik terjauh itu pasti bisa kami suplai,” tegas Ary.
Ia menambahkan, pelanggan juga dapat memanfaatkan waktu ketika aliran tersedia untuk menampung air sebagai persediaan selama periode penghentian pasokan sementara.
Berdasarkan perhitungan yang disampaikan Ary, kebutuhan air rumah tangga dalam kondisi normal diperkirakan sekitar satu meter kubik atau 1.000 liter per hari. Jumlah tersebut dinilai dapat menjadi acuan bagi pelanggan untuk menyiapkan cadangan air guna memenuhi kebutuhan dasar, seperti mandi dan memasak.
Namun, kebutuhan setiap rumah tangga bisa berbeda, bergantung pada jumlah anggota keluarga dan pola pemakaian air sehari-hari.
Ary menegaskan, kemungkinan penerapan sistem tersebut masih bergantung pada hasil pembahasan dan kajian teknis SPAM Regional Petanglong. Perumdam Tirta Kajen belum memastikan apakah wacana itu akan diteruskan menjadi usulan resmi atau diterapkan sebagai kebijakan pelayanan.
Ia berharap upaya mencari pola distribusi yang lebih tepat dapat membantu masyarakat Kabupaten Pekalongan mendapatkan pasokan air yang lebih baik di tengah kondisi debit yang masih terbatas.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












