Bukan Hanya Agama Besar, Inilah 6 Kepercayaan Kuno yang Masih Bertahan hingga Sekarang

- Jurnalis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ilustrasi enam agama kuno yang masih bertahan hingga sekarang, mulai dari Zoroastrianisme di Persia, Taoisme di Tiongkok, Jainisme di India, Shinto di Jepang, hingga Samaritanisme dan Mandaeisme di Timur Tengah. (Foto: Ilustrasi AI)

Ilustrasi enam agama kuno yang masih bertahan hingga sekarang, mulai dari Zoroastrianisme di Persia, Taoisme di Tiongkok, Jainisme di India, Shinto di Jepang, hingga Samaritanisme dan Mandaeisme di Timur Tengah. (Foto: Ilustrasi AI)

KANAL RELIGI – Selama ribuan tahun, peradaban manusia mengalami perubahan besar. Kerajaan dan kekaisaran muncul lalu runtuh, kota-kota kuno berubah menjadi reruntuhan dan tradisi masyarakat berganti mengikuti perkembangan zaman. Namun, di tengah perubahan tersebut, sejumlah agama dan sistem kepercayaan kuno masih bertahan hingga abad ke-21.

Sebagian di antaranya pernah menjadi agama utama sebuah kekaisaran besar. Sebagian lain bertahan melalui komunitas kecil yang menjaga tradisi leluhur di tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama berbeda. Ada pula kepercayaan yang tidak memiliki satu tokoh pendiri karena tumbuh secara bertahap dari kebudayaan masyarakat selama berabad-abad.

Selain Kristen, Yudaisme, Hindu, Buddha dan Konghucu, terdapat sejumlah tradisi keagamaan lain yang memiliki sejarah panjang. Di antaranya Zoroastrianisme dari Persia, Taoisme dari Tiongkok, Jainisme dari India, Shinto dari Jepang, Samaritanisme dari kawasan Israel-Palestina, serta Mandaeisme yang berakar di Timur Tengah.

Masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang Tuhan atau realitas tertinggi, hubungan manusia dengan alam, tujuan kehidupan, serta apa yang terjadi setelah kematian.

Usia dan jumlah pengikut agama-agama tersebut tidak selalu bisa ditentukan secara pasti. Sebagian sudah ada sebelum catatan sejarah ditulis secara sistematis, sedangkan yang lain memiliki tokoh dan perkembangan sejarah yang lebih jelas. Angka pengikut yang dicantumkan karena itu merupakan perkiraan, bukan hasil sensus global yang seragam.

1. Zoroastrianisme, Agama Persia Kuno yang Pernah Berpengaruh Besar

Zoroastrianisme merupakan salah satu agama tertua yang masih dipraktikkan hingga sekarang. Agama ini berasal dari kawasan Persia kuno, yang sebagian besar wilayah intinya kini berada di Iran.

Perkiraan usia Zoroastrianisme berkisar 3.000 hingga 3.700 tahun, meskipun waktu kehidupan pendirinya masih diperdebatkan para ahli sejarah. Sebagian penelitian menempatkan Zarathustra, yang dalam tradisi Yunani dikenal sebagai Zoroaster, sekitar milenium kedua sebelum Masehi.

Jumlah pengikutnya diperkirakan sekitar 100.000–200.000 orang di seluruh dunia, meskipun angka pastinya tidak diketahui.

Wilayah persebaran, Iran dan India merupakan pusat komunitas bersejarahnya. Penganutnya juga terdapat di Pakistan, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan sejumlah negara lain.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Zoroastrianisme dikaitkan dengan Zarathustra, seorang tokoh religius yang mengajarkan pandangan baru tentang hubungan manusia dengan kebenaran dan kekuatan ilahi.

Agama ini kemudian berkembang luas ketika dinasti-dinasti Persia menjadikannya bagian penting dari kehidupan keagamaan dan kebudayaan kerajaan. Pada masa kekuasaan Persia kuno, pengaruhnya menjangkau wilayah yang sangat luas.

Setelah penaklukan Persia oleh pasukan Muslim pada abad ketujuh Masehi, kedudukan Zoroastrianisme berubah. Sebagian penganutnya tetap tinggal di Iran, sementara kelompok lain bermigrasi ke India. Keturunan komunitas migran Persia tersebut dikenal sebagai Parsi.

Apa ajarannya?

Inti ajaran Zoroastrianisme sering dirangkum dalam tiga prinsip, yakni pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik.

Penganutnya diajarkan untuk memilih kebenaran, menjaga keteraturan moral, serta menentang kebohongan dan tindakan yang merusak. Manusia dipandang memiliki tanggung jawab untuk menentukan sikapnya dalam pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.

Api memiliki kedudukan penting dalam ritual Zoroastrianisme. Namun, anggapan bahwa penganutnya menyembah api merupakan penyederhanaan yang keliru. Api diperlakukan sebagai lambang kemurnian dan sarana ritual yang berkaitan dengan penghormatan kepada Tuhan.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Zoroastrianisme menempatkan Ahura Mazda sebagai Tuhan Yang Mahabijaksana dan sumber kebaikan serta keteraturan.

Ajarannya memiliki unsur dualisme moral yang kuat, terutama dalam pertentangan antara kebenaran dan kebohongan, kebaikan dan kejahatan. Meski demikian, penafsiran tentang hubungan Ahura Mazda dengan kekuatan jahat berbeda menurut tradisi dan aliran pemikiran Zoroastrianisme.

Gambaran tersebut membuat Zoroastrianisme kerap dibahas dalam sejarah perkembangan gagasan tentang Tuhan, tanggung jawab moral, penghakiman, dan kehidupan setelah kematian. Namun, pengaruh langsungnya terhadap agama-agama lain tidak selalu dapat dipastikan dalam setiap ajaran yang memiliki kemiripan.

Mengapa masih bertahan?

Zoroastrianisme bertahan karena komunitasnya menjaga kitab suci, ritual, tempat ibadah, pendidikan agama, dan tradisi keluarga. Di India, komunitas Parsi turut mempertahankan identitas keagamaan tersebut selama berabad-abad.

Jumlah pengikutnya memang kecil dibandingkan masa kejayaannya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah rendahnya pertumbuhan populasi serta perbedaan pandangan tentang keanggotaan agama, terutama dalam keluarga dengan pasangan yang berbeda agama.

Meskipun demikian, keberadaan komunitas Zoroastrian di berbagai negara menunjukkan bahwa agama yang pernah menjadi bagian penting dari peradaban Persia itu belum hilang dari kehidupan manusia modern.

2. Taoisme, Jalan Spiritual dari Tiongkok Kuno

Taoisme atau Daoisme merupakan tradisi keagamaan dan filsafat yang berkembang di Tiongkok. Akar pemikirannya dapat ditelusuri hingga sekitar abad keenam hingga keempat sebelum Masehi, meskipun tradisi yang mendasarinya mungkin lebih tua.

Berbeda dengan agama yang memiliki satu pendiri dengan riwayat kehidupan yang jelas, Taoisme berkembang melalui beragam pemikiran, praktik spiritual, ritual, dan tradisi masyarakat Tiongkok.

Jumlah pengikutnya sulit dihitung secara terpisah. Taoisme memiliki jutaan penganut dan praktisi, tetapi batas antara Taoisme, kepercayaan rakyat Tiongkok dan tradisi keagamaan lainnya sering kali saling beririsan.

Wilayah persebaran, Tiongkok daratan, Taiwan, Hong Kong, serta komunitas keturunan Tionghoa di Asia Tenggara dan berbagai negara lain.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Nama Laozi atau Lao Tzu sering dikaitkan dengan fondasi pemikiran Taoisme. Ia secara tradisional dianggap sebagai tokoh yang menyusun kitab Dao De Jing, salah satu teks terpenting dalam tradisi tersebut.

Namun, keberadaan historis Laozi dan rincian kehidupannya masih diperdebatkan. Karena itu, kurang tepat menyebutnya sebagai pendiri tunggal yang membentuk seluruh Taoisme dalam bentuknya sekarang.

Tokoh lain, seperti Zhuangzi, turut mengembangkan pemikiran yang menekankan kebebasan batin, perubahan dan keterbatasan pengetahuan manusia.

Taoisme kemudian berkembang menjadi tradisi yang lebih luas, mencakup praktik meditasi, ritual, penghormatan kepada dewa-dewi, serta organisasi keagamaan.

Apa ajarannya?

Gagasan utama Taoisme adalah hidup selaras dengan Dao, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai jalan, prinsip, atau pola mendasar yang mengatur keberadaan dan perubahan alam semesta.

Salah satu konsep terkenalnya adalah wu wei, yang sering diterjemahkan sebagai tindakan tanpa pemaksaan. Konsep ini bukan berarti manusia harus pasif atau tidak melakukan apa pun, melainkan bertindak secara wajar, tepat, dan tidak memaksakan kehendak secara berlebihan.

Taoisme juga memberi perhatian pada kesederhanaan, keseimbangan, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan alam.

Dalam perkembangannya, sebagian aliran Taoisme mengembangkan praktik meditasi, latihan pernapasan, ritual penyucian, dan pencarian umur panjang. Namun, tidak semua praktik tersebut dianut oleh seluruh penganut Taoisme.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Konsep ketuhanan Taoisme tidak sesederhana gagasan tentang satu Tuhan personal yang menciptakan alam semesta.

Dalam tradisi filosofisnya, Dao bukan sekadar dewa atau pribadi yang memberikan perintah. Dao dipahami sebagai prinsip mendasar yang melandasi keberadaan dan perubahan segala sesuatu.

Sementara itu, Taoisme sebagai agama memiliki tradisi pemujaan kepada berbagai dewa, makhluk suci, dan figur spiritual. Beberapa aliran juga mengenal konsep keabadian serta tingkatan keberadaan ilahi.

Karena itu, Taoisme memiliki keragaman pandangan ketuhanan. Ada sisi filosofis yang berpusat pada Dao sebagai prinsip kosmis dan sisi keagamaan yang mempunyai ritual serta jajaran figur ilahi.

Mengapa masih bertahan?

Taoisme bertahan karena melekat dalam kebudayaan masyarakat Tiongkok. Pengaruhnya dapat ditemukan dalam ritual keluarga, perayaan tradisional, seni, pengobatan tradisional, seni bela diri, serta cara sebagian masyarakat memahami hubungan manusia dengan alam.

Tradisi ini juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan politik dan sosial. Meski pernah menghadapi pembatasan dan tekanan, praktik Taoisme tetap hidup di berbagai wilayah Tiongkok dan komunitas diaspora.

Salah satu kekuatan Taoisme adalah sifatnya yang tidak selalu menuntut pemisahan tegas antara identitas filosofis, praktik ritual, dan tradisi keluarga. Seseorang dapat menjalankan sejumlah praktik yang dipengaruhi Taoisme tanpa selalu mengidentifikasi dirinya secara eksklusif sebagai penganut Taoisme.

Hal inilah yang sekaligus membuat jumlah pengikutnya sulit dihitung secara akurat.

3. Jainisme, Agama India yang Menekankan Pantang Kekerasan

Baca Juga :  KH Muhammad Saifuddin Amirin Sebut Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni, tapi Harus Diamalkan

Jainisme berasal dari India dan merupakan salah satu tradisi keagamaan tertua yang masih hidup di kawasan tersebut. Akar historisnya telah terbentuk setidaknya sejak milenium pertama sebelum Masehi, meskipun tradisi Jain menghubungkan ajarannya dengan rangkaian guru spiritual yang jauh lebih panjang.

Berbeda dengan Zoroastrianisme yang berasal dari Persia, Jainisme tumbuh dalam lingkungan keagamaan India kuno. Ajarannya mempunyai penekanan kuat pada pengendalian diri, pelepasan keterikatan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Jumlah pengikutnya sekitar 4–5 juta orang di seluruh dunia, dengan mayoritas tinggal di India.

Wilayah persebaran: India menjadi pusat utamanya. Komunitas Jain juga terdapat di Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan sejumlah negara lain melalui migrasi.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Jainisme tidak mengakui satu pendiri tunggal dalam pengertian umum. Tradisinya mengenal 24 tirthankara, yaitu guru spiritual yang menunjukkan jalan menuju pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Tokoh yang paling berpengaruh dalam pembentukan Jainisme historis adalah Mahavira, yang secara tradisional dipandang sebagai tirthankara ke-24.

Mahavira diperkirakan hidup pada abad keenam atau kelima sebelum Masehi. Ia mengajarkan pengendalian diri dan pelepasan keterikatan duniawi, serta membangun komunitas pengikut yang meneruskan ajarannya.

Tokoh-tokoh Jain sebelumnya, terutama Parshvanatha yang secara tradisional ditempatkan sebagai tirthankara ke-23, juga mempunyai kedudukan penting dalam sejarah agama tersebut.

Apa ajarannya?

Ajaran Jainisme menempatkan ahimsa, atau pantang kekerasan, sebagai prinsip utama.

Prinsip tersebut tidak hanya berkaitan dengan larangan menyakiti manusia, tetapi juga dengan penghormatan terhadap kehidupan makhluk lain. Karena itu, banyak penganut Jainisme menjalankan pola makan vegetarian dan berusaha menghindari tindakan yang menyebabkan penderitaan makhluk hidup.

Jainisme juga menekankan kejujuran, tidak mencuri, pengendalian hasrat dan pembatasan kepemilikan atau keterikatan terhadap benda duniawi.

Dalam pandangan Jain, tindakan manusia meninggalkan konsekuensi karma yang memengaruhi perjalanan jiwa. Pembebasan dicapai melalui pengendalian diri, pengetahuan yang benar, dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran moral.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Jainisme memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dari agama-agama yang menempatkan Tuhan pencipta sebagai pusat kepercayaan.

Secara umum, Jainisme tidak mengajarkan adanya satu Tuhan pencipta yang mengatur seluruh alam semesta. Alam semesta dipahami sebagai sesuatu yang tidak diciptakan oleh Tuhan dan berjalan menurut prinsip-prinsip keberadaan serta hukum karma.

Meski demikian, Jainisme bukan berarti menolak semua bentuk penghormatan religius. Para tirthankara dihormati sebagai sosok yang telah mencapai pembebasan spiritual dan menunjukkan jalan bagi makhluk lain.

Dalam tradisi Jain, jiwa yang mencapai pembebasan terbebas dari karma dan siklus kelahiran kembali. Namun, para tirthankara tidak dipahami sebagai Tuhan pencipta yang mengendalikan kehidupan manusia.

Mengapa masih bertahan?

Jainisme bertahan karena ajarannya diwariskan melalui komunitas keluarga, biara, pendidikan agama, dan praktik sehari-hari.

Prinsip pantang kekerasan juga memberikan identitas yang sangat kuat bagi penganutnya. Ajaran tersebut bukan sekadar kepercayaan abstrak, melainkan memengaruhi pilihan makanan, perilaku ekonomi, hubungan sosial, dan cara memperlakukan makhluk hidup.

Komunitas Jain di India turut menjaga kitab-kitab, tradisi perayaan, tempat suci, serta jaringan sosial yang memungkinkan ajaran itu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Meskipun jumlah pengikutnya relatif kecil, Jainisme memiliki kesinambungan sejarah yang panjang. Agama ini menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak harus memiliki jumlah penganut ratusan juta untuk mampu bertahan selama lebih dari dua milenium.

4. Shinto, Kepercayaan Asli Jepang yang Tidak Memiliki Pendiri Tunggal

Shinto merupakan tradisi keagamaan asli Jepang yang berakar pada kepercayaan masyarakat terhadap alam, roh leluhur, dan kekuatan spiritual yang diyakini hadir di berbagai tempat.

Berbeda dengan agama yang lahir melalui ajaran seorang nabi atau guru spiritual, Shinto berkembang secara bertahap dari kebiasaan dan ritual masyarakat Jepang pada masa prasejarah. Tidak ada satu tanggal pasti yang dapat ditetapkan sebagai awal berdirinya agama ini.

Akar tradisinya telah ada sejak ribuan tahun lalu, sedangkan istilah Shinto dan pembentukan identitasnya sebagai tradisi yang dibedakan dari agama-agama pendatang berkembang kemudian, terutama ketika pengaruh kebudayaan Tiongkok mulai masuk ke Jepang.

Jumlah pengikutnya, data organisasi keagamaan Jepang mencatat sekitar 86,4 juta penganut atau pengikut dalam sistem organisasi Shinto pada akhir 2024. Angka ini tidak boleh dianggap sebagai jumlah orang yang secara eksklusif memeluk Shinto karena sistem pendataan Jepang memungkinkan seseorang tercatat dalam lebih dari satu tradisi keagamaan.

Wilayah persebarannya terutama Jepang, dengan komunitas dan tempat ibadah di sejumlah negara yang memiliki diaspora Jepang.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Shinto tidak memiliki seorang pendiri tunggal. Tradisi ini tumbuh dari praktik masyarakat Jepang kuno, termasuk penghormatan terhadap alam, ritual pemurnian, pemujaan leluhur, dan upacara untuk memohon keselamatan serta hasil panen.

Dua karya penting dalam sejarah keagamaan Jepang adalah Kojiki, yang diselesaikan pada 712 Masehi, dan Nihon Shoki, yang diselesaikan pada 720 Masehi. Keduanya memuat kisah mitologis dan tradisi mengenai asal-usul Jepang serta para dewa yang menjadi bagian penting dalam perkembangan Shinto.

Karena tumbuh dari tradisi lokal, sejarah Shinto tidak dapat dijelaskan sebagai perjalanan seorang pendiri yang mengajarkan agama kepada pengikut pertamanya.

Apa ajarannya?

Shinto menekankan penghormatan kepada kami, istilah yang digunakan untuk menyebut berbagai entitas suci atau kekuatan spiritual.

Kami dapat dikaitkan dengan gunung, sungai, pohon, fenomena alam, leluhur, maupun tokoh yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Jepang.

Ritual pemurnian menjadi bagian penting dari praktik Shinto. Penganutnya dapat mengunjungi kuil, melakukan penghormatan, mengikuti festival setempat serta berdoa untuk keselamatan, kesehatan, keberuntungan dan kesejahteraan keluarga.

Shinto juga menempatkan hubungan manusia dengan komunitas, alam dan warisan leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan keagamaan.

Tidak terdapat satu kitab suci atau sistem doktrin tunggal yang mengatur seluruh praktik Shinto. Karena itu, ritual dan kepercayaan dapat berbeda antara satu kuil, komunitas dan aliran dengan yang lain.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Shinto tidak berpusat pada gagasan tentang satu Tuhan pencipta yang menjadi satu-satunya objek penghormatan.

Tradisi ini mengenal banyak kami dengan kedudukan dan karakter yang berbeda. Salah satu yang paling terkenal adalah Amaterasu, dewi matahari yang memiliki posisi penting dalam mitologi Jepang dan tradisi kekaisaran.

Namun, menyamakan seluruh kami dengan dewa dalam pengertian agama lain juga tidak sepenuhnya tepat. Istilah tersebut mencakup beragam bentuk kesakralan yang berhubungan dengan alam, leluhur, tempat dan tokoh tertentu.

Dengan demikian, konsep ketuhanan Shinto lebih tepat dipahami sebagai penghormatan terhadap beragam keberadaan suci daripada sebagai sistem monoteisme yang menempatkan satu Tuhan sebagai pusat seluruh ajaran.

Mengapa masih bertahan?

Shinto bertahan karena menjadi bagian dari identitas budaya Jepang. Tradisinya diwariskan melalui keluarga, festival tahunan, upacara di kuil dan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat.

Seseorang dapat mengunjungi kuil Shinto untuk berdoa, mengikuti ritual keluarga atau merayakan pergantian tahun tanpa harus mengidentifikasi dirinya sebagai pemeluk agama secara eksklusif.

Hubungan historis Shinto dengan kebudayaan Jepang membuatnya tetap terlihat dalam kehidupan modern, mulai dari festival desa hingga ritual di lingkungan kekaisaran.

Shinto juga memperlihatkan bahwa agama kuno tidak selalu bertahan melalui penyebaran ajaran ke wilayah lain. Sebagian mampu bertahan karena tetap menyatu dengan budaya dan kehidupan masyarakat tempat tradisi tersebut berasal.

5. Samaritanisme, Agama Kuno dengan Pengikut Kurang dari Seribu Orang

Samaritanisme merupakan tradisi keagamaan kuno yang berakar pada masyarakat Samaria di kawasan Levant, wilayah yang kini mencakup bagian dari Israel dan Palestina.

Agama ini mempunyai hubungan sejarah dengan tradisi Israel kuno, tetapi berkembang sebagai komunitas tersendiri dengan kitab suci, tempat suci dan praktik keagamaan yang berbeda dari Yudaisme arus utama.

Sejarah komunitas Samaria dapat ditelusuri setidaknya hingga milenium pertama sebelum Masehi. Namun, tanggal pasti terbentuknya Samaritanisme sebagai tradisi yang terpisah masih menjadi persoalan kajian sejarah.

Baca Juga :  Ribuan Jemaah dan Santri Padati Jalan Kauman Pekalongan, Kirab Maulid Diwarnai Bendera Palestina

Jumlah pengikutnya sekitar 800–1.000 orang menurut sejumlah perkiraan modern, meskipun jumlah yang dilaporkan sumber berbeda-beda.

Wilayah persebarannya terpusat di dua komunitas utama, yakni Holon di Israel dan kawasan Kiryat Luza di dekat Gunung Gerizim, sekitar Nablus, Palestina.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Tidak ada seorang pendiri tunggal yang secara pasti dapat disebut sebagai penyebar pertama Samaritanisme.

Penganutnya memandang diri mereka sebagai penerus tradisi Israel kuno, terutama yang berkaitan dengan keturunan suku-suku Israel di wilayah utara dan praktik keagamaan yang berpusat di Gunung Gerizim.

Sejarah pemisahan antara komunitas Samaria dan komunitas Yahudi berlangsung dalam rentang panjang. Karena sumber sejarah yang tersedia tidak selalu memberikan gambaran seragam, tidak tepat menetapkan satu tokoh atau satu tahun sebagai awal berdirinya agama ini.

Dalam perkembangannya, Gunung Gerizim menjadi pusat spiritual utama yang membedakan tradisi Samaria dari Yudaisme yang menempatkan Yerusalem sebagai pusat kesucian.

Apa ajarannya?

Samaritanisme menjadikan Taurat, khususnya lima kitab pertama dalam tradisi Alkitab, sebagai landasan utama kehidupan beragama.

Penganutnya mempertahankan praktik keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk perayaan Paskah dengan ritual pengorbanan domba di Gunung Gerizim.

Mereka juga menjalankan berbagai hari raya yang berkaitan dengan tradisi Israel kuno dan mempertahankan tradisi pembacaan teks suci dalam lingkungan komunitas.

Ketaatan pada hukum agama, perayaan bersama, serta hubungan dengan tanah dan tempat suci leluhur merupakan bagian penting dari identitas mereka.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Samaritanisme merupakan agama monoteistik. Penganutnya percaya kepada satu Tuhan yang dipahami sebagai Tuhan Israel dan sumber hukum agama mereka.

Musa menempati kedudukan sangat penting sebagai penyampai Taurat. Gunung Gerizim diyakini sebagai tempat suci yang dipilih Tuhan untuk menjadi pusat ibadah.

Pandangan ini menjadi salah satu pembeda utama antara Samaritanisme dan Yudaisme, terutama dalam persoalan lokasi tempat suci yang memiliki kedudukan tertinggi.

Meskipun keduanya memiliki akar sejarah dan sejumlah teks keagamaan yang berhubungan, Samaritanisme mempunyai tradisi penafsiran, identitas komunitas, dan praktik keagamaan tersendiri.

Mengapa masih bertahan?

Samaritanisme bertahan melalui komunitas yang sangat kecil, tetapi memiliki ikatan keagamaan dan keluarga yang kuat.

Selama berabad-abad, masyarakat Samaria mengalami penurunan jumlah penduduk akibat konflik, tekanan politik, penganiayaan dan konversi paksa. Pada awal abad ke-20, jumlah mereka pernah menyusut hingga sekitar 140 orang.

Komunitas tersebut kemudian mengalami pemulihan populasi. Meski demikian, mereka tetap menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan mempertahankan jumlah penduduk yang relatif kecil.

Perayaan keagamaan, pewarisan kitab suci, kepemimpinan imam, serta keberadaan Gunung Gerizim sebagai pusat spiritual membantu mempertahankan identitas mereka.

Samaritanisme menjadi contoh nyata bahwa agama yang sangat kecil sekalipun dapat bertahan selama berabad-abad ketika keyakinan, tradisi keluarga, dan identitas komunitas terus diwariskan.

6. Mandaeisme, Agama Timur Tengah dengan Tradisi Pembaptisan Kuno

Mandaeisme merupakan tradisi keagamaan yang berkembang di kawasan Mesopotamia, terutama wilayah Irak bagian selatan dan Iran bagian barat daya.

Agama ini memiliki tradisi ritual yang sangat khas, terutama penggunaan air mengalir dalam upacara pembaptisan dan pemurnian. Para penganutnya dikenal sebagai orang Mandaean atau Mandean.

Berbeda dengan beberapa agama yang memiliki akar ribuan tahun sebelum Masehi, bukti sejarah mengenai perkembangan Mandaeisme sebagai komunitas keagamaan tersendiri lebih jelas ditemukan pada periode akhir zaman kuno, terutama sekitar abad ketiga hingga kedelapan Masehi. Karena itu, Mandaeisme tidak tepat disebut sebagai agama yang sudah pasti berusia ribuan tahun berdasarkan bukti sejarah yang tersedia.

Jumlah pengikutnya diperkirakan puluhan ribu orang di seluruh dunia. Angka globalnya sulit dipastikan karena perpindahan penduduk dan diaspora akibat konflik di Timur Tengah.

Wilayah persebarannya Irak dan Iran merupakan pusat historisnya. Komunitas Mandaean juga terdapat di Australia, Eropa, dan Amerika Utara.

Siapa yang pertama kali menyebarkannya?

Mandaeisme tidak mempunyai satu pendiri yang riwayat kehidupannya dapat dipastikan secara historis.

Dalam tradisinya, Yohanes Pembaptis memiliki kedudukan penting sebagai salah satu nabi atau tokoh keagamaan yang dihormati. Akan tetapi, menyebutnya sebagai pendiri Mandaeisme akan menyederhanakan sejarah agama tersebut.

Hubungan antara Mandaeisme, komunitas keagamaan di Palestina dan perkembangan tradisi keagamaan Mesopotamia masih menjadi bahan penelitian. Para ahli berbeda pendapat mengenai asal-usul awal komunitas ini dan bagaimana ajarannya berkembang sebelum muncul dalam catatan sejarah yang lebih jelas.

Apa ajarannya?

Mandaeisme menekankan pengetahuan spiritual, pemurnian, dan perjalanan jiwa menuju keselamatan.

Air mengalir memiliki peranan penting dalam praktik keagamaannya. Ritual pembaptisan dilakukan sebagai bentuk pemurnian spiritual dan merupakan salah satu ciri paling menonjol dari agama tersebut.

Mandaeisme juga memiliki tradisi kitab suci, doa, ritual kematian, dan tata kependetaan yang diwariskan dalam komunitasnya.

Ajarannya memuat pembedaan antara terang dan kegelapan, jiwa dan tubuh, serta dunia spiritual dan dunia material. Namun, rincian konsep tersebut tidak selalu dapat disamakan begitu saja dengan ajaran agama lain yang menggunakan istilah serupa.

Bagaimana konsep ketuhanannya?

Mandaeisme mengenal satu realitas ilahi tertinggi yang sering disebut Hayyi Rabbi, yang dapat diterjemahkan sebagai Kehidupan Agung.

Konsep tersebut menjadi pusat kepercayaan mengenai sumber kehidupan dan alam terang. Dalam kosmologinya, terdapat pula berbagai keberadaan spiritual yang memiliki peran berbeda.

Ajaran Mandaeisme juga menggambarkan pertentangan antara terang dan kegelapan, dengan jiwa manusia dipandang memiliki hubungan dengan dunia terang dan membutuhkan keselamatan spiritual.

Dengan demikian, konsep ketuhanannya menggabungkan kepercayaan kepada realitas ilahi tertinggi dengan kosmologi yang membedakan dunia terang dan dunia material.

Mengapa masih bertahan?

Mandaeisme bertahan melalui pewarisan kitab suci, ritual pembaptisan, kepemimpinan pendeta dan tradisi keluarga.

Penggunaan bahasa liturgi serta pelaksanaan ritual yang khas membantu menjaga identitas komunitas. Namun, konflik dan ketidakstabilan politik di Irak dan Iran menyebabkan banyak Mandaean meninggalkan wilayah asalnya.

Migrasi tersebut membuat agama ini menyebar ke berbagai negara, tetapi sekaligus menimbulkan tantangan baru dalam mempertahankan kesinambungan tradisi, terutama ketika generasi muda tumbuh jauh dari komunitas asal.

Keberadaan komunitas Mandaean di luar Timur Tengah memperlihatkan bagaimana agama minoritas dapat bertahan melalui jaringan keluarga dan lembaga komunitas, bahkan setelah mengalami perpindahan geografis yang besar.

MengapaAgama-AgamaKunoBisaBertahanhinggaAbad Ke-21?

Jika diperhatikan, enam tradisi di atas mempunyai karakteristik yang sangat berbeda. Zoroastrianisme pernah berkembang di lingkungan kekaisaran besar, Taoisme menyatu dengan kebudayaan Tiongkok, Jainisme bertahan melalui disiplin spiritual yang kuat, sedangkan Shinto tumbuh bersama identitas masyarakat Jepang.

Samaritanisme dan Mandaeisme memperlihatkan bentuk ketahanan yang berbeda. Keduanya bertahan melalui komunitas kecil yang menjaga tradisi secara ketat di tengah perubahan politik dan sosial.

Ada beberapa faktor yang membantu menjelaskan mengapa agama-agama tersebut masih hidup hingga sekarang.

Pertama, pewarisan dalam keluarga dan komunitas. Agama tidak hanya bertahan melalui ajaran tertulis, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari, ritual, perayaan, dan hubungan antargenerasi.

Kedua, kemampuan menyesuaikan diri. Sejumlah tradisi dapat bertahan karena praktiknya menyesuaikan diri dengan perubahan masyarakat. Taoisme, misalnya, hadir dalam berbagai bentuk, dari pemikiran filosofis hingga ritual keagamaan.

Ketiga, hubungan dengan identitas budaya. Shinto dan Samaritanisme memperlihatkan bagaimana tempat suci, tradisi leluhur, dan identitas masyarakat dapat membantu mempertahankan agama dalam jangka panjang.

Keempat, keberadaan lembaga keagamaan. Kitab suci, pemimpin spiritual, tempat ibadah, pendidikan agama, dan perayaan rutin membantu memastikan bahwa ajaran tidak terputus ketika generasi berganti.

Kelima, keteguhan menghadapi tekanan sejarah. Beberapa komunitas mengalami penganiayaan, migrasi, atau penurunan populasi yang drastis. Kelangsungan mereka menunjukkan pentingnya solidaritas komunitas dan pewarisan tradisi dalam mempertahankan identitas keagamaan.

Namun, keberlangsungan agama tidak selalu berarti jumlah pengikutnya bertambah. Zoroastrianisme dan Samaritanisme, misalnya, tetap hidup meskipun jumlah penganutnya relatif kecil. Sebaliknya, tradisi seperti Taoisme dan Shinto memiliki pengaruh budaya yang luas, tetapi jumlah penganut aktifnya sulit dipastikan karena praktik keagamaan dapat tumpang tindih.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ribuan Jemaah Padati Puncak Maulid Kanzus Sholawat, Pesan Persatuan Menguat
Ribuan Jemaah dan Santri Padati Jalan Kauman Pekalongan, Kirab Maulid Diwarnai Bendera Palestina
Masjid-Masjid Tertua di Luar Arab Saudi, Seberapa Jauh Usianya Jika Dibandingkan dengan Sejarah Nusantara?
Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana Kembali Digelar, Tahun Ini Naik Level Jadi Wali Kota Pekalongan Cup
Beri Tausiyah Maulid dan Haul di Kota Pekalongan, Mbah Ubed Sentil Pejabat Korupsi Serta Singgung Tambang
KH Muhammad Saifuddin Amirin Sebut Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni, tapi Harus Diamalkan
Puluhan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Pekalongan, Maulid Akbar Habib Luthfi Digelar 20 September
Gerakan RRM Muncul di Tegal, Punya Relawan Rutin Bersihkan Masjid di 27 Daerah

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Bukan Hanya Agama Besar, Inilah 6 Kepercayaan Kuno yang Masih Bertahan hingga Sekarang

Minggu, 20 September 2026 - 16:49 WIB

Ribuan Jemaah Padati Puncak Maulid Kanzus Sholawat, Pesan Persatuan Menguat

Jumat, 18 September 2026 - 15:50 WIB

Ribuan Jemaah dan Santri Padati Jalan Kauman Pekalongan, Kirab Maulid Diwarnai Bendera Palestina

Kamis, 3 September 2026 - 06:10 WIB

Masjid-Masjid Tertua di Luar Arab Saudi, Seberapa Jauh Usianya Jika Dibandingkan dengan Sejarah Nusantara?

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:26 WIB

Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana Kembali Digelar, Tahun Ini Naik Level Jadi Wali Kota Pekalongan Cup

Berita Terbaru