23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026 - 15:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Petugas gabungan memadamkan api yang membakar lahan dan hutan, Rabu (9/9/26). Foto: Ilustrasi AI

Petugas gabungan memadamkan api yang membakar lahan dan hutan, Rabu (9/9/26). Foto: Ilustrasi AI

KANAL BATANGKebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai marak terjadi di Kabupaten Batang di tengah musim kemarau. Sejak awal Agustus hingga September 2026, sedikitnya 23 kejadian karhutla tercatat di sejumlah wilayah.

Meski seluruh kebakaran sejauh ini masih dalam skala relatif kecil dan berhasil dipadamkan sebelum meluas, rentetan kejadian tersebut menjadi peringatan serius. Kondisi lahan yang kering membuat api mudah menjalar, bahkan dari sumber api yang awalnya dianggap sepele.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang Wawan Nurdiansyah mengatakan, sebagian besar kebakaran yang terjadi justru dipicu aktivitas manusia, terutama kebiasaan membakar sampah.

“Dominasi penyebabnya itu membakar sampah. Dominasinya itu penyebabnya membakar sampah warga,” kata Wawan, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, potensi kebakaran semakin besar karena kondisi kemarau. Api yang ditinggalkan tanpa pengawasan dapat dengan cepat menyambar material kering di sekitarnya.

Karena itu, BPBD Batang bersama sejumlah pihak kini meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Langkah tersebut dilakukan setelah Bupati Batang menetapkan status Siaga Kekeringan.

Koordinasi melibatkan TNI-Polri, Perum Perhutani, perangkat desa, Desa Tangguh Bencana (Destana), hingga relawan di wilayah rawan kebakaran.

Kebakaran hutan ini terkadang akibat masalah atau kesalahan kecil. Setelah Pak Bupati menyatakan status Siaga Kekeringan terkait dengan juga antisipasi karhutla, kita mengadakan rapat koordinasi lintas sektor,” ujarnya.

Baca Juga :  Mobil Operasional Kopdes Merah Putih Tabrak Lansia dan 4 Motor di Batang

Salah satu kejadian yang sempat terpantau terjadi di wilayah Gerlang. Ketika titik api diketahui, petugas langsung memastikan posisi kebakaran, terutama jaraknya dari permukiman warga.

Langkah tersebut penting untuk mengetahui sejak awal apakah kebakaran berpotensi mengancam keselamatan warga.

“Contohnya kemarin pernah terjadi di Gerlang, tetapi kita selalu komunikasi, kita pantau bahwa tempat kejadiannya jauh dari pemukiman. Itu kan yang harus kita deteksi dulu, artinya ada potensi korban jiwa tidak,” jelas Wawan.

Kebakaran di Gerlang dapat ditangani dengan cepat karena personel Perhutani telah bersiaga di wilayah tersebut. Peralatan pemadam, termasuk pompa air atau alkon, juga telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan munculnya titik api.

Menurut Wawan, kesiapsiagaan tersebut membuat sejumlah kejadian karhutla tidak sampai berkembang menjadi kebakaran besar. Dalam beberapa kasus, petugas BPBD bahkan belum perlu turun langsung karena api sudah lebih dulu ditangani petugas Perhutani bersama masyarakat dan relawan setempat.

“Ada beberapa kali kejadian kebakaran hutan, tetapi dari kami tidak sampai action karena memang itu masih relatif kecil, kemudian bisa langsung ditangani oleh teman-teman Perhutani dan teman-teman yang ada di wilayah, di desa terutama,” terangnya.

Baca Juga :  Polres Batang Matangkan Strategi Humanis Jelang May Day, 530 Personel Disiagakan

Namun, BPBD tetap melihat 23 kejadian tersebut sebagai sinyal bahwa ancaman kebakaran belum berakhir.

Apalagi, kebiasaan membakar sampah masih menjadi sumber persoalan. Bara yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar aman, terutama ketika berada di sekitar rerumputan, semak, atau lahan yang kering.

Kasus di Surodadi menjadi salah satu contoh. Sisa bara dari aktivitas pembakaran yang ditinggalkan dapat kembali memicu api dan berpotensi menimbulkan kebakaran lebih besar.

“Masalahnya sering kali dari kesalahan kecil,” beber Wawan.

BPBD pun meminta masyarakat tidak membakar sampah sembarangan selama kondisi kemarau. Api yang biasanya dianggap mudah dikendalikan dapat berubah menjadi sumber kebakaran ketika berhadapan dengan lahan yang sangat kering dan angin.

“Sebenarnya kan sampah ini kalau secara perlakuannya memang sudah tidak pas kalau dibakar, apalagi di musim kemarau seperti ini,” paparnya.

BPBD Batang bersama unsur terkait kini masih menyiagakan personel untuk mengantisipasi munculnya titik-titik api baru. Masyarakat juga diminta segera melapor apabila menemukan kebakaran agar dapat ditangani sebelum merembet dan meluas.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun
1.685 Warga Batang Sudah Masuk Kerja, Pemkab Masih Kejar 1.315 Penempatan
Gringsing Disiapkan Jadi Kota Baru Penyangga Industri Batang, Ditarget Rampung 2029
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi? Warga Batang Bisa Ajukan Perubahan
74 SPPG di Batang Bentuk Paguyuban, Seragamkan Standar Menu MBG
Jembatan Sempit Jadi Biang Macet Jalur Alternatif Menuju KITB, Pelebaran Diusulkan 2027
Industri di Batang Tak Boleh Ganggu Air Petani, Pemkab Klaim Sudah Hitung Kebutuhannya
Bukan Cuma Lari, BI Tegal Bawa Pesan WANI di Industropolis Run 2026

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 15:33 WIB

23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah

Rabu, 9 September 2026 - 12:10 WIB

RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun

Selasa, 8 September 2026 - 06:35 WIB

Gringsing Disiapkan Jadi Kota Baru Penyangga Industri Batang, Ditarget Rampung 2029

Selasa, 1 September 2026 - 14:37 WIB

Data Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi? Warga Batang Bisa Ajukan Perubahan

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:48 WIB

74 SPPG di Batang Bentuk Paguyuban, Seragamkan Standar Menu MBG

Berita Terbaru