DCF 2026 Digelar, Perputaran Uang Ditarget Tembus Rp50 Miliar

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Diperkirakan perputaran uang di Dieng Culture Festival 2026 Kabupaten Banjarnegara tembus Rp50 miliar, Jumat (29/8/26). Foto: Istimewa

Diperkirakan perputaran uang di Dieng Culture Festival 2026 Kabupaten Banjarnegara tembus Rp50 miliar, Jumat (29/8/26). Foto: Istimewa

KANAL BANJARNEGARA — Keramaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tak hanya terlihat dari padatnya wisatawan di kawasan dataran tinggi Dieng. Selama festival berlangsung, uang diperkirakan mengalir hingga sekitar Rp50 miliar ke berbagai usaha warga.

Penginapan, transportasi, kuliner, perdagangan hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang ikut menikmati lonjakan aktivitas ekonomi selama festival.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto Aswin Gantina mengatakan DCF memiliki daya ungkit ekonomi yang besar. Tahun ini, ia berharap perputaran uang dari festival yang memasuki penyelenggaraan ke-16 tersebut bisa lebih tinggi dibanding capaian sebelumnya.

“Kita berharap tahun ini juga bisa lebih baik lagi,” kata Aswin saat menghadiri DCF 2026 di Dieng, Jumat (28/8/2026).

Menurut Aswin, dampak ekonomi DCF tidak hanya berasal dari transaksi di lokasi festival. Kedatangan wisatawan selama beberapa hari turut meningkatkan permintaan terhadap berbagai kebutuhan, mulai dari tempat menginap hingga makanan dan oleh-oleh.

Terlebih, DCF masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Menurut Aswin, status tersebut membuat promosi festival menjangkau wisatawan yang lebih luas, termasuk dari luar negeri.

“DCF ini merupakan 10 besar dari Karisma Event Nusantara. Karisma Event Nusantara itu tidak sembarangan, diseleksi dan dikurasi. Selain acaranya memikat dan menarik, juga ada pertimbangan bahwa dampaknya besar,” ujarnya.

Perputaran ekonomi itu juga dirasakan pelaku usaha kecil yang berjualan di sekitar kawasan Dieng. Aswin melihat keberadaan UMKM menjadi salah satu bukti bahwa manfaat festival tidak hanya berhenti pada pelaku usaha berskala besar.

“UMKM kita lihat dari titik nol Dieng tadi, sudah banyak yang berjualan dan banyak juga pengunjungnya. Nah, ini kita lihat bahwa memang DCF ini bisa menggerakkan ekonomi,” terangnya.

Baca Juga :  Dua Bocah Hilang Usai Bermain di Irigasi Banjarnegara, Tim SAR Sisir Saluran hingga Lakukan Penyelaman

Ia menilai efek ekonomi DCF cukup inklusif karena memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut mendapatkan manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

“Ini inklusif, tidak hanya yang besar-besar saja, perusahaan-perusahaan, tetapi juga mulai dari UMKM,” jelas Aswin.

Namun, di balik potensi ekonomi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara meminta agar pertumbuhan DCF tidak menghilangkan identitas utama festival sebagai perayaan budaya masyarakat Dieng.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan konsistensi Pokdarwis Pandawa mempertahankan DCF selama 16 tahun menjadi salah satu kekuatan festival tersebut.

“Yang luar biasa dari kegiatan ini adalah rekan-rekan Pokdarwis dari awal sampai dengan tahun ke-16 ini konsisten untuk mengembangkan dan memperkenalkan budaya,” tutur Amalia.

Menurut dia, budaya bukan sekadar pelengkap acara, tetapi menjadi alasan DCF tetap memiliki daya tarik dan mampu berkembang menjadi salah satu agenda wisata nasional.

Karena itu, DCF 2026 tetap menghadirkan sejumlah tradisi utama masyarakat Dieng. Salah satunya Kirab Budaya dan Ruwatan Anak Gimbal yang tahun ini melibatkan 13 anak.

Ketua Pokdarwis Pandawa sekaligus Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan seluruh rangkaian festival tahun ini mengusung tema “Spirit of Harmony”.

Tema tersebut menggambarkan hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.

“DCF bukan semata-mata festival hiburan,” kata Alif.

Ritual Ruwatan Anak Gimbal akan dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna dan diawali dengan kirab budaya. Wisatawan juga diajak mengenakan pakaian adat Nusantara sebagai bagian dari suasana budaya yang ingin dibangun.

Selain ritual anak gimbal, penyelenggara menghadirkan Kongkow Budaya yang mempertemukan tokoh masyarakat dan budayawan. Forum ini menjadi ruang untuk membicarakan kearifan lokal dan bagaimana tradisi masyarakat Dieng tetap bisa bertahan di tengah perubahan zaman.

Baca Juga :  Curhat ke Kapolres, Driver Ojol Kendal Soroti Penanganan Kecelakaan

Agenda DCF juga diperluas dengan Festival Kopi Pegunungan Dieng. Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengembangan komoditas, tetapi juga dikaitkan dengan upaya menjaga lingkungan.

Amalia mengatakan kabupaten Banjarnegara sedang mendorong identitas sebagai kabupaten konservasi. Karena itu, pengembangan kopi di kawasan pegunungan diarahkan agar sejalan dengan kepentingan menjaga lingkungan.

“Banjarnegara kami ingin menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa isu lingkungan, dan salah satunya melalui kopi,” tegasnya.

Amalia juga menilai pengembangan Dieng tidak bisa dilakukan dengan melihat batas wilayah administrasi. Kawasan dataran tinggi Dieng berada di dua kabupaten sehingga pengembangannya membutuhkan kerja sama antara Banjarnegara dan Wonosobo.

“Ketika bertanya Dieng ini milik Wonosobo atau Banjarnegara, ini milik kita bersama. Tentunya kebudayaan ini milik kita bersama, pariwisata ini milik kita bersama,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi kedua daerah terus diperkuat agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar Dieng.

“Ketika kebersamaan ini kita rawat, kita gotong royong untuk mengembangkannya, insyaallah kemanfaatannya luar biasa dirasakan oleh masyarakat di sekitar dataran tinggi Dieng,” katanya berpesan.

Dengan kombinasi budaya, pariwisata, UMKM dan isu lingkungan, DCF 2026 kembali menempatkan Dieng bukan sekadar sebagai lokasi pertunjukan. Festival yang digelar hingga memasuki tahun ke-16 ini menjadi ruang bertemunya tradisi dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi warga Dieng, semakin banyak wisatawan yang datang berarti semakin besar pula peluang usaha yang terbuka. Namun pada saat yang sama, identitas budaya dan kelestarian alam menjadi dua hal yang harus tetap dijaga agar geliat pariwisata tidak kehilangan akar.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belasan Peserta Titip Ternak Klaim Rugi Rp1,7 Miliar, Kasus PT SPI Dilaporkan ke Polisi
Wali Kota Pekalongan di Mayors Talk Bogor: Kota Tangguh Bermula dari Integritas Moral Pemimpin
Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal
SPTI Tolak Demo di KEK Kendal: Jangan Ganggu Investasi dan Rezeki Warga
Sewa Kios Pasar Mukti Makmur Cilacap Dipersoalkan, Pedagang Soroti Tarif hingga Dasar Penetapan
Pemuda Depresi Naik Menara BTS di Cilacap, Tim SAR Bujuk Pakai Rokok dan Makanan
Sehari Usai Disidak, Pabrik Bata Ringan di Banyumas Kembali Produksi
Rafas, Atlet Cilik Banjarnegara Bidik Timnas Usai Sabet Emas Tenis POPDA Jateng

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Belasan Peserta Titip Ternak Klaim Rugi Rp1,7 Miliar, Kasus PT SPI Dilaporkan ke Polisi

Senin, 28 September 2026 - 17:20 WIB

Wali Kota Pekalongan di Mayors Talk Bogor: Kota Tangguh Bermula dari Integritas Moral Pemimpin

Sabtu, 26 September 2026 - 18:39 WIB

Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal

Jumat, 18 September 2026 - 07:34 WIB

SPTI Tolak Demo di KEK Kendal: Jangan Ganggu Investasi dan Rezeki Warga

Selasa, 15 September 2026 - 06:10 WIB

Sewa Kios Pasar Mukti Makmur Cilacap Dipersoalkan, Pedagang Soroti Tarif hingga Dasar Penetapan

Berita Terbaru