KANAL BANJARNEGARA — Satu klik pada tautan yang salah bisa menjadi awal hilangnya data pribadi hingga uang di rekening. Karena itu, Bank Indonesia (BI) mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung mengikuti instruksi yang datang melalui SMS, telepon, maupun pesan digital ketika sumbernya tidak jelas.
Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto Aswin Gantina meminta masyarakat membiasakan diri berhenti sejenak ketika menerima komunikasi yang mencurigakan.
“Kalau ragu, setop dulu,” kata Aswin saat menyampaikan kampanye PeKA atau Peduli, Kenali dan Adukan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (30/8/2026).
Menurut Aswin, modus penipuan digital kini tidak lagi sekadar menawarkan hadiah melalui pesan singkat. Pelaku dapat membuat situs palsu yang menyerupai laman resmi, mengirim tautan untuk memancing korban, hingga menelepon dengan mengaku sebagai petugas bank.
Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah pesan yang mengabarkan seseorang mendapatkan hadiah dan kemudian meminta penerima membuka tautan tertentu.
“Kalau ada SMS mencurigakan, kalau ragu, setop dulu. Ada SMS seperti, ‘Bapak dapat hadiah, menang. Tolong klik link ini’, setop dulu,” ujarnya.
Pelaku juga bisa menggunakan teknik phishing untuk mendapatkan data korban. Dalam modus lainnya, mereka memanfaatkan social engineering dengan membangun komunikasi seolah-olah berasal dari customer service bank.
Korban kemudian diarahkan mengikuti sejumlah instruksi, termasuk memberikan informasi rahasia seperti kode OTP.
“Jadi kita ingin masyarakat itu kenal bentuk-bentuk penipuan. Ada website yang menyerupai, ada juga OTP kalau ditelepon, social engineering, ditelepon pura-pura CS bank,” kata Aswin.
Ia mengatakan perkembangan teknologi memang membuat transaksi keuangan jauh lebih mudah. Masyarakat kini dapat membayar maupun mentransfer uang menggunakan berbagai layanan digital, termasuk QRIS dan virtual account.
Namun, kemudahan tersebut juga diikuti munculnya risiko baru. Pelaku penipuan memanfaatkan kebiasaan masyarakat yang semakin bergantung pada layanan digital untuk menjalankan aksinya.
“Sekarang transaksi keuangan itu perlu hati-hati. Transaksi banyak sekali didukung teknologi. Mau transfer, mau bayar, itu pakai QRIS, pakai virtual account,” terangnya.
Karena itu, Aswin meminta masyarakat tidak terburu-buru merespons pesan atau telepon yang meminta tindakan tertentu, terutama jika disertai iming-iming hadiah, keuntungan, atau permintaan data pribadi.
Menurut dia, mengenali pola penipuan menjadi pertahanan pertama sebelum masyarakat mengalami kerugian.
Namun, kewaspadaan tidak berhenti pada upaya mengenali modus. Jika menemukan atau mengalami transaksi mencurigakan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait, termasuk BI atau bank yang digunakan.
“Yang penting masyarakat kenal bentuk penipuannya dan jangan takut untuk mengadukan,” tegasnya.
Edukasi tersebut disampaikan BI di tengah semakin luasnya penggunaan transaksi digital dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye PeKA menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DCF 2026 yang berlangsung di kawasan wisata Dieng.
Pengunjung dan pelaku UMKM di kawasan wisata juga menjadi bagian dari sasaran edukasi karena transaksi digital kini semakin banyak digunakan untuk pembayaran.
Salah seorang pengunjung DCF, Awaldian, menilai edukasi mengenai keamanan transaksi digital penting disampaikan kepada masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memahami cara menggunakan QRIS, transfer, atau layanan perbankan digital. Pengguna juga harus mengetahui bagaimana mengenali komunikasi yang berpotensi menjadi penipuan.
Pesan BI pun sederhana: jangan terburu-buru, periksa kembali informasi yang diterima, dan jangan memberikan data rahasia kepada pihak yang tidak jelas.
“Jika masih ragu, setop dulu sebelum mengeklik atau mengikuti instruksi apa pun,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













