Empat Tahun Menjanda dan Menduda, Kakek Jaini dan Nenek Turiah Temukan Cinta Kedua di Nikah Massal Kemenag RI

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sebanyak 20 pasangan mempelai pengantin usai menjalani prosesi pernikahan Bimas Islam Mantu yang menjadi program nasional nikah massal dari Kementerian Agama RI dikirab menggunakan kereta kuda hias mengelilingi alun-alun Kabupaten Pemalang, Jumat (26/6/26).

Sebanyak 20 pasangan mempelai pengantin usai menjalani prosesi pernikahan Bimas Islam Mantu yang menjadi program nasional nikah massal dari Kementerian Agama RI dikirab menggunakan kereta kuda hias mengelilingi alun-alun Kabupaten Pemalang, Jumat (26/6/26).

PEMALANG, KANALPLUS.ID – Tidak semua kisah cinta hadir di usia muda. Bagi Jaini (70) dan Turiah (66), kebahagiaan justru datang ketika rambut mereka mulai memutih. Setelah sama-sama kehilangan pasangan hidup empat tahun lalu, keduanya akhirnya mengikat janji suci sebagai pasangan tertua dalam program nikah massal Kementerian Agama (Kemenag) RI yang digelar di Kantor Kemenag Kabupaten Pemalang.

Di tengah puluhan pasangan yang mengikuti program nasional tersebut, Jaini dan Turiah menjadi bukti bahwa cinta tidak mengenal batas usia.

Jaini, seorang petani bunga melati asal Kecamatan Ulujami, mengaku keputusannya menikah lagi bukan karena ingin mengulang masa muda. Yang ia cari hanyalah seseorang untuk berbagi kehidupan di masa tua.

“Ya biar ada teman. Saling pengertian. Kalau saya ada apa-apa dibantu istri, kalau istri ada apa-apa ya saya membantu,” ujarnya dengan senyum lebar kepada kanalplus.id, Jumat (26/6/2026).

Empat tahun sejak istrinya meninggal dunia, hari-hari Jaini dihabiskan bekerja merawat kebun melati. Dari aktivitas itulah ia kerap bertemu Turiah yang menjadi buruh petik melati di kebunnya.

Baca Juga :  Sok Sangar Todongkan Pistol Mainan, Perampok di Pemalang Gagal Gasak Toko Emas dan Berakhir jadi Pesakitan

Hubungan mereka berawal dari pertemuan sederhana antara pemilik kebun dan sebagai  tetangga.

“Kami ini setiap hari ketemu,” kata Jaini antusias.

Tak ada kisah romantis layaknya anak muda. Setelah merasa cocok, Jaini memberanikan diri mengutarakan niatnya secara langsung.

“Menikah sama saya mau enggak?” begitu kalimat sederhana yang ia sampaikan kepada Turiah.

Pendekatan mereka berlangsung sekitar dua bulan sebelum akhirnya sepakat melangkah ke pelaminan.

Di sisi lain, Turiah yang juga telah empat tahun menjanda mengaku sempat ragu menerima ajakan tersebut. Apalagi pada awalnya anak-anaknya belum sepenuhnya setuju.

Namun seiring waktu, keluarga akhirnya memahami bahwa orang tua mereka juga berhak kembali merasakan kebahagiaan.

“Ya biar ada yang ngurus, enggak sendirian,” tutur perempuan yang masih memiliki sisa kecantikan tersebut.

Turiah memiliki tiga anak dan lima cucu. Sementara Jaini dikaruniai empat anak serta lima cucu. Seluruh anak mereka kini telah mandiri dan akhirnya memberikan restu atas keputusan kedua orang tuanya untuk menikah kembali.

Menurut Turiah, kedekatan mereka tumbuh secara alami karena hampir setiap hari bertemu. Pekerjaan Turiah membantu memetik bunga melati di kebun milik Jaini hingga komunikasi keduanya semakin intens.

Baca Juga :  Kekeringan, Warga Pulosari Pemalang Rogoh Rp500 Ribu demi Bisa Minum dan Mandi

Tak ada pacaran, tak ada makan malam mewah, apalagi hadiah istimewa. Yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama pernah kehilangan pasangan hidup, lalu saling menemukan tempat untuk berbagi cerita di usia senja.

Momen akad nikah mereka menjadi salah satu kisah paling menyentuh dalam program nikah massal yang digelar Kementerian Agama RI di Kabupaten Pemalang.

Program tersebut merupakan bagian dari kebijakan nasional Kementerian Agama untuk membantu masyarakat yang memenuhi syarat menikah namun terkendala biaya. Seluruh proses pencatatan pernikahan hingga administrasi kependudukan difasilitasi secara gratis oleh negara.

Bagi Jaini dan Turiah, program itu bukan sekadar menghemat biaya pernikahan. Lebih dari itu, menjadi awal kehidupan baru setelah bertahun-tahun menjalani hari seorang diri.

Di usia 70 dan 66 tahun, keduanya membuktikan bahwa kebahagiaan tidak mengenal kata terlambat. Sebab, pada akhirnya, setiap orang hanya ingin memiliki seseorang yang bisa diajak pulang, berbagi cerita dan saling menggenggam tangan hingga penghujung usia.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bilik Liar Kembali Bermunculan di Pantai Cemoro Sewu, Satpol PP Pemalang Temukan Kondom dan Pasangan Bukan Suami Istri
Antisipasi Gagal Panen, Jateng Siapkan Perlindungan untuk 10.000 Hektare Sawah
Pemprov Jateng Siapkan Rp147,6 Miliar untuk Pertanian, Pemalang Kebagian Rp5,24 Miliar
Harga Gabah Pemalang Tembus Rp8.500/Kg, Tapi Sawah Terus Menyusut
Jaga Produksi Padi Pemalang, Ahmad Luthfi Bantu 200 Pompa dan 13 Paket Irigasi
Jateng Sumbang 15,6 Persen Gabah Nasional, Ahmad Luthfi Ingatkan Sawah Jangan Beralih Fungsi
Temuan Benda Mirip Belatung, MBG di SMA Negeri 1 Belik Pemalang Dihentikan Sementara
Ogoh-ogoh Mirip Bupati Pemalang Nonaktif Diubah, Camat Pulosari Bantah Melarang

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:40 WIB

Bilik Liar Kembali Bermunculan di Pantai Cemoro Sewu, Satpol PP Pemalang Temukan Kondom dan Pasangan Bukan Suami Istri

Kamis, 3 September 2026 - 11:48 WIB

Antisipasi Gagal Panen, Jateng Siapkan Perlindungan untuk 10.000 Hektare Sawah

Kamis, 3 September 2026 - 11:22 WIB

Pemprov Jateng Siapkan Rp147,6 Miliar untuk Pertanian, Pemalang Kebagian Rp5,24 Miliar

Kamis, 3 September 2026 - 10:57 WIB

Harga Gabah Pemalang Tembus Rp8.500/Kg, Tapi Sawah Terus Menyusut

Kamis, 3 September 2026 - 10:32 WIB

Jaga Produksi Padi Pemalang, Ahmad Luthfi Bantu 200 Pompa dan 13 Paket Irigasi

Berita Terbaru

Petugas bersama warga berada di lokasi kejadian perempuan yang meninggal dunia setelah tertemper KA Jayabaya di jalur rel wilayah Sragi, Kabupaten Pekalongan, Senin (2/11/2026) dini hari. (Foto: dok istimewa/AI)

Peristiwa

Nenek di Pekalongan Tewas Tertemper KA Jayabaya

Senin, 2 Nov 2026 - 10:24 WIB