PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Satu per satu destinasi wisata di Kabupaten Pekalongan mulai kehilangan napas. Sejumlah objek wisata yang dikelola kelompok sadar wisata (Pokdarwis) bahkan sudah memilih tutup karena sepi pengunjung. Kondisi serupa kini juga dialami objek wisata legendaris Linggo Asri yang mengalami penurunan kunjungan hingga 50 persen sejak pandemi COVID-19.
Kepala UPT Pengelola Objek Wisata Linggo Asri, Hari Purnomo, mengakui sektor pariwisata di Kabupaten Pekalongan sedang menghadapi masa sulit. Menurutnya, hampir seluruh destinasi mengalami penurunan jumlah wisatawan yang cukup drastis.
“Bahkan sudah ada beberapa tempat wisata yang tutup. Teman-teman Pokdarwis banyak yang mengalami kondisi serupa,” ujarnya kepada kanalplus.id, Sabtu (13/6/2026).
Beberapa destinasi seperti Sigong dan wisata di Lemahabang sempat berhenti beroperasi. Di kawasan Petungkriyono, sejumlah objek wisata juga dikabarkan tidak lagi beroperasi karena minimnya kunjungan.
Linggo Asri yang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Pekalongan sejak dibuka pada 1986 pun tak luput dari tekanan tersebut.
Hari menyebut, sebelum pandemi, tepatnya pada 2019, Linggo Asri berada di masa kejayaannya dengan capaian kunjungan mencapai 147 persen dari target yang ditetapkan. Namun kini, jumlah pengunjung diperkirakan turun hingga 50 persen bahkan lebih.
“Sejak tahun 2020, sejak COVID, tingkat kunjungan selalu menurun terus sampai sekarang,” katanya.
Menurutnya, lesunya ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat berwisata. Namun persoalan tidak berhenti di situ. Persaingan tren wisata yang berubah cepat membuat pengelola harus terus melakukan pembaruan fasilitas dengan biaya yang tidak sedikit.
“Tren pariwisata sekarang berubah sangat cepat. Sarana dan prasarana harus selalu diperbarui, sementara pengembangannya tidak murah,” jelasnya.
Ia menepis anggapan bahwa sepinya wisatawan disebabkan harga tiket masuk yang mahal atau tarif makanan di lokasi wisata yang tidak wajar.
Menurut Hari, hampir seluruh objek wisata di Kabupaten Pekalongan mematok tiket yang relatif murah, berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000. Di Linggo Asri sendiri, tarif masuk hari biasa hanya Rp7.500, hari libur Rp10.000, sedangkan anak-anak Rp5.000 dengan tarif parkir roda dua Rp2.000 dan roda empat Rp5.000.
Pengelola juga rutin memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM agar menjaga kebersihan serta tidak menaikkan harga secara berlebihan. Namun dampak penurunan kunjungan sudah terasa hingga ke para pedagang.
Dari sekitar 30 pedagang yang sebelumnya mencari nafkah di kawasan Linggo Asri, kini hanya sekitar 10 yang masih bertahan. Itupun tidak tiap hari membuka usaha, terkadang hanya buka di akhir pekan.
“Jadi kondisi para pedagang juga sama sepi, kasihan sekali mereka,” ujar Hari.
Di tengah kondisi tersebut, Linggo Asri juga kehilangan salah satu daya tarik utamanya, yakni dua gajah jinak bernama Dio dan Sinta yang selama bertahun-tahun menjadi ikon wisata edukasi.
Kedua satwa itu dipindahkan pada 2024 karena persoalan perizinan. Menurut Hari, kondisi gajah sebenarnya sehat dan terawat, namun kawasan Linggo Asri dinilai belum memenuhi persyaratan untuk memelihara satwa liar sesuai ketentuan Kementerian Kehutanan.
Sebagai upaya bertahan, pengelola mulai menghadirkan taman edukasi berupa taman kelinci, area domba, serta playground yang masih dalam tahap penyempurnaan. Tahun ini, mereka juga mengusulkan pembangunan kawasan glamping yang dinilai masih menjadi tren wisata di Kabupaten Pekalongan.
Selain pembaruan fasilitas, Hari berharap ada dukungan nyata untuk menghidupkan kembali pariwisata lokal, salah satunya melalui imbauan kepada sekolah-sekolah agar kegiatan study tour, outing class, maupun pembelajaran luar ruang lebih memanfaatkan destinasi wisata di Kabupaten Pekalongan.
“Mudah-mudahan dengan himbauan itu bisa mengangkat kembali pariwisata Kabupaten Pekalongan sehingga anak-anak lebih mencintai wisata daerahnya sendiri daripada keluar daerah,” tutupnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









